EPISTEMOLOGI DUKUN

Seri Tafsir Quran ala Koran (23) : Al-Fatihah (3)

Lukman Hakim Husnan
Nov 6 · 7 min read

Ada salah seorang sahabat Nabi yang masuk Islam berkat profesinya sebagai dukun. Ya, dan dia bernama Sawad bin Qarib al-Dawsi.

Suatu hari, barangkali pada saat musim haji, Khalifah Umar ibn al-Khatthab bertanya dari balik mimbar, "Adakah di antara kalian orang bernama Sawad al-Dawsi?" Saat itu, jamaah bergeming. Tidak ditemukan di antara mereka orang dengan panggilan macam itu.

Tahun berikutnya, Khalifah mengulang pertanyaan, "Yang punya nama Sawad al-Dawsi mohon berdiri!" Masih tidak ada yang menyambut seruan tersebut.

Kenapa Sayidina Umar begitu penasaran dengan Sawad al-Dawsi? Syahdan, menurut rumor yang beredar, Sawad ini masuk Islam dengan cara yang unik (syai' 'ajib). Itulah sebabnya pada tahun berikutnya lagi, Khalifah menanyakan ihwal Sawad kepada jamaah dan ndilalah kali ini ia muncul.

"Kau Sawad?" tanya beliau. Sawad menjawab, "Betul, ya Amiral Mukminin."

"Apa betul cerita tentangmu yang selama ini beredar?" tanya Umar. "Ah, itu masa lalu," jawabnya. "Masa laluku juga buruk, kok, tak usah malu. Ceritakan tepatnya kepadaku!"

Sawad pun bercerita:

Suatu hari, di tengah perjalanan di tanah India, Sawad dihampiri sahabat (perewangan)-nya dari kalangan jin. Waktu itu ia tidur dan sang sahabat menendang kakinya seraya memekik, "Hei, Sawad! Cepat bangun!"

Terjaga, Sawad pun mendengar jin itu berkata, "Dengar baik-baik. Pikirkanlah ucapanku ini, jika kau memang makhluk yang mampu berpikir. Telah diutus seorang Rasul dari keturunan Luai bin Ghalib. Bangkit dan ikutilah orang itu, maka kau beroleh petunjuk."

Mula-mula, Sawad tak menggubris ocehan partner-nya itu. Sampai kejadian yang sama terulang tiga kali, dalam tiga hari berturut-turut. Sawad pun dibikin jatuh hati dan tergerak mencari Nabi yang menurut informasi sedang berada di Mekkah. Dan betul, setelah menempuh perjalanan cukup berat, Sawad akhirnya berhasil bersua dengan Nabi yang ia tahu bernama Muhammad, dan yang saat itu sudah berhijrah ke Madinah.

Sawad al-Dausi adalah dukun (kahin) dari Yaman, dan Nabi Muhammad adalah keturunan kedelapan dari Luai bin Ghalib. Disebut dalam sejumlah hadits shahih, detail kisah Sawad ini dikutip dari Dalail al-Nubuwwah karya Imam al-Baihaqi.

Pertanyaan yang kemudian timbul di benak kita adalah bagaimana mungkin seorang dukun dapat menjadi baik akibat aktifitas perdukunannya?

Dalam Tafsir Bahr al-'Ulum, Imam Abu Laits al-Samarqandi mengutip Ibn Abbas. Bahwa, sudah sejak lama, masyarakat arab jahiliyah tahu betapa seorang dukun pasti memiliki perewangan berupa jin. Dari jin-jin inilah mereka (para dukun itu) menerima kabar tentang masa lalu, juga terutama soal masa depan. Hebatnya, atau celakanya, informasi yang dibawa oleh para dukun ini rata-rata akurat.

Dan inilah yang terjadi pada para dukun sakti mandraguna, yang amat populer dan menjadi rujukan para ahli nujim pada masanya: Syathih bin Rabi' dan Syiq bin Rahm.

Syathih adalah penghuni tetap sebuah hutan di daerah Syam. Sementara Syiq berdomisili di sekitaran Hijaz. Seperti diceritakan Imam Ibn Hisyam dalam Sirah al-Nabawiyyah, suatu hari Rabi'ah bin Nashr, Raja Yaman, didera mimpi mengerikan. Untuk mengetahui takwilnya, Rabi'ah mengundang Syathih dan Syiq, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Sang raja hendak menguji apakah penakwilan kedua dukun tersohor itu serupa.

Syathih, yang dipersilahkan mempresentasikan takwil pertama kali, langsung to the point membuka isi mimpi sang raja, padahal waktu itu raja belum sama sekali menceritakan detailnya. Ketika ditanya mengenai takwilnya, Syathih memberi jawaban mengagetkan, yakni semacam ramalan akan kehancuran dinasti sang raja dan munculnya seorang Nabi yang merupakan keturunan dari Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadhr, yang tak lain adalah nenek moyang Nabi Muhammad Saw.

Syiq memberi takwil yang tidak jauh berbeda dari takwil Syathih. Hanya pilihan kata dan detail waktu saja yang sedikit meleset. Syiq memang menggunakan uraian yang lebih tertata ketimbang bahasa Syathih.

Sejauh pembahasan mengenai Syiq, sebetulnya ada yang menarik, yang sepertinya sayang dilewatkan. Bahwa, seperti dikemukakan Imam al-Mas'udi dalam Akhbar al-Zaman, dukun pertama yang hidup di dunia ini juga bernama Syiq. Orang ini, atau masyhur disebut Syiq al-Awwal, adalah putera dari Huwail bin Irim bin Sam bin Nuh 'Alaihis Salam.

Konon, Syiq al-Awwal ini memiliki satu mata di kening. Ada yang menyebut bahwa dia adalah ayah dari Dajjal, atau menurut pendapat lain dia adalah Dajjal itu sendiri, yang kemudian dipasung di sebuah pulau di tengah samudera, menunggu saat-saat belenggunya dilepas oleh Allah. Dajjal, kita tahu, adalah orang dengan kapabilitas menghasilkan perkara khawariq al-'adah laiknya sihir para dukun atau mukjizat para Nabi.

Pendek kata, kita sekarang tahu bahwa sudah sejak jauh-jauh hari, bangsa arab mendengar berita kenabian Muhammad yang mereka peroleh dari mulut dukun. Menurut Imam Abu Fadhl Al-Sabti, dalam al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthofa, para dukun yang meramalkan munculnya Nabi Muhammad sebetulnya bukan cuman Syathih dan Syiq, melainkan juga nama-nama semisal Syafi' bin Kulaib, Sawad bin Qarib (yang kemudian masuk Islam seperti dalam kisah sebelumnya), Khunafir Najran, Al-Af'a al-Jarhumi, Jadzl al-Kindi, Fathimah binti Nu'man, dan masih banyak lagi.

Belakangan, kabar tersebut terbukti valid. Tetapi masalahnya, bagaimana mungkin informasi dari mulut dukun bisa tepat?

Alasannya adalah karena pada masa-masa itu para jin masih diberi semacam kebebasan untuk mendengar kabar dari langit. Menurut Imam al-Diyar al-Bakri, dalam Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfus al-Nafis, mengutip Wahb bin Munabbah, Syathih mengaku bahwa jin yang menemaninya berpengalaman melakukan itu sejak masa Nabi Musa. Konon, bahkan jin-nya Syathih ini ikut mencuri dengar 'percakapan' Nabi Musa dengan Allah di gunung Tursina.

Kemampuan ini akan tetapi merosot sejak diutusnya Nabi Isa. Dengan asumsi bahwa langit terdiri dari tujuh tingkatan, maka pada masa Nabi Isa, para Jin dihalangi (ihtajaba) mendengar kabar dari tiga tingkat langit. Seperti dijelaskan Ibn Abbas, pada masa Nabi Muhammad Saw, ketujuh pintu informasi dari langit sama sekali tertutup bagi mereka.

Ini sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran surat Al-Hijr ayat 17-18:

وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ

ﺇِﻻَّ ﻣَﻦِ اﺳْﺘَﺮَﻕَ اﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻓَﺄَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺷِﻬﺎﺏٌ ﻣُﺒِﻴﻦٌ

"Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang."

Apakah dengan demikian para dukun lantas pensiun?

Tentu saja tidak. Mereka masih bisa melakukan banyak hal; berdagang santet, mungkin? Atau jualan jimat dan main ruqyah-ruqyah-an? Pada masa Nabi saja, menurut Imam al-Samarqandi, terdapat setidaknya 5 dukun Yahudi antara lain Ka'ab bin al-Asyraf (dari Madinah), Abu Bardah al-Aslami (dari kalangan Bani Salim), Abu al-Sauda' (dari Syam), Abd al-Dar (dari Juhainah), dan 'Auf bin Malik (dari Bani Asad). Salah satu dari mereka inilah yang kemungkinan pernah menyerang Nabi melalui sihir seperti disebut dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam.

Tapi yang jelas, sejak Nabi Muhammad, dan terutama pada masa-masa kehidupan beliau, buat pintu informasi gaib ditutup rapat. Mereka boleh saja masih menebak-nebak masa depan, tapi tebakan tinggal jadi tebakan. Allah dalam Al-Quran surat as-Syuara ayat 222-223:

تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ يُلْقُونَ ٱلسَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَٰذِبُونَ

"(Setan-setan itu) turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta."

Imam al-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, mengutip sebuah hadits dari al-Dhahak:

ﻣﺎ ﺑﻌﺚ ﻧﺒﻲ ﺇﻻ ﻭﻣﻌﻪ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﻳﺤﺮﺳﻮﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ (اﻟﺬﻳﻦ) ﻳﺘﺸﺒﻬﻮﻥ ﺑﺼﻮﺭﺓ اﻟﻤﻠﻚ

"Tidaklah seorang Nabi diutus kecuali ia ditemani seorang malaikat yang menjaga mereka dari setan-setan yang menyaru malaikat."

Permasalahannya, apakah setelah masa tugas Nabi Muhammad rampung, para dukun kembali mendapatkan kesempatan mendengar kabar gaib dari langit?

Dalam Surat al-Jin ayat 26-27 disebutkan:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya."

Berdasarkan ayat di atas, sejumlah kalangan meyakini bahwa pengetahuan gaib tidak didapat kecuali oleh para rasul. Dari sini kemudian kaum Mu'tazilah menepis keberadaan wali.

Tetapi menurut Imam al-Razi, yang dimaksud dengan diksi "gaib" dalam ayat di atas sebetulnya bukan seluruh perkara gaib, tetapi hanya persoalan kiamat. Itulah sebabnya ayat tersebut didahului dengan qul in adri aqaribun ma tu'adun, ila akhiril ayat, yang menunjuk pada hari akhir.

Tentu saja, dalam hal hari akhir, bahkan sekaliber Nabi Muhammad pun tidak mengetahui kapan tepatnya. Tetapi jelas, terdapat sejumlah malaikat yang diberi izin oleh Allah untuk mengetahuinya. Jadi, yang dimaksud dengan Rasul di sini adalah malaikat.

Dari sini Imam Al-Razi kemudian menyatakan bahwa, selain para Nabi, ada sejumlah orang yang dapat mengetahui perkara gaib. Salah satu bukti yang hampir diterima secara mutawatir adalah kabar dari dukun Syathih dan Syiq yang telah dibahas. Dajjal juga bukan Nabi, tapi ahli dalam ilmu gaib. Selain itu, juga terdapat banyak kekasih Allah, yang memang tidak sampai pada derajat kenabian, yang dikaruniai sejumlah ilham (ilhamat) dan membuat mereka dimampukan memahami perkara gaib. Kita menyebut mereka wali.

Para dukun pun, dengan demikian, dimungkinkan dapat menyibak tirai kegaiban, termasuk berbicara soal masa depan, dan sebagainya. Tetapi, Imam al-Razi mewanti-wanti, kebanyakan mereka ini keliru dan penipu (yukaddzibu bi aktsar tilka al-akhbar).

Akhirnya, Sayyidina Umar memohon kepada Sawad al-Dausi supaya ia berkenan memanggil perewangan-nya. Yang diminta menjawab, "Sejak aku membaca al-Quran, wahai amirul mukminin, jin itu tak pernah mendatangiku lagi. Al-Quran adalah sebaik-baik pengganti bagi jin yang dulu pernah menjadi sahabatku."

Apakah Sayyidina Umar kecewa karena tak jadi ketemu dengan jin yang membawa Sawad masuk Islam? Mana saya tahu! Yang jelas, jangan samakan pemikiran khalifah kedua itu dengan nalar mistis nan gandrung cerita misteri milik Anda.

Rumah Cahaya,

Lukman Hakim Husnan

    Written by

    The Seeker

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade