Panggung Jogjakarta : Malioboro

foto : eka safitri hasibuan

Kenapa Malioboro tidak pernah sepi ? . mulai dari fajar hingga petang, dari hadirnya gelap malam hingga dini hari mengintipnya matahari lagi. Menurut saya Malioboro adalah panggung dari Jogjakarta tempat masyarakat dengan seribu ungkapan ekspresi. Ekpresi yang timbul dan berwujud dalam rupa — rupa budaya dan ilmu pengetahuan. Malioboro bukanlah kata yang asing didengar baik yang sudah pernah berkunjung atau cuma melihat di layar kaca atau mungkin melihat foto saja, dengan ke eksotismean para pelakon di dalamnya, yang mungkin kita pernah menjadi pelengkap tokoh — tokoh pelakon itu.

Ngomong — ngomong tentang Malioboro, dulu sewaktu saya masih Sekolah Dasar saya kira rokok Marlboro, benteng Marlborough peninggalan Inggris di Bengkulu, Jalan Malioboro adalah tempat yang sama karena memang ketiga tempatnya memiliki nama yang mirip. Ditambah lagi pada dekade 90 an tempat tersohor itu memiliki sebuah billboard besar bergambar laki — laki koboy yang macho dengan tulisan “Come to Marlboro Country” yang dipasang persis di pintu masuk jalan Malioboro. Baca membaca ternyata ketiga tempat itu tidak ada hubungannya, hanya di hubung-hubungkan paksa agar menjadi brand saja. Karena saya lagi membahas Jalan Malioboro yang di kupas tentang Malioboro saja. Menurut sejarah Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Malyabara yang artinya dihiasi untaian bunga. Hal ini seirama dengan fungsi jalan Malioboro yang sering menjadi lintasan karnaval atau pawai saat berlangsungnya berbagai perayaan di Jogjakarta.

Kalau diperhatikan Malioboro sebenarnya bukan satu satunya tempat terbagus dengan fasilitas terlengkap. Namun, sesuai dengan namanya panggung ada dengan hal hal yang selalu bergerak didalamnya yang mengkontraskan diri dengan latar belakang pencahayaan dan sudut pandang. Tidak perlu menunggu pembangunan lima tahun, pembangunan satu tahun, atau jadwal pembangunan lainnya. Malioboro adalah tempat yang selalu di titik klimaksnya. Libur semester enam bulan yang lalu saya berkunjung ke tempat ini ada hal — hal baru yang ditambahkan seperti kursi — kursi bagi penikmat jalan, atau hampir setiap minggu saya melewati jalan ini dan akan selalu ada hal yang bertambah dari tempat ini. Bahkan, libur semester saat ini semua tempat sepi dan hanya ditempat ini yang riuh. Coba perhatikan tiang — tiang lampu Malioboro dan bunga pot yang tergantung di atas kepala kalau anda lewat atau duduk di kursi santai, itu adalah hal terklasik yang menambah kesan rela berjemur kala matahari lagi merobek awan dan rela bertahan kala bintang lagi mengintip di awan hitam. Selain itu bicara tentang pelakon semisal dimasukkan ke rundown acara dalam pola yang selalu berbeda yang menarik hati mengapa tidak akan bosan ketempat ini adalah akan selalu berbeda pertunjukan yang didapatkan dari tempat ini. ditempat ini waktu dan pelakon sama — sama bergerak .bukankah hal — hal baru memang selalu ingin dihampiri, itulah satu kisi — kisi kenapa Malioboro tidak pernah sepi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.