#sekadarcerita
Kisah Awal Menulis Buruk
Di bawah pijar lampu, di sebuah kamar, lengkap dengan suara satu dua jangkrik mengerik…
Gadis belia berkacamata itu masih saja menyetiakan diri dengan layar laptopnya yang 100% masih bersih, dengan sekali-kali mendenturkan kepalanya yang berharga itu ke sisi meja. Ia menyayangi kepalanya, tetapi kondisi yang nampak buntu itulah yang membuatnya sedikit kesal hingga tanpa sadar berbuat demikian.
Karena adalah nihil yang didapatinya. Nampak masih belum ada apa-apa, kosong. Belum ada barisan kata, meskipun tadi di awal saat memutuskan menyentuh laptop, pikirannya sudah mengembara kemana-mana. eh, tapi ternyata… pucuk dicinta ulam tak tiba. Rasa-rasanya kata-kata seperti lenyap dan menghilang cepat dari kepala begitu saja. Dan mungkin ini lantaran kesalahannya yang tak segera mencatat dulu di selembaran. Kata-kata pun pada akhirnya 'kan menguap karena tak segera diikat.
Sudah hampir setengah jam lebih waktu berjalan dan ia masih kesulitan untuk “sekedar’’ menjentikkan rasa menjadi kata, merealisasikan setumpuk imaji menjadi suatu yang bisa bermakna. Ya, begitu ia memikirkan. Ia bingung harus memulai ceritanya dari mana. Ia bingung entah karena apa, atau barangkali ia tak yakin dengan kalimatnya sendiri juga dengan kemampuan yang bisa jadi ia punya.
Tetapi ada satu yang ia tahu, kini, bahwa ia memang masih dalam tahap belajar. Jadi… bila dalam proses ini ia rasa akan menemui suatu kegagalan, seharusnya ia bisa maklum atas dirinya. Dan bukankah di waktu lain, ia masih bisa terus belajar untuk memperbaikinya bukan (?). Kegagalannya nanti, bisa jadi pintu gerbangnya untuk bisa sukses di kemudian hari.
Salah dan gagal tidak mesti final.
Gadis itu akhirnya tahu jawaban yang seharusnya. Ia hanya perlu rileks dalam menyalurkan segala yang berkelindan ini. Dan kenyataan bahwa ia hanya inginkan satu untuk saat ini: ingin bisa menulis seperti penulis idolanya yang bisa bercerita tentang banyak hal itu.
Di tempatnya, cukup lama ia terpekur seperti sedang memikirkan cara dan strategi agar impiannya itu bisa segera kekabul.
Di dunia ini... segalanya tiada yang instan, terutama dalam hal mengejar impian, yang ada itu hanya mie instan, itu makanan, tetapi impian? Jelas ia tidak bisa didapatkan lewat sesuatu yang instan. Semuanya butuh proses dan banyak pengorbanan yang mungkin akan cukup sangat melelahkan.
Dan gadis belia itu pun akhirnya mafhum, betul ia memang harus berproses dan harus lebih banyak belajar, membaca, menganalisis, mencoba, menulis, dan sabar.
Jadi, kini ia sungguh-sungguhkan niatnya itu dengan sebenar-benarnya.
Iyaa, kamu hanya perlu rileks diriku, lalu menulis…
Menulis…
Menulis…
Dan menulislah apa saja. Sesukamu, apa saja, yang keluar.
Limpahkan, limpahkanlah segalanya... Ceritakan ...
Hingga akhirnya satu dua kata ia coba ketikkan di atas keyboard, perlahan lahan. Jari-jarinya memang belum bisa menari luwes menekan tuts. Karena ia kadang-kadang juga sejenak berhenti. Dan kata-katanya banyak yang berserak, mungkin juga compang-camping di sana-sini, tapi ia terus mencoba mengetikkan segala. Tak peduli apakah dari frasa-frasa yang muncul itu nantinya bisa ditarik menjadi sebuah kesatuan utuh. Tak peduli apakah akan jadi seburuk atau sebaik apa yang penting ia menulis, batinnya.
Dan kesadaran tentang mimpinya itu kembali hinggap menyapa. Ia tersadar bila ia masih harus terus berjuang. Berjuang dalam mimpi yang nampak begitu besar ini.
“Apa gunanya punya mimpi jika tidak pernah diusahakan. Apa gunanya? jika tidak pernah ada aksi,’’demikian dirinya menggerutu. Rasa-rasanya sudah cukup banyak pergulatan yang terjadi dalam pikirannya juga pertanyaan-pertanyaan, juga bahkan rasanya gugatan-gugatan pemikiran yang tak terduga itu. Lalu tunggu apalagi, ini adalah saatnya untuk menulis.
Ia kini nampak seperti disambar gemuruh dari dalam dirinya yang beriringan dengan bunyi instrument yang baru saja ia putuskan untuk diputar. Naik turun, naik dan turunnya nada-nada itu menambah semangatnya. Sekarang gairahnya telah muncul kembali.
Gadis itu tak lagi beku dalam waktu. Ia terus melanjutkan aktivitas yang baru beberapa menit ia usahakan ini, ia ingin menemui titik bara mampunya.
Satu…dua…tiga menit berlalu dan terus sampai menuju jam. Dan malam pun semakin sunyi, menyisihkan dingin yang membalut. Tetapi gadis itu terus dan masih menulis, di tempatnya yang ditemani dengan suara instrument, suara jangkrik, juga bunyi nyamuk yang mulai haus ingin darah manusia.
Jadi, akhirnya gadis itu masih terus menulis, meskipun ia tahu barangkali dari sini ia masih jadi penulis yang buruk.
Tetapi tidak papa yang penting aku menulis, yang penting aku sudah mau mencoba. Dan ini masih akan terus berlanjut, gumamnya.
Sekian...

Image from Pinterest
Ngawi, 05 Nov 2019
