in my introverted self
Nida An K
61

Tulisan yang menarik, Mbak Nida. Berhubung saya selalu tertarik dengan orang-orang yang mendiskusikan dunia psikologi (dengan atau bukannya itu adalah bidang mereka) saya merasa perlu ikut berbicara mengenai topik ini dengan nyambung atau tidaknya isi tanggapan ini terhadap tulisan Mbak Nida.

Saya merasa terpanggil untuk ikut menanggapi karena saya juga merupakan salah satu korban dari generalisasi yang terjadi. Saya pernah mengikuti sebuah test kepribadian yang validitasnya terbukti dan menyatakan saya adalah orang dengan tipe kepribadian intovert. Namun, muncul tanggapan seperti “ah salah kali tuh testnya” “lo salah menafsirkan pertanyaannya gak?” “ah masa sih lo introvert, El?” terlepas dari itu adalah sebuah bercandaan atau bukan, yang pasti stereotype bahwa orang yang vokal, pandai bicara, banyak bicara, mudah bergaul sudah melekat di banyak kepala sebagai identitas seorang extrovert dan seakan itu adalah sebuah keanehan untuk mendengar “tipe kepribadian aku intovert kok” dari orang dengan stereotype yang tadi saya sebutkan, yaitu saya sendiri.

Karena memang untuk membagi kepribadian seseorang tidak semudah antara si banyak bicara adalah extrovert dan si pendiam adalah introvert. Mungkin dapat dikatakan dari dua tipe itu saja bisa dipecah menjadi empat kuadran lagi seperti calm extroverts, impulsive/anxious extroverts, calm introverts, dan impulsive/anxious introverts atau nama lain yang lebih terkenalnya adalah penggabungan Sanguinis-Koleris, Koleris-Melankolis, dsb . Atau bisa menjadi lebih bercabang lagi seperti teori Carl Gustav Jung, yang kemudian dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers menjadi sebuah teori MBTI yang akrab kita dengar akhir-akhir ini.

Bahkan teori-teori yang saya sebutkan tadi pun masih terus dikembangkan karena ketika bicara tentang manusia maka kita berbicara tentang ke-dinamis-an dimana teori-teori tersebut bisa mencapai tahapan “kadaluarsa”nya, karena tidak bisa diaplikasikan ke semua karakteristik manusia yang begitu beragam.

Mungkin ini efek media massa seperti internet yang kadang (bahkan sering) validitas informasinya tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan orang-orang yang tidak bisa mencerna lebih jauh informasi yang diterima sehingga tercipta bias yang ada terhadap ‘tipe kepribadian’ seseorang.

Hihi, saya selalu senang ketika bisa membahas ini baik satu arah maupun dua arah dan akan lebih senang lagi untuk bisa mendiskusikan ini bersama orang-orang yang memang sesuai bidangnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.