Kita mulai dari kompor gas. Bukan yang kotak, melainkan yang bulat. Tak ada selang berkulit logam sebab lubang masukan gas di dasar kompor itu langsung dipasangkan ke mulut tabung. Artinya, api kebiruan tersembur kencang hanya beberapa sentimeter di atas meteran. Nampak ringkas sekaligus mengkhawatirkan.

Dan kita tak pernah benar-benar khawatir tentang si kompor, si tabung, si api, ataupun si gas. Kita khawatir pada keselamatan diri sendiri. Tepatnya bukan keselamatan, namun kemungkinan yang terjadi jika mekanisme pengamanan kompor gas itu tidak bekerja dengan baik. Tentang kebakaran, tentang ledakan, luka bakar, juga nyeri.

Lalu kita kembali ke kompor gas. Alat yang memampukan kita membuat kopi setiap pagi, atau merebus mie. Putar, klik, nyala. Putar, klik, padam. Begitu instannya!

Yang memudahkan juga bisa mencelakakan. Yang aman dengan gampang memicu imajinasi tentang proses kematian. Bukan si kompor yang keliru — pembuatnya pun sudah berhitung benar.

Pilihan kita untuk bermain timbangan resiko dan hasil, itu yang asyik dan layak untuk terus menerus dialami.