Mengapa Menulis itu Sulit — pakek be’ud pulak

Seorang kawan yang berprofesi sebagai fisioterapis (tukang betulin otot dan sendi) cuma bengong saat saya bilang, “Kamu beruntung.” Sembari garuk-garuk kepala dia setengah nyengir, “Mm… Maksudnya, Oom?”

Ya, dia punya jawaban yang simpel, tanpa perlu mikir, dan pasti benar. Jawaban atas pertanyaan fisolopis eksistensial yang bunyinya, “Mengapa kamu melakukan apa yang kamu lakukan?” — atau dalam bahasa ibu saya, why you do what you do?.

“Ya karena ada orang yang keseleo, Oom. Jatuh mungkin, kepeleset, atau…”

“Yak, stop!” potong saya.

Dia selalu benar sejak dalam kandungan. Maksud saya, bahkan orang yang sama sekali belum pernah bertemu dengannya pun akan mampu menjawab dengan kalimat yang persis sama jika ditanya mengapa si tukang urut mempraktekkan jurus-jurus pengurutan.

Sesimpel itu dan segamblang itu. Karena X maka Y. Karena orang butuh A maka saya melakukan B. Orangnya senang, saya senang, udah. Walaupun tak jarang begitu pasiennya sembuh, giliran dukunnya yang KO. Lemes, kecapekan, sampai pingsan (baca: tidur pulas) berjam-jam. Yah, resiko kan. Resiko yang worth it lah

Nah, masalahnya sekarang adalaaah….

“Mengapa you — ya, kamu yang lagi baca tulisan ini — menulis?”

“Mm… Sebentar saya cari bahan dulu, kumpul-kumpul reperensi, terus saya ketik, ntar kalau sudah beres saya imel-kan,” jeda senyum sejenak, “Atau langsung di-publish ke Medium aja ya? Biar semua ngerti, nggak nanya-nanya lagi. Habis, capek guweh kalau musti menjelaskan ke orang satu per satu.”

Baeklah… Kamu bisa menuliskan alasan, motivasi, visi misi, panggilan hati, kegelisahan transendental, dan blablabla sepanjang 5000 kata demi mempleidoi laku kepenulisanmu. Dan wateper argumen yang akan kamu timur-selatan-barat-dan-utarakan kepada pembaca, saya yakin itu pasti benar. Atau minimal ada benarnya walaupun maksa sikit-sikit ndak ape lah

So, kira-kira bisakah manusia-manusia yang berseliweran di sekitarmu itu memberikan jawaban yang kira-kira sama tanpa membaca berkas pembelaanmu terlebih dahulu? Kalau ada satu dua yang nyerempet lantaran sudah pernah kamu bisiki, itu didiskualifikasikan dari hitungan lho ya…

Tetangga RW sebelah, polisi yang mangkal di perlimaan, pilot yang ngantri tiket tuentiwan, atau random person lainnya, seberapa besarkah kemungkinan mereka untuk memberikan jawaban yang sama jika ada yang menanyakan alasan mengapa si [selipkan namamu di sini] menulis?

Ada gambaran berapa persen probabilitasnya?

Ndak ada?

Oh, ada?

Yakin segitu? Ndak nambah? Yakin?

Naaaah… itulah maksud saya mengapa menulis itu sulit (pakek be’ud)!

Tidak semua orang bisa mengerti, memahami, memaklumi, dan selanjutnya menghargai betapa kerja penulisan yang pernah-sedang-akan kamu lakukan itu mulia adanya! Namun demikian, mereka semua sangat menyadari betul dan bermufakat mengenai satu hal: apa nggak ada pekerjaan lain yang lebih pasti penghasilannya dan dapat jatah pensiunan? Sudah pernah ndaftar CPNS belum? Pekerjaan di KTP-nya apa? Wiraswasta?

Untuk mempersingkat ceramah hari ini, saya akan sedikit mencuri jurus bukan-bukan-nya Oom Gus Muh.

Jadi, menulis itu sulit bukan karena teknik, bahan, atau alat. Bukan gara-gara waktu, kecerdasan, ataupun bulsit-bulsit lainnya yang sering diajukan sebagai latar belakang masalah oleh para alayers (penerus tongkat estafet perjuangan bangsa) yang justru tiap 30 detik apdet status di fesbuk, watsap, BBM, Twitter, dan medionarsisorgasmus lainnya. Bukan!

Menulis itu sebentuk aktivitas asketik-akrobatik yang dapat membangkitkan gejala pusing pala babi lantaran saudara-saudara sebangsa dan setanah water kita ini sejak diniyah sampai bau tanah kurang hobi mengapresiasi teks, titik!

Video? Okeei! MP3? Boleh! Gambar/foto lucu? Mau mau mau! Teks (terutama yang agak panjang)? Hueeekk srupuuut

Maka padamlah syahwat menulis (sebagian besar dari) kita.

Boro-boro nulis, Oom… Ini aja masih bete gara-gara beli tongsis baru ternyata tombolnya gak bisa nyala. Kampret, dah…!!”