BAB I dari Perpisahan

Eko Setyawan
Sep 3, 2018 · 8 min read

Sialan. Aku selalu kalah dengan waktu. Dia selalu mendahuluiku. Tak mau sebentar saja menungguku. Walau hanya sekedar memakai baju dan membenarkan resletingku. Ketika kutanya, mengapa dia sering mendahuluiku, selalu saja jawabannya sama, karena aku lambat maka dia mendahuluiku. Taik. Lain kali akan kubalas kau. Jika aku berhasil mendahuluimu, tentu saja orang-orang akan menyanjungku. “Hore, kali ini Hadi bangun jam 5 tepat.”

Pagi itu aku pergi ke sebuah kedai kopi. Walau sebenarnya aku tidak suka kopi, tapi paling tidak aku bisa memesan cokelat panas. Kulihat masih sedikit pengunjung yang datang ditambah udara pagi Bandung yang sangat memanjakan. Cocok, kali ini skripsi akan kuakhiri, pikirku. Sembari menunggu pesanan datang, kubuka komputer jinjingku. Terselip sebuah kertas ketika ku membukanya. Tertulis “ cepat sarjana ya, Nak”. Dari Bapakku ternyata. Aku lupa, aku harus segera sarjana karena waktu untuk berfoto bersama keluarga dengan toga tak bisa kuatur semaunya. Semoga masih bisa.

Kubuka folder berjudul “Skripsi”. Sial. Semua file hlang. Aku sedikit panik. Menggerutu, mencaci maki. Lalu ingat. Bangsat. Apa yang salah ? Pikirku sejenak. Memang aku belum menulis apa-apa mengenai hal menyebalkan satu ini. Ha ha. Aku tertawa. Lalu cokelat panas datang. Diantarkan oleh pelayan wanita. Cantik sekali. Aku terpana sesaat melihatnya. Kulihat dadanya. Ah sial aku salah fokus. Kulihat dadanya yang terdapat ukiran benang jahit membentuk sebuah nama, Desiana. Kuraih segelas cokelat panas dari tangannya. Lembut sekali ternyata. Ya, lembut sekali ternyata cara dia memberikan segelas cokelat panas itu padaku. Kuambil dengan tangan kiri, lalu kurampas tangan kanannya dengan tangan kananku. “Salam kenal Mbak Desiana, saya Hadi Wirasukma.” Dia tersenyum sambil menundukan kepalanya. Kulihat pipinya sedikit memerah. Lalu kulepaskan tangannya dan dia pergi. Sebuah pagi yang indah.

Kembali ke fokus utama pagi ini. Aku memulai dengan mencari latar belakang. Permasalahan apa yang patut untuk kujadikan bahan skripsi. Paling tidak sedikit terlihat “wow” agar tidak malu ketika bimbingan pertama esok hari. Mencari permasalahan nampaknya tidak begitu sulit. Toh banyak sekali masalah di sekitarku. Dan mengerjakan skripsi merupakan sebuah masalah. Paling tidak itu bagiku. Tapi tak mungkin aku menulisnya lalu mengajukan ke dosen pembimbingku. Bisa-bisa kena gampar mukaku. Kota Bandung memiliki banyak masalah menurutku. Masalah klasik ya tentu saja kemacetan, kemiskinan, ketimpangan sosial. Dengan gaya sok tahuku, aku mencoba mengangkat masalah tentang kemacetan. Sesaat hal ini mengingatkanku saat pertama kali aku datang ke kota ini. Dulu aku harus melakukan daftar ulang ke sebuah gedung yang sangat besar dan megah. Sumpek sekali kala itu. Antrian sangat panjang. Itulah kemacetan yang ku temui pertama kali. Aku harus berjejalan dengan manusia-manusia asing yang baru pertama kali aku lihat. Mereka mengenakan seragam sekolah masing-masing. Tampak lambang sekolah-sekolah terkenal melekat di lengan baju mereka. Taik. Beberapa memandangku rendah. Mungkin karena nama sekolahku tidak sekeren nama sekolah mereka. Bodo amat bangsat. Toh kita sekarang sama-sama di kampus ini. Kala itu aku berkumpul dengan teman-teman sejurusanku. Pertemuan itu setidaknya menjadi awal aku menjalani kehidupan perkuliahan. Ternyata tidak semua anak kota buruk. Ada juga yang bersikap sopan selayaknya anak-anak desa. Tapi bukanya anak desa juga tidak semuanya sopan? Aku misalnya.

Akhirnya aku memilih kemacetan dan hubungannya dengan penggunaan moda transportasi umum. Angkot.

Latar belakang sudah usai. Lanjut ke rumusan masalah. Menurutku kemacetan di Kota Bandung karena banyaknya orang sombong di kota ini. Ya. Paling tidak awalnya mereka ingin memamerkan kendaraan pribadi mereka ke masyarakat umum. Lama kelamaan, rasa sombong itu berubah menjadi rasa kecanduan. Mereka kecanduan menggunakan kendaraan mereka dan tidak bisa lepas barang seharipun. Satu orang menggunakan satu mobil. Sepuluh orang menggunakan sepuluh mobil. Setidaknya mereka bisa meringkasnya dengan menggunakan satu angkot. Ah apasih aku ini. Sok-sokan sekali pemikiranku hingga aku lupa dimana kunci kendaraan kutaruh.

Ketika itu aku masih menggunakan angkot. Sedikit seru memang. Berdempetan dengan orang-orang lain yang tak kukenal. Sesekali harus berdempetan dengan waktu. Memang hubunganku dengan waktu tidak begitu erat, membuatku semakin akrab dengan telat. Tetapi, menurutku angkot adalah moda transportasi yang sangat romantis. Bayangkan saja, dalam mobil sekecil itu ada beberapa nyawa yang harus duduk berdekatan dan tak jarang bersenggolan. Bahasa tubuh saat berada di dalam angkot sebenanrnya bisa menjadi benih-benih rasa kasih sayang. Bersenggolan dengan orang yang tak dikenal, lalu disambut dengan kata maaf, tangan saling berjaba, bibir saling menyebutkan nama masing-masing, dan berakhir dengan saling bertukar nomor telepon. Ah sialan. Sepertinya aku terlalu berimajinasi. Toh, pengalamanku tidak membuktikannya. Aku duduk bersebalahan dengan wanita cantik kala itu, lalu kami saling bertukar senyum, walau tidak disertai dengan bertutur sapa. Tapi bagiku, senyuman itu kuanggap sebagai sapaan darinya sebagai pengganti “hai, senang bertemu denganmu” atau lebih sialnya sebagai pengganti “hai,cukup senyum saja, jangan berharap lebih”. Tapi tidak apa, biarkan pikranku saja yang menerka-nerka arti senyum yang dilayangkan oleh wanita cantik itu. Dalam angkot itu, aku merasa canggung. Ingin rasanya berkenalan, tapi takut jika berujung penolakan. Bibirku terkunci. Mataku kuarahkan ke depan. Melihat mobil, motor, manusia, bahkan kadal sekalipun untuk mengalihkan pandanganku. Sejujurnya aku ingin sekali menatap wanita itu, tapi malu setengah mati. Tanpa dipandangnya saja aku sudah mati kutu seperti ini. Hingga pada saatnya, angkot berhenti dan wanita itu turun. Aduuuh. Hilang sudah kesempatanku. Dan sejak sata itu aku tak pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Lenyap.

Lanjut ke tujuan dan sasaran. Apa tujuan skripsi ? Tentu saja agar aku cepat lulus bukan? Bodohnya aku ini. Lalu sasarannya apa? Ya tentu saja mengerjakan skripsi. Ha ha. Logikaku kacau balau. Kuteguk cokelat panas yang ku pesan tadi, walau sekarang sudah menjadi cokelat hangat. Tapi tak apa, kehangatan biasanya lebih nyaman. Tujuanku masuk kuliah tentu saja untuk belajar. Paling tidak dengan ilmu yang kudapat, aku mampu sedikit menata masa depan. Dan nampaknya sekarang sedikit tertata. Sedikit sekali lebih tepatnya. Unik memang ketika aku bertemu dengan manusia-manusia aneh di kampusku. Dari latar belakang yang berbeda-beda. Banyak yang aku pelajari dari manusia-manusia aneh ini. Kata mereka “materi di kampus ini toh nantinya sedikit sekali yang kau gunakan dalam dunia kerja. Para bos di sana lebih mementingkan bagaimana caramu berpikir. Bagaimana otakmu bekerja dalam memecahkan masalah dan pengalamanmu dalam berorganisasi selama kuliah”. Sok tahu sekali nampaknya mereka. Mereka juga masih kuliah, belum merasakan kerja. Skripsi saja masih senasib denganku, mungkin sedikit lebih baik. Paling tidak ada yang sudah mencapai BAB II. Tapi berbicara tentang tujuan, aku jadi teringat oleh salah seorang temanku. Dia pernah berseloroh, bahwa tujuan dia kuliah di kampus ini tidak lain hanya untuk membuktikan kepada tetangganya di kampung bahwa anak seorang buruh bangunan mampu meraskan bangku kuliah. Aku tertawa tentu saja. Tapi dia lalu menjelaskan. “Kau tahu, dulu keluargaku sangat miskin. Bisa jadi paling miskin di kampungku. Semua orang memandang rendah terhadap keluargaku. Nampaknya mereka lupa, bahwa kami juga manusia. Rasa saling menghargai sudah sirna sejak lama. Paling tidak sejak anak-anak mereka memilih menjadi tenaga kerja di negeri orang. Menjadi pembantu di negeri orang sudah mereka anggap sebagai sebuah prestasi asalkan pulang membawa banyak uang. Memperbaiki rumah yang sudah reyot lalu membelikan emak mereka perhiasan. Dan sejak saat itu, berubahlah manusia-manusia itu menjadi manusia sombong. Sekedar membeli bumbu dapur di warung sebelahpun tak lupa dipasang itu segala gelang, kalung, dan cincin. Sesekali mulut mereka menyindir keluarga miskinku. Sejak saat itu aku bercita-cita untuk masuk ke kampus ini. Kata orang kampus ini adalah kampus terkenal dan lulusannya memiliki masa depan cerah. Paling tidak aku mampu memperbaiki martabat keluargaku yang telah diinjak-injak tetangga. Namun perlu kutekankan ini bukan perkara balas dendam, tapi perkara mengembalikan harga diri. Sekalipun aku harus terseok-seok dengan uang saku yang tak seberapa dari orang tuaku, aku harus bertahan. Ingat teman, ini masalah harga diri. Mungkin kau angap tujuanku ini terlalu pendek. Kau boleh saja berpikiran seperti itu. Tapi perlu kau tahu, singa yang sekaratpun akan masih mengaum untuk menunjukan harga dirinya masih ada hingga akhir hayatnya.” Aku terdiam kala itu mendengar omongan temanku satu itu. Nampak matanya sangat berapi-api dan terlihat bahwa dia tidak main-main tentang harga diri.

Mataku terpejam sebentar. Kuseruput sedikit lagi cokelat hangat. Sudah tidak sehangat seperti tadi lagi. Tapi tetap saja enak. “Kau tak kehilangan harga dirimu, coklat.” gumamku.

Susah-susah gampang juga ternyata menentukan tujuan dan sasaran. Selanjutnya adalah metode. Mungkin tidak terlalu susah menentukan metode dalam menyusun skripsi ini. Aku bisa saja melihat metode yang digunakan oleh peneliti terdahulu yang mirip denganku. Lebih susah menurutku memilih metode yang tepat untuk hidup di dunia perkuliahan ini. Awal-awal aku datang, aku memilih metode diam. Ternyata itu membuatku semakin terpojok dalam kesendirian. Sialan. Aku semakin terkucilkan dalam percakapan. Aku ada tapi seperti tak dianggap. Hingga aku bertemu dengan seseorang yang mengajariku bagaimana caranya bergaul. Katanya aku harus sedikit memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dan berkenalan dengan orang lain. Yang benar saja, berkenalan dengan wanita di angkot saja aku tak berani. Temanku yang satu ini memang sangat pandai bergaul. Ada saja bahan percakapan yang ada di kepalanya. Memang kepala ada-ada saja isinya ya. Berbeda dengan isi celana yang itu-itu saja. Perlahan tapi pasti aku mulai terbiasa dengan metode yang diajarkan temanku itu. Hingga terkadang aku lupa nama salah seorang dari mereka. Parah sekali daya ingatku ini. Andai saja Tuhan mengizinkanku berkenalan dengan wanita di angkot itu, aku bersumpah, jangankan namanya, lekuk senyumnya, hitam rambutnya, warna bola matanya, dan indah jari-jemarinya tentu aku ingat betul.

Capek juga membuat BAB I ini. Tanpa disadari mataku sedikit berkaca-kaca. Setiap langkah yang aku lakukan untuk menyusun BAB I ini justru mengingatkanku tentang kawan-kawanku. Bertambahnya satu kata pada BAB I ini sama dengan bertambahnya kesedihan yang kurasa. Awal mula memang kami tak saling kenal, hingga akhirnya kami sulit untuk mengucap selamat tinggal. Suatu hal yang pasti bahwa mereka nantinya akan menemukan teman baru di dunia yang baru. Dan suatu hal yang pasti juga perlahan ingatan mereka tentangku akan segera menyusut. Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya kita bisa saja meniadakan pertemuan, tapi meniadakan perpisahan adalah hal yang mustahil. Perpisahan adalah hal yang pasti. Kita tidak bisa menghindarinya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengatur cepat atau lambat kita menuju perpisahan tersebut. Dan mengerjakan skripsi ini tentu saja mempercepat perpisahan itu terjadi. Bangsat memang. Tapi mau gimana lagi. Orang tua mana yang senang melihat anaknya tak segera lulus.

Sudah sekitar satu jam ternyata aku berada di kedai kopi ini. Cokelat panas telah sepenuhnya berubah menjadi coklat dingin. Ku tenggak hingga habis. Ku pesan satu gelas lagi. Aku berjalan ke kasir dan memesan satu gelas cokelat panas. Ternyata kafe ini sudah mulai ramai. Ku lihat ada sepasang kekasih yang sedang duduk bersebelahan dan nampak mesra sekali. Sepertinya mereka sedang menyiram benih-benih asmara yang telah mereka tabur. Ku tebak umurnya baru beberapa bulan. Hangatnya hubungan mereka sepertinya telah mengalahkan hangatnya mentari pagi ini. Si lelaki melirik ke arahku. Raut mukanya sepertinya menunjukan ketidaksukaan terhadap sikapku yang melihati mereka untuk beberapa waktu. Mungkin dia pikir aku akan tertarik pada kekasihnya. Haha. Aneh saja. Setidaknya aku tak pernah merebut kekasih orang. Tak berapa lama kemudian cokelat panas pesananku datang. Dan lagi, wanita cantik itu yang mengantarkannya. Kali ini dia menunduk lebih dalam. Nampaknya dia menghindari kontak mata denganku. Bisa saja dia. Apa dia takut akan jatuh cinta kepadaku? Atau dia sebenarnya wanita yang telah memiliki kekasih dan takut aku akan jatuh hati padanya? Perlahan dia membalikan badanya setelah berhasil menaruh secangkir cokelat itu dengan tangan sedikit gemetar. Lalu ku panggil namanya.

“Mbak Desi”, panggilku. Dia menoleh.

“Iya ada yang bisa saya bantu” jawabnya sedikit gugup.

“Ini kok cokelatnya dingin ya mbak. Tadi saya pesannya kan yang panas”.

“Oh baik mas akan segera kami ganti”. Dia bergegas mengambil cangkir kopi tadi. Sebelum tangannya benar-benar menyentuh itu cangkir, ku rebut tangannya. Dan benar saja.

“Oh ternyata yang dingin tangan anda”.

Dia sedikit tersipu malu. Dan lagi, pipinya memerah. Dia segera melapaskan tangannya dan bergegas kembali ke dapur. Sekali lagi, sungguh pagi yang indah. Mungkin ini akan menjadi tempat favoritku untuk mempercepat perpisahan dengan teman-temanku. Tapi ini mungkin juga akan menjadi tempat bagiku untuk memperlambat perpisahan dengan wanita cantik itu.