Ellena Ekarahendy
Jan 6, 2017 · 1 min read

Hai, M Aan Mansyur. Terima kasih sudah mampir. Sebetulnya, setelah menulis catatan itu dan mengobrol dengan lebih banyak, tulisan itu saya urungkan. Mungkin lebih tepat jika saya sebut “undur hingga ada premis yang lebih jelas”.

Kesetaraan memang penting dan relevan, tapi tentu menuliskannya dalam konteks desain grafis dengan berbagai “kegamangan” pembacaannya sebagai disiplin ilmu dan industri, menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga diri agar tidak terjebak dalam upaya untuk menuding “patriarkisme pasti bekerja di sektor ini juga!” Pasalnya, sejauh ini saya belum menemukan rekan kerja atau sesama praktisi yang terang-terangan mendiskriminasi sesama desainer oleh karena jenis kelaminnya (sebagaimana persoalan yang saya angkat dalam catatan di atas). Alih-alih, yang saya temukan malah praktisi laki-laki yang masih memandang perempuan (di luar sejawatnya) sebatas sebagai “gumpalan daging yang cantik”, misalnya dalam konteks memilih model, promotion girls, atau bertemu dengan PR klien yang cantik, dst.

Meski demikian, persoalan perempuan dalam budaya visual secara keseluruhan tentu masih menyimpan persoalan tentang kesetaraan itu. Saya sempat ngobrol dengan desainer sekaligus penggiat literasi desain dari Malaysia, Ezrena Marwan. Dia menginisiasi Wanita Pereka—yang kemudian kami ubah menjadi Perempuan Pereka. Kami sempat membeli domain untuknya: http://perempuanpereka.net/, sayangnya kami tak kunjung sempat untuk mengelola atau melanjutkan diskusi di media sosialnya.

Kira-kira begitulah ): Semoga tak mengecewakan.

Omong-omong, saya masih penasaran tentang kesetaraan itu, sebetulnya, tapi sekarang jadi menggali tentang pembacaannya dari kacamata pekerja imaterial. Membaca soal kelas itu tadi yang lebih terang-terangannya ketegangannya. Untuk tulisan belum ada, tapi ada project yang sedang berjalan. Begitu sudah agak mantap, saya akan membuat catatan/pernyataan tentangnya (:

    Ellena Ekarahendy

    Written by

    Design, writing, research. Visual culture + political discourses. Leaving no authority unquestioned. Advocating precarious digital labor with Serikat SINDIKASI.