Tentang Bitcoin: demokratisasi(?) modal di mata warga dunia ketiga

Benarkah dengan seluruh kecanggihan teknologi informasi ini tak ada kesengsaraan massal manusia, yang luput dari pengetahuan kita? — Cak Nun

Dalam esai Sinar Cemerlang, Cak Nun memaparkan serangkaian data yang tidak menarik bagi siapa pun, kecuali mereka yang otaknya gatal (dan barangkali frustasi) saat mencoba memahami ragam fenomena yang disiarkan oleh media massa hari-hari ini.

Betapa pun besar kekaguman saya pada Yang Mulia Satoshi Nakamoto yang ternyata ngekos di Bali, tetap hati ini galau meraba arah tren kriptokurensi.

Apakah memang tujuannya mulia: untuk mencabut kuasa manipulasi nilai mata uang dari para penguasa dan menghaturkannya ke tangan akar rumput?

Atau sekedar modus baru skema piramid dengan memperdaya semua lapisan warga era internet — dari awam hingga “pakar IT” — melalui kegaiban dan kekinian teknologi blockchain?

Susah barang tentu saya pernah dan masih terus bermimpi punya deposito Bitcoin, yang konon dari waktu ke waktu selalu profitable beyond every capitalists’ dream.

Bahwasanya membeli kepingan satoshi saya belum berani, itu adalah dusta. Sebenar-benarnya, saya tidak mampu, kecuali suatu saat dewan pengurus surga menganugerahkan kemenangan togel bagi saya.

Meskipun begitu, bukan hanya sekali saya menasihati kawan-kawan seperjuangan (baca: kaum buruh IT marjinal) agar saat ini berpuasa menahan diri untuk tidak kulakan koinbit, kecuali punya rekening nganggur minimal sebesar 500 juta perak — yang diikhlaskan menguap tanpa jejak kalau-kalau suatu ketika gelembung tren ini pecah.

Anda bisa saja berpetuah: memang begitu nature-nya investasi, kalau takut rugi ya nggak akan pernah ada peluang menangguk laba tinggi.

Saya akan langsung bersetuju, sepakat tanpa syarat soal itu. Tapi… Lha ini, tapinya ini yang nggak enak:

Menanam investasi pada perusahaan, baik UKM maupun korporat, jelas merupakan salah satu upaya melumasi roda gigi ekonomi. Setidak-tidaknya, nyumbang dana untuk gaji mbak2 dan mas2 karyawan AnuMaret atau PT. IndoAnu atau apa pun bentuk dan bidang industrinya.

Sedangkan investasi ke segala bentuk AnuCoin, apa efeknya buat dunia? Membantu riset teknologi? Memajukan pengumpulan dan analisis data global? Atau apa?

Beberapa bulan lalu saya pernah dengar partai anu bagi-bagi gerobak ke pedagang kakilima. Meskipun saya golongan warga negara yang sangat bisa diragukan nasionalismenya akibat belum pernah sekali pun nyoblos di pemilu, tapi tanpa bermaksud meng-endorse partai itu (sumpah!), kok saya merasa kampanye populis mereka itu jauh lebih bermutu daripada dengan bangga mengklaim sebagai pegiat kriptokurensi Indonesia, ya?

Terakhir, mungkin perlu saya tegaskan: saya bukan antikriptokurensi, bukan anti kemajuan teknologi, bukan anti penyediaan alternatif model ekonomi. Saya cuma mau mengulang pertanyaan Cak Nun di bagian awal tulisan ini:

Benarkah dengan seluruh kecanggihan teknologi informasi ini tak ada kesengsaraan massal manusia, yang luput dari pengetahuan kita?