Membayangkan Film Favorit
Akan kukatakan apapun demi melihat kau datang. Setelah itu kau hilang. Dan aku mencarimu di mana-mana. Sesederhana itu
Besok atau lusa. Kau membaca surat kabar pagi di beranda saat sedang cuti bekerja; seseorang entah siapa tiba-tiba mampu menjadi kemacetan terkutuk di kotamu. Pria itu mengaku mengenal punggung dan pucuk hidungmu. Ia pernah menjadi lengan saat kau merasa capai atau ketika jam kerja tidak membiarkanmu usai
Aku bisa menemukanmu seperti gelaran musik dalam karnaval yang kau kunjungi pekan lalu. Kau seringkali hendak pergi ke tempat yang kau kira mampu menghapus nama seseorang di dadamu
Kadang-kadang kau inginkan ada hari diam. Orang-orang bicara tapi tidak berkata apa-apa. Seperti saat kau menonton film favoritmu dengan telinga tersumbat. Kau butuhkan hal-hal sendiri dan kopi segelas lagi
Dalam benakmu yang pemalu tetapi tidak pandai merahasiakan apapun dariku, kau selalu ingin menemuiku. Berbincang tentang banyak perihal. Dan dalam waktu-waktu diam ini, telingaku cuma dan hanya ingin menyentuh suara milikmu. Di luar itu, kesedihan adalah penyanyi yang pura-pura merdu dan aku tetap menyumbat telinga sambil kubayangkan kau sebagai film favoritku. -
21.01.17
Pict by: Sarah Wilkerson
