Bantuan Sosial vs Keadilan Sosial

Teaser of Catatan Anak Bawang Balaikota

Januari, 2015. PNS DKI Jakarta sedang melangsungkan perayaan Natal bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Saya diajak beberapa teman magang di Kantor Gubernur untuk ikut acara itu. Selama ini, sudah sering liat Ahok sharing di acara publik, tapi kalau di gereja gimana, ya?


Setelah beberapa lagu dan khotbah dari Stephen Tong, di puncak acara ada pembagian bantuan sosial seperti kursi roda. Tampaknya, ini acara rutin di setiap Natal. Warga, orang lumpuh dan lansia dinaikkan ke atas panggung dan menerima simbolis bantuan 1.500 akta kelahiran, empat kursi roda, dan dua unit rumah susun di Marunda. Mengikuti rangkaian acara berjam-jam, Ahok sempat mengkritik pemberian bantuan secara simbolis oleh panitia Natal.

Setelah penyerahan bantuan selesai, Ahok diminta naik panggung untuk memberikan kata sambutan dan ceramah. Alih-alih memberi sambutan, Ahok malah mengkritisi pemberian bantuan simbolis oleh panitia natal.

”Lain kali saya tidak mau ada acara seperti ini lagi di Pemprov DKI. Natal sebelumnya sudah kita sampaikan ke panitia agar bantuan jangan diberikan saat momen Natal. Itu sudah hak mereka dan bukan bantuan,” ujar Ahok.

Ketika mengikuti acara, saya juga merasa bingung. Kenapa kita harus memberikan bantuan sosial kepada orang susah dengan menyusahkan mereka.

“Gila ya kalian ini orang lumpuh dan lansia hanya untuk mendapatkan kursi roda satu orang, kalian paksa mereka dibawa ke sini nungguin berjam-jam dan naik panggung untuk diberikan kursi roda? Saya paling benci pencitraan seperti ini. Saya juga sering beliin kursi roda untuk orang jompo dan panti tapi enggak perlu lah saya rasa dipertontonkan seperti ini di panggung,” ujar Ahok.
“Saya dari dulu sudah bilang saya paling benci bantuan sosial. Kenapa? Karena yang dibutuhkan masyarakat itu untuk kita memperjuangkan keadilan sosial, bukan bagi-bagi bantuan sosial. Keadilan sosial itu apa? BPJS dan KJP untuk masyarakat miskin, pelayanan yang baik untuk masyarakat, warga miskin semua bisa dapat rusun. Kita aktualisasikan pesan Natal dengan memberikan pelayanan terbaik dan terus bekerja keras. Jangan lagi ada PNS yang malas,” ujar Ahok.

Perubahan mindset tengah dilakukan Ahok dengan tindakan-tindakan yang mungkin tidak populer. Ahok memperjuangkan akses yang merata untuk kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan keterampilan.

Apa yang saya dapati ini terus memengaruhi saya termasuk pada pilihan karier saya berikutnya di pendanaan ventura untuk memberikan pendanaan pada bisnis yang mampu memberikan dampak peningkatan pendapatan pada masyarakat tidak mampu. Mereka tidak diberikan dana langsung melainkan dengan peningkatan akses keuangan, pendidikan, kesehatan hingga mengurangi middle-man yang membuat mereka kerap merasa tergantung.


Tulisan ini adalah tulisan yang saya tulis di buku Ahok dan hal-hal yang belum terungkap dan merupakan cerita pribadi saya dan teman-teman yang berkesempatan untuk bekerja di balaikota bersama Pak Ahok. Ada lebih dari 30 cerita lainnya yang tidak kalah menarik di buku kami, jika tertarik silahkan membeli di link di bawah ini atau toko buku Gramedia terdekat.

https://www.gramedia.com/products/ahok-dan-hal-hal-yang-belum-terungkap