MELAMPAUI REALITA PERKAMPUSAN

ELEKTIZINE
Sep 9, 2018 · 3 min read

Penulis: Ludwig Tar (Elektizine) / Ilustrasi: Elektizine

Berhentilah memberi hormat pada senior/kanda teman-teman. Leher hirarki picik ini harus dipatahkan! Sekali lagi rebut kebebasan teman-teman, tak ada yang boleh mengontrol pikiran dan imajinasi kalian.

MULANYA kalian yang akan duduk di deretan kursi kelas adalah korban dari fatamorgana brosur, web, media sosial dari kampus yang atmosfir kesehariannya begitu menggerahkan. Korban kebohongan yang diselimuti banalitas kesalehan propaganda marketing. Itu setelah, tentunya, kalian di tolak masuk di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang tak kala busuk dan menjijikkannya dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Lalu bergegaslah kalian mempetentengkan lembaran [ijazah]; benda mati berisi angka-angka pembodoh dan tak lupa membasa-basikan minta doa dari orang tua agar segera tersemogakan ditampung di Universitas Fajar (Unifa).

Lihat: Video sambutan untuk mahasiswa baru 2018

Apa sesungguhnya terjadi

Di kampus ini, keadaan tidak baik-baik saja. Jangan terjebak dengan stigma warisan kejumudan masa lampau, bahwa kampus tempat untuk belajar untuk meraih masa depan sukses. Teman-teman harus berhati-hati dengan itu dan mempertanyakan ulang. Semoga kita bersepakat dan sungguh berteman.

Pertunjukan poya-poya pertama yang akan teman-teman lihat yaitu PMB [Penundukan Mahasiswa Baru]. Di sini kalian harus jeli dalam melihat pertunjukan ini. Senior/kanda itu sesungguhnya sedang melakoni peran sok aktivis, sekaligus bergaya di depan teman-teman. Dan biasa mutlak terjadi — teman-teman harus mawas diri — adalah mata buas sedang mencari, mengawasi mangsa untuk memuaskan hasrat seks mereka. Begitulah teman, mereka, predator seks menunggangi cinta dengan hamburan kata-kata untuk memperdaya dan menjinakkan.

Ketika berlangsungnya PMB ini teman-teman digiring kesana-kemari seperti gembala domba atau bebek. Hal yang menyedihkan yang tak seharusnya dipertontonkan. Tak hanya itu, di tempat-tempat nantinya teman-teman nongkrong, di sekumpulan mahasiswa, ada orang-orang yang ingin dipanggil senior/kanda. Bahkan mereka begitu geram sambil menyalakkan matanya jika kalian sebagai-menurut mereka — junior/dinda tidak mematuhi kehendak si senior/kanda cupu ini.

Mereka menaburkan perintah sambil mengepulkan asap rokok mereka. Ingat juga teman, mereka itu, siapa lagi kalau bukan senior/kanda, terkadang berkamuflase dengan membungkus muka mereka dengan sok kebijaksanaan dengan busa-busa mulutnya coba menasehati. Singkatnya mereka bertingkah seolah olah teman-teman tidak bisa mengenali, bertahan hidup, di kampus tanpa mereka. Maka tak keliru jika teman-teman berontak melawan kekangan perintah dan suruhan senior/kanda yang hirarkis. Itu sama sekali tidak keliru. Kami mendukung kalian.

Borok yang perlu teman-teman ketahui, senior/kanda itu cuman galak dan beraninya di hadapan teman-teman saja. Namun, ketika dihadapan para birokrasi, mereka tunduk. Ironi, sekaligus lakon paling memalukan, mereka bahkan sampai menjilat pantat birokrasi itu seperti kucing yang baru bertemu tuannya ketika baru saja ditinggal.

Mengenai birokrasi yang sering dijilat pantatnya oleh senior/kanda juga perlu kita didik bersama. Karena disitu [baca: birokrasi] tempat bersemayam setan goblok yang perlu kita usir dan buang di got. Transparansi anggaran, mengatur jam malam mahasiswa, mengatur kebebasan berpakaian mahasiswa [kebebasan kok diatur: dasar kontol], itulah wajah setan sesungguhnya dari birokrasi. Dan teman-teman harus menjaga pikiran, kehendak, hasrat agar terhindar dari jeratan setan.

Baca juga: Anjing!

Memulai yang harus dilakukan

Miliki pikiran dan imajinasi. Dan jangan biarkan apa dan siapapun untuk mengontrolnya. Mengenai buku bacaan, bacalah apa kehendak kalian. Tak ada aturan kolot: kalian harus selesai buku ini baru beranjak ke buku yang lain.

Ragukan semua yang kalian lihat. Pertanyakan ulang. Hanya dengan begitu teman-teman bisa melenyapkan aroma pekat kebusukan: kepatuhan, segala rupa hirarki, keyakinan religius dan moral, yang dipelihara tanpa tahu malu oleh masyarakat kampus ini.

Berhentilah memberi hormat pada senior/kanda teman-teman. Leher hirarki picik ini harus dipatahkan! Sekali lagi rebut kebebasan teman-teman, tak ada yang boleh mengontrol pikiran dan imajinasi kalian. Teman-teman lebih sadar apa yang harus dilakukan ketimbang mereka itu.

Dan juga, teman-teman tidak perlu secara tolol tunduk pada kepentingan-kepentingan birokrasi. Terlalu banyak hal-hal lebih baik untuk dilakukan untuk meruntuhkan fondasi kejahatan otoriter birokrasi. Kejahatan mereka: mengontrol dan mengatur [dengan standar moralitas busuk mereka] pantas untuk teman-teman lakukan. Sungguh mereka sangat bangsat mengatur apa yang pantas untuk teman-teman pikirkan, imajinasikan, kemudian lakukan.

Baca juga: Sekretariat: Mau Tapi “Ogah”

Catatan:

Bila teman-teman merasakan dogma, doktrin, dari tulisan ini, begegaslah sesegera mungkin melupakannya. Dan bergegaslah sambut pikiran bebas dan gerak bebas teman-teman.

Aku bukan aktivis! Aku bukan seniman! Aku bukan sastrawan! Jangan lekatkan aku dengan semua itu. Aku hanya pikiran bebas , yang tengah bergerak secara eksperimen.

Selamat Datang, Kamerad. Salam hangat dari kami. Elektizine.

ELEKTIZINE
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade