the reason behind me-writing..

sebagai ibu (cieelah serius amat 😂) saya melalukan banyaaak sekaaaliii kesalahan.. saya sempat berada di satu titik dimana saya malu punya anak seperti Zuhara, yg saat itu perilakunya disrespecting terhadap orang di sekitarnya.

saya sadar itu kesalahan saya dan itu dikuatkan saat sampai pada suatu ketika saya ikut seminar filosofi Montessori di sekolah Aluna (thanks mba Dini Swastiana buat infonya!) dan membaca sebuah kutipan kata-kata Maria Montessori, “because disrespect is learned behavior”

darimana Zuhara belajar ? ya dari saya, ibunya.

sedih sekali ketika itu, saya bingung.. bagaimana harus memperbaikinya? saya butuh bantuan. akhirnya saya menyekolahkan anak saya di Harmony Montessori, yang pengurusnya adalah guru saya waktu belajar Montessori di Sekolah Aluna (mba Vidya Paramita). sejak Zuhara sekolah, saya jadi banyak belajar bagaimana berinteraksi secara respectful kepada Zuhara (hello, interaksi aja mesti belajar?! trust me i was that bad) terus ini yg sekolah anaknya apa ibunya ya? hahaha..

saat bersamaan sayapun mendaftar utk ikut workshop Enlightening Parenting (lagi2 infonya dari mba Dini) bersama mba Okina Fitriani, di workshop yg hanya 2 hari itu saya (dan suami) banyaaakkk sekali belajar menjadi orangtua yg lebih baik untuk Zuhara..

saya bersyukur sekali dan beruntung sekali karena Allah masih mau membantu dan membimbing saya utk jadi orangtua (semoga) yang baik.. that’s why saya ingin berbagi dan ingin bermanfaat utk orang lain, supaya makin banyak orangtua yg respect kepada anaknya, supaya makin banyak orangtua yg mengerti apa yg dirasakan anaknya, supaya makin banyak orangtua yg tidak melakukan kesalahan yg sama seperti yg saya lakukan..

apa yg saya tulis ke depannya akan berupa pengalaman saya bersama Zuhara (dan suami mungkin sedikit hahaha!) yg berbekal sedikit pengetahuan ttg filosofi Montessori & Enlightening Parenting..

disclaimer : karena ini berasal dari pengalaman, beberapa hal mungkin akan berbeda aplikasinya di setiap keluarga, jadi.. diambil yg baiknya aja ya.. selamat membaca! 😁

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.