Komunitas Alumni SMP

Setiap sabtu malam saya selalu ke Duta Kopi, Malang. Sebuah tempat di mana ada wifi dan kopi. Meja kecil sebagai tempat laptop dan duduknya pun lesehan.


Twitter adalah media sosial pertama yang saya kunjungi. Akun belum ada setahun dan pengikut juga masih sedikit. Timeline penuh dengan berita bola, teknologi, dan selebtweet (artis twitter).

Saya aktif bermain Twitter tahun 2012. Facebook masih belum saya tinggalkan saat itu dan mulai belajar medsos dengan logo burung ini. Dari Webnya juga tidak ribet hingga saya unduh aplikasi Twitter di Blackberry saya.

Banyak komunitas yang saya jumpai di Twitter dengan pengikut hingga 1000 orang lebih. Tweetnya juga mengundang orang untuk ikut bagian kegiatan yang positif dalam komunitas tersebut. Melihat ini menjadi inspirasi saya membuat group komunitas di Twitter.

Saya diam melihat laptop dan memikirkan komunitas apa yang ingin saya buat akun Twitter-nya. Tidak lama kemudian, lahirlah komunitas iPhone dan Alumni.

Kedua akun tersebut berjalan tapi Alumni menjadi hal paling besar antusiasnya terlihat dari mention yang masuk dan follower.

Seingat saya ada 100 mention yang masuk dan membalasnya hari itu juga. Konten yang dibagikan juga masih sedikit. Nama akunnya @ arsempro – diambil dari nama baju olahraga sekolah SMP saya. Arsempro kepanjangan dari arek semp loro dari SMP Negeri 02 Batu dalam bahasa Jawa.

Arsempro adalah nama terakhir yang saya pakai. Sebelumnya ada alumnismpn2batu, infoarnero, dan arnero. Tak sampai di situ saja, saya juga membeli domain yaitu arsempro.com – arnero.co – arsempro.co – smp2.in dan arsem.pro

Membuat blog dengan nama domain sendiri itu sangat mengasyikkan. Daftar akun Paypal hingga rekening Bank itu semua berkat Twitter Alumni. Terima kasih, Twitter.

Bila tulisan ini saya tulis di tahun Februari 2016 itu artinya sudah 4 tahun bermain Twitter. Tahun 2012 sampai 2014 timeline masih rame tapi di tahun 2015 peminat Twitter sepi dan migrasi ke Path. Pola media sosial sepertinya terbaca di sini. Walaupun begitu, @ arsempro masih tetap aktif di Twitter.


Hanya sebuah media sosial saja bisa membawa saya mengembangkan diri.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Eko Prasetyo’s story.