Seharusnya aku katakan kepadamu, tapi tidak.. Aku bukannya pengecut. Aku merasa tidak.. Hanya karena~…. Hhmp bukannya terkadang ada sesuatu yang ketika ditanya, jawabannya sesuatu seperti itu.. Aku bukan orang yang logis, harap maklum.. Oke kembali ke topik “seharusnya aku katakan padamu”. Pertama, aku membencimu. Hmm sebenarnya sikapmu.. Datang hanya saat butuh, manis saat perlu. Selebihnya, tanggapanmu terhadapku bergantung suasana hatimu. Sementara aku, hhhfft perlu kusebutkan?!.. Bahkan sesibuk apapun kau tetap kulayani dengan baik bukan?! Kedua, aku tidak suka padamu.. Pada kekhawatiran berlebihanmu.. Pusing akan semua hal, yang sebenarnya sederhana. Cemas akan semua hal, takut, dan aahhh selalu mendahului nasib.. Ayolah hidup memang berat, tapi tidak sepelik itu. Dan ada Tuhan (di mana-mana).. Dan terakhir, kenapa selalu aku?! Aku yang selalu lebih antusias, aku yang menjadi satu-satunya yang ingat, aku yang lebih peka, selalu aku yang mulai duluan, memperbaiki suasana, dan sebagainya, dan sebagainya,, selalu seperti itu.. Aku bukannya tidak punya kerjaan lain yah, harap diingat.. Hanya saja aku tidak suka mengabaikan, jadi mencoba tidak mengabaikan.. Aku tidak suka ditanggapi seadanya, jadi mencoba tidak menanggapi seadanya.. Kali ini alasan ku logis bukan?! Jadi kenapa selalu aku? Aku tidak mengatakan sayangku lebih besar.. Oh tidak tidak… Aku tau kaupun menyayangiku.. Mungkin teramat sayang.. Tapi bukannya sayang itu seharusnya ditunjukkan secara lisan, tulisan, dan perbuatan?! Bukan hanya di hati.. Jadi kenapa (aku merasa) selalu aku??

Oke, seharusnya aku mengatakannya, langsung.. Hanya saja karena aku takut berubah canggung jadi aku tuliskan saja yah.. mana tau kau membacanya dan berbaik hati menjawabnya. err maksudnya menanggapinya~~

Like what you read? Give E K A a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.