Harum

Eko Setyawan
Sep 3, 2018 · 5 min read

Hai Harum, dengan surat ini akan kuceritakan ketika pertama kali hatiku jatuh kepadamu. Ketika pertama kali mulutku dibuat bisu olehmu. Ketika pertama kali tubuhku terdiam ketika melihatmu. Dan pertama kali ketika mataku tak bisa lepas dari indah parasmu.

Masih ingatkah kau, ketika itu kau keluar dari balik pintu toko buku. Membawa tumpukan buku, yang kukira itu mencerminkan kepribadianmu. Kulihat banyak sekali buku yang kau bawa. Entah itu untuk kau baca, atau mungkin hanya untuk melengkapi rak bukumu yang kosong. Kosong? Ah belum apa-apa aku sudah berburuk sangka padamu. Bisa jadi rak bukumu sudah penuh dengan tumpukan buku yang mirip dengan yang kau bawa saat itu. Mungkin saja kau membelinya dan bingung, mau ditaruh dimana buku-buku itu padahal rak bukumu sudah penuh. Tak ada lagi ruang untuk menaruhnya. Atau mungkin, kau adalah wanita yang sangat baik hatinya, membeli buku-buku dan menyumbangkannya ke sebuah perpustakaan kecil di sudut kota, dengan harap anak-anak kecil disana bisa membaca dan bertambah isi kepalanya. Sudah sudah. Diri ini memang sering menerka, mereka-reka hal nyata yang justru menimbulkan tanya.

Tapi itu hanyalah satu dari beberapa yang kulihat saat itu. Kulihat yang lain, ketika itu kau menyibakan rambutmu dengan tangan kirimu karena tangan kananmu sibuk memegang buku-buku tadi. Ah tidak. Kurasa Amor sedang turun dari langit dan berkunjung ke toko buku. Tentu saja tidak untuk membeli buku, tapi untuk melaksanakan tugasnya dari Sang Dewa. Mungkin saja Amor baru berkunjung dan belum melaksanakan tugasnya, tetapi mengapa sibakan itu terasa indah pada waktunya? Dan ternyata benar, Amor memang sedang berada di sana. Dia berbisik kepadaku “aku baru saja datang, dan aku belum melakukan apa-apa”. Aku tak percaya begitu saja Harum. Aku yakin Amor pasti berbohong. Tak mungkin dia belum melakukan apa-apa, tapi hati ini yang tadinya tegar, mengapa menjadi bergetar. Aku yakin itu Harum, Amor pasti sedang berbohong.

Kau bercanda Harum. Aku tak tau apa yang terjadi. Hanya dengan gerakan itu, kau sudah menghanyutkan hatiku ke lautan asmara. Terombang-ambing tak tentu arah. Berharap datang penolong yang menyelamatkanya. Hingga datang sebuah papan kecil, dan hatiku berpegangan padanya. Untuk sementara, sedikit tenang. Tapi itu tak berselang lama. Kau jahat Harum, tak membiarkan hati ini menyeka keringat, menghirup nafas, atau mengeluarkan air laut yang mulai masuk ke tenggorokan. Kau hempaskan lagi ombak dan menghanyutkan hati ini lagi. Kau tau Harum? Ya benar. Ombak selanjutnya datang ketika kau melambaikan tanganmu entah ke siapa aku tak tau itu. Lambaianmu diiringi dengan gerakan indah jari-jemarimu. Orang lain pasti akan mengangap itu biasa-biasa saja, tapi entah mengapa bagiku itu menjadi tak biasa ketika engkau yang melakukanya. Sungguh indah. Kulihat jarimu sungguh lentik, bersih, dan sangat cantik.Sejenak ku berpikir, mungkin engkau seorang penari. Tapi, mengapa seorang penari harus pergi ke toko buku? Bukankah dia lebih baik berada di sanggar dan melatih gerkannya agar lebih indah? Atau mungkin memang kau tak perlu melatih gerakanmu lagi, karena yang kulihat itu sungguhlah indah. Kembali pikiranku berlaku jahat. Membatasi tingkah laku orang. Kata siapa penari tak boleh ke toko buku. Maaf Harum, aku telah keliru bertindak, meski itu baru dalam pikiran. Tiba-tiba Amor berbisik lagi kepadaku , “aku baru saja mengambil anak panah dari tempatnya”. “Bohong” , jawabku. Itu bohong kan, Harum ? Tak mungkin Amor baru menarik anak panahnya. Ku yakin dia telah melepaskan anak panah dari busurnya. Tapi, sejak kapan Amor berbohong, Harum? Sial. Hati ini kembali hanyut. Terombang-ambing lagi dan tak tentu arah. Didapatnya sebuah papan kecil lagi. Dan berpegangan untuk kedua kali.

Sebentar. Jangan lagi Harum. Biarkan hati ini berpegangan pada papan kecil itu dulu. Paling tidak, kau berikan waktu untuk mengatur nafas terlebih dahulu. Satu, dua, dan tiga. Benar Harum, kau memang baik. Yang kuminta memang hanya untuk mengatur nafas hati ini, dan kau mengiyakannya. Tapi kurasa kau akan lebih baik ketika membiarkan hati ini mengatur nafas dan memandang indahnya langit sore dari tengah laut kala itu. Tapi itu tidak terjadi, kau sangat perhitungan Harum. Tak mau kompromi dengan memberi sedikit saja tambahan waktu. Ombak itu datang lagi Harum. Kali ini datang lebih besar daripada ombak yang tadi. Aku tak berharap hati ini bisa selamat. Kau ingin menebaknya kah Harum? Ku kira tebakanmu kali ini tidak akan salah. Benar sekali. Ketika kau telah menurunkan tanganmu, datang seseorang perempuan lagi. Mungkin itu temanmu, pikirku kala itu. Dan ternyata benar. Perempuan itu tampak senang bertemu denganmu, dan kaupun tampak senang pula bertemu dengannya. Dan tau kah kau, ketika itu pula kau lukiskan sebuah senyum indah di raut wajahmu yang cerah. Sangat indah. Tak pernah aku melihat sebelumnya. Senyuman itu layaknya rembulan diawal waktu, melengkung begitu syahdu, memesona dan mengoyak jiwa ini Harum. Aku berani bersumpah, Tuhan telah menitipkan sedikit senyumnya diwajahmu ketika Dia menciptakanmu. Atau mungkin, sedikit leibih banyak. Atau? Tidak ! Tidak ! Ku yakin itu seluruhnya adalah senyum dari-Nya. Ku yakin itu. Gelombang dahsyat itu kini benar-benar telah menghanyutkan hatiku, Harum. Hanya butuh sedikit waktu untuk membuatnya benar-benar tenggelam. Tapi taukah kau, Harum? Amor berbisik kepadaku lagi. “Aku baru saja menaruh anak panah ke busur panah. Perlu kau ketahui, aku belum melepaskannya”. Tidak mungkin. Ini sudah diluar kuasaku. Tak mungkin Amor belum melepaskannya. Atau jangan-jangan dia datang hanya untuk memermainkanku?

Hening. Hati ini sudah tak berdaya. Papan kecil itu datang lagi. Sudah tak ada daya lagi untuk merengkuhnya. Ku biarkan hati ini hanyut di lautan asmara. Dan kali ini akan menikmati langit yang sudah mulai senja. Langit itu begitu indah. Dihiasi cahaya jingga kemerah-merahan. Suara burung bercuitan pertanda mereka harus kembali ke sarangnya. Tak ada pasir Harum. Ini di tengah laut, bukan di tepian pantai. Mungkin bila saja di tepian pantai, akan kugandeng tanganmu lalu kita berjalan menyusurinya. Merasakan desiran ombak, hangatnya pasir pantai, hembusan angin sore yang menerpa tubuh kita. Membelai halus kulitmu yang bersih. Menyibakkan rambutmu dan kupastikan kau pasti terlihat begitu cantik. Anginpun pasti akan sangat senang melakukannya.

Sempurna. Kali ini begitu sempurna Harum. Sungguh indah. Aku tak tahu apakah kau sengaja melakukannya. Mungkin kau risih dengan diriku yang sedari tadi memandangi indah parasmu. Kau memberikan pandanganmu kepadaku. Menghujamkan tatapan mata putih bersinar itu kapadaku. Aku terdiam tak bergerak. Sama sekali tak bergerak. Matamu sungguhlah indah. Aku seperti melihat rembulan di tengah waktu sedang menatapku. Berpijar memancarkan cahayanya. Dan aku yakin, Tuhan sangat teliti ketika menciptakanmu. Tak pernah sebelumnya aku melihat ciptaan-Nya yang seindah ini. Pernahkah kau dengar cerita mengenai Medussa wahai Harumku ? Benar. Ketika siapapun menatap mata medussa, maka orang itu akan berubah menjadi patung. Dan kali ini, aku lah orang itu, dan kau medussanya. Sekali lagi Amor berbisik padaku “Aku telah melaksanakan tugasku. Nikmatilah indahnya, dan jangan pernah kau sesali itu”.

Indah sekali sore itu Harum. Hati ini benar-benar akan tenggelam. Langit sore yang begitu indah akan mengiringinya. Mentari sudah enggan bersinar lagi. Perlahan menuju cakrawala dan pergi. Papan kecil itu juga telah pergi, terbawa ombak. Mungkin dia akan menolong hati lain yang hanyut juga. Sebelum mentari benar-benar pergi, hati ini telah tenggelam. Meyusuri dunia bawah air. Dilihatnya beberapa ikan kecil dan terumbu karang. Mereka tersenyum seperti senang melihat hati ini tenggelam. Tenggelam ke dalam palung asmara paling dalam. Salam.