Bangsat yang beriman

Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Rasa rindu untuk berdosa baru saja saya tunaikan, kemarin malam tepatnya. Benih-benih yang tidak berdosa berpelukan bersama peluh. Pertemuan yang diawali dengan kisah haru tidak saya duga akan berakhir dengan syahdu. Bergulat dengannya dulu hanya halu, pun pertemuan malam itu. Hidup penuh dengan kejutan bukan?

Bajingan memang diri ini, bagaimana tidak? Siang bolong saya menyembah, digelapnya malam saya membelah. Tolong, jangan katakan saya pribadi yang munafik. Saya yakin anda yang berkelamin, tidak akan bisa menampik petualangan nirwana ini. Bercerita tentang dewi yang saya temui, dia adalah wanita yang baru-baru ini menjadi pembicaraan di lingkungan saya. Anda pasti tahu maksud dari “pembicaraan” bukan? Tepat, tiada celah bagi kata “baik” untuk memasuki kalimat-kalimat yang terlontar.

Izinkan saya untuk mencari muka dari kalian, wahai pembaca yang budiman. Ucap para pembual tentu tidak bisa saya telan secara mentah. Pertemuan yang telah dibicarakan akhirnya terlaksana dengan sampainya saya didepan gubuk. Gubuk yang dulu terlihat megah kini lebih menggugah rasa iba, sampai-sampai saya lupa untuk menyapa. Benar saja, setelah berbincang tidak ada omongan para pembual itu yang terbukti. Haru saat itu sekaligus bahagia untuk saya, dia benar-benar dewi yang saya harapkan.

Satu angka terlewati di penunjuk waktu, kami mulai duduk lebih dekat dibanding satu jam yang lalu. Dagu yang ia sandarkan di pundak, saya anggap sebagai puncak. Perbincangan pun berubah menjadi ajang. Jujur saja, malam yang beku itu menjadi lebih hangat terasa. Waktu berlalu hingga fajar berniat mengetuk. Tidak saya sangka, gubuk yang rapuh ini dapat memberikan kehangatan di luar nalar.

Terima kasih dewi nirwana, tertanda, bangsat yang beriman.
Like what you read? Give eko irsyad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.