Menulis untuk Menulis

Menulis untuk uang (baca: bayaran) itu baik. Apalagi jika uang yang diperoleh kemudian ditukar dengan makanan untuk mulut yang lapar, obat untuk yang sakit, atau buku untuk yang miskin pengetahuan.

Menulis untuk pujian (baca: pengakuan) itu sangat baik. Terutama jika laku itu dibandingkan dengan metode caper lainnya seperti teriak-teriak melalui toa, berpakaian trendi sesuai tradisi asing, sambil mengutuki nasib sesama yang kebetulan berbeda ideologi dengan kita.

Menulis itu kerja mulia. Ia mengekalkan gagasan dan peristiwa demi melawan lupa yang kerap disengaja. Tentu saja kita mesti bersepakat bahwa tulisan yang menyembunyikan atau memutarbalikkan fakta adalah bukti bahwa pena (baca: papan tuts) memuat ancaman yang serupa dengan pedang bermata ganda.

Menulis, sebuah laku yang punya rupa-rupa fungsi, bermacam motivasi, juga berbagai stilisasi ini, layak untuk sesekali kita hadiahi dengan suatu perayaan rekreasi, yakni: menulis untuk menulis.

Mari terus menulis. Biar yang bodoh jadi sedikit lebih mengerti. Yang pintar tercegah dari bahaya lupa diri. Yang sudah rajin menulis tapi masih belum laku (baca: miskin pembaca) tak lantas malu sehingga kehilangan semangat untuk maju.

Ayo maju, maju! Jangan malu-malu. Menulis sampai payu!

Like what you read? Give Eka Y Saputra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.