why you MUST know the philosophy?!

kemarin waktu seminar filosofi montessori di bandung saya sempet sharing, kenapasih perlu ngerti filosofi montessori? apa pengaruhnya buat saya?

wah. kalau mau sharing lengkap kayanya di setiap pembahasan filosofi montessori saya akan tutup muka, atau ketawa ironis karena malu banget mengingat betapa ‘buta’nya saya dulu akan montessori dan betapa ‘salah’nya penerapan Montessori di Rumah yg saya lakukan..

disclaimer : tulisan ini murni tentang diri saya, jadi buat yang mau baca, silakan bersihkan filter, dan jangan baper.. 😂

di bawah ini saya akan membahas bagaimana saya memperbaiki diri saya sebagai ibu setelah mengetahui filosofi ini montessori 🤓

anak itu belajar melalu proses dan panca indera, sementara saya : fokus pada hasilnya
  • karena saya terpaku pada hasil, saya banyak berkomentar saat berkegiatan dengan anak, ketika zuhara melakukan sesuatu yg ngga berhubungan dengan tercapainya hasil, maka mulut comel saya akan berkomentar : bukan begitu, ayo cepet dong, tuhkan! jadi berantakan << jahiliyah bgt ya 😭 these things made me feel like a hypocrite! foto di instagram sih inspiring, tapi pas main sama anak malah setress! 😂 *malu* *ngumpet* *unfollow aja please*
  • sekarang : enjoy the process! shantaaay, berantakan? ya tinggal beresin sama-sama, ada yg tumpah? ya tinggal di lap, berkegiatan dengan anak pun perasaan saya lebih damai, karena saya mengerti cara anak2 belajar.. saya bisa menahan diri utk ngga ‘protes’ ketika zuhara lagi berproses karena filosofi nya : orangtua adalah fasilitator & observer, bukan komentator! *dicatet yaaa*
montessori is not about the apparatus! tentu saja saya mengakui kalau apparatus montessori adalah hasil pemikiran luar biasa, dengan control of error nya, how they relate to each other, berangkat dari yg sederhana ke kompleks, dll.. tapi bagaimana dgn mengetahui filosofinya kita bisa melakukan optimalisasi barang-barang yg ada di rumah utk proses belajar anak2 kita
  • you know i buy everything, i buy a lot of stuffs! karena saya berpikir saya harus punya apparatus ini dan itu supaya zuhara bisa belajar.. rasanya ngga bisa belajar kalau ngga punya < tapi suka kan belanja 😂
  • tapiii, stlh saya tau esensi dibalik apparatus itu, sebenarnya bisa kok menggunakan apa yg ada di sekitar kita. it doesnt and wont stop you, if you dont have the apparatus! ternyata ngga perlu segitunya ya, karena bisa kok memanfaatkan apa yang ada di rumah..
  • terus, do i stop buying things? ya ngga juga sih 😂 lah?! cuma, skrg lebih ke bisa menahan diri utk ngga ngikutin hawa nafsu, dan lebih bisa memanfaatkan apa yg sudah punya di rumah.. then again, having the educational toys helps me so much to keep my sanity and preparing activities for Zu.. (blame my laziness in bebikinan 🙈 and psttt! i tell you my secret, saya itu kadang uring2an kalau udah ‘cape’ siapin activities taunya ngga dimainin, jadi mending ngga ‘cape’ biar kalau zuhara lagi ngga mau ya saya legowo 😂 (excuse!)
utilizing every moment to teach our kids good value dan lebih berhati-hati dalam bertindak. karena setiap saat anak kita itu belajar, you know how the absorbent mind works, it literally is like a sponge!
  • sebelumnya, oh betapa mudahnya mulut ini mengeluarkan kata2 yg ngga pantas (bullying, gossiping), nonton TV series & reality show just because it’s fun! dengerin lagu-lagu hiphop yg lyrics nya 😭 just because it’s catchy! << bener2 jahiliyah 🙈
  • sekarang : sadar diri aja ada CCTV 24/7 yg merekam gerak-gerik kita dan instantly installing all of it ke dalam diri mereka and the voila! tercerminlah menjadi perilaku anak-anak kita.. so, jadilah teladan yg baik utk anak2mu bu.. and beware parents! berhati-hatilah literally berhati-hati di setiap perkataan, perbuatan, interaksi sosial, semuanya! karena aku tau rasanya ketika zuhara pukul temennya (karena dia pernah dipukul), aku tau rasanya ketika zuhara teriakin temennya (karena aku suka membentak), aku tau rasanya ketika dia bilang2 alay! alay! (karena kata alay itu sering keluar dari mulutku) : malu!
  • so before you all experiencing the shame, just remember how your kids watching your every move <zoom in, zoom out, ala sinetron>
bisa mendampingi zuhara lebih baik and getting to know her better..
  • sebelumnya i had no clue, bagaimana mengisi kegiatan keseharian dengan zuhara, so i was just singing, and reading with her. alhamdulillah waktu itu emang udah tau kalau exposure gadget ke anak itu membahayakan jadi zuhara alhamdulillah aman dr gadget (tinggal sayanya aja yg masih ketagihan!) hahaha.. sebelumnya juga saya anti-calistung, pokoknya anak kecil ngga usah lah dikenalin baca tulis, nanti aja pas SD hahaha..
  • setelah tau montessori (awalnya dr instagram @indonesiamontessori dan @bebeklibby) dan mengetahui filosofinya, saya bisa lebih paham apa itu sensitive period dan bisa mengenalinya pada zuhara (her current interest are maze, counting, and clock!) dan saya ngga anti-calistung lagi, tapi saya jadi anti pemaksaan calistung (dan pemaksaan apapun!) 😂 the thing is, anak itu akan punya interest akan sesuatu, nah tugas kita apa? ya kenalkan dan arahkan ya, bukan menjauhkan atau memaksakan! so, knowing the montessori philosophy made me realize this : belajar itu kebutuhan setiap anak, kewajiban orangtuanya utk membimbing dengan menciptakan prepared-environment dan menumbuhkan love of learning.. because learning is fun and you gotta love it!

jadi, udah tau ya kenapa saya fanatik bgt sama metode ini 😂 oiya, ttg filosofi montessori sudah pernah saya share di instagram @ekalucu dgn #SeminarFilosofiMontessoriVidyaParamita 😉

semoga tulisan ini bermanfaat yaaa 😘

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.