Naima
Ruangan itu bermandikan sinar kuning oranye dari matahari sore yang tenang. Aku mulai membenamkan jemariku ke dalam tuts-tuts piano. Beethoven: Piano Sonata #8 In C Minor, Op. 13, “Pathétique” — 2. Adagio Cantabile. Lagu itu lebih dikenal dengan nama Sonata Pathétique, ditulis oleh Beethoven pada tahun 1798, saat Beethoven berumur dua puluh tujuh tahun. Beethoven mendedikasikan karyanya itu untuk temannya, Prince Karl von Lichnowsky. Karya Beethoven ini sering didebatkan oleh para ahli pengetahuan musik karena memiliki kesamaan nada dasar dan bagian-bagian lagu yang mirip dengan karya Wolfgang Amadeus Mozart, Piano Sonata №14 in C minor, K. 457. Aku sendiri lebih menyukai karya-karya Beethoven daripada karya penggubah lainnya seperti Franz Joseph Haydn, Antonio Vivaldi, maupun Wolfgang Amadeus Mozart.
Aku sedang memainkan bagian akhir dari lagu tersebut ketika suara lengkingan tiba-tiba terdengar olehku. Suara lengkingan itu bersaut-sautan dengan lantunan musik dari permainan pianoku. Semakin lama, suara tersebut sampai di frekuensi yang sangat tinggi. Aku menghentikan permainan pianoku. Kali ini ditambah kepalaku yang terasa tertekan dan sangat pusing. Lantai tempatku berpijak terasa miring dan terlihat pula demikian. Ruangan disekelilingku sudah tidak berbentuk dan laut yang menjadi pemandangan diluar jendela berputar seratus delapan puluh derajat. Aku meletakkan tanganku di piano dan menjadi tempat sandaran kepalaku.
Mulutku kering berusaha memanggil siapapun untuk menolongku. Seketika aku teringat bahwa tidak ada orang di rumah yang dapat aku panggil. Aku tidak mampu bergerak untuk mencari pertolongan, lantas kuputuskan untuk menahan sakitnya. Aku membungkuk lalu menyandarkan kepalaku di tuts-tuts piano, membuat suara sumbang akibat tertekannya tuts piano yang tak beraturan. Tak lama kemudian, aku terlelap dan terbawa ke dalam tidurku yang tidak tenang.
***
Langit oranye yang hangat telah berganti dengan gelapnya langit malam tanpa bintang. Malam yang sunyi. Terlalu sunyi dari yang semestinya. Berapa lama aku telah tertidur? Melihat ke seisi ruangan, aku teringat pusing yang luar biasa hebat sore tadi.
Sudah lewat tiga tahun sejak serangan semacam itu pertama kali terjadi kepadaku. Waktu itu, aku langsung oleng dan tidak sadarkan diri. Setelah kejadian itu, aku mendengar ada suara dengungan, suara berdesis, dan suara yang menderu. Semakin aku memikirkan suara-suara itu, kepalaku sakit. Aku tak hanya bingung, tetapi juga takut. Aku bermain piano untuk mengurangi suara-suara itu. Beethoven: Bagatelle in A minor, Op. 59, “Für Elise”, kumainkan berulang-ulang. Satu-satunya lagu yang mampu aku mainkan pada saat itu.
“Naima, hei, Naima.” Tiba-tiba, suara rendah yang menenangkan menarikku kembali pada ruangan tempatku berkutat dengan piano.
***
Rasanya mataku sudah lelah melihat layar komputer. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas. Meja-meja disekitarku sudah kosong sejak 4 jam yang lalu. Lampu-lampu di ruangan lain pun sudah dipadamkan. Tinggal aku, dan dua satpam bagian jaga malam yang masih ada di kantor. “Lagi-lagi, jam segini masih di kantor.” Keluhku sambil merapihkan barang-barang di meja. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku, suara musik dari dua speaker kecil yang memutar salah satu lagu klasik favorit Naima. Beethoven: Piano Sonata #14 In C Sharp Minor, Op. 27/2, “Moonlight” — 3. Presto Agitato.
Belum satu menit lagu itu berputar, aku terpengarah. Aku sudah janji akan makan malam dengan Naima. Padahal sudah dari jauh-jauh hari aku menyiapkan sebungkus coklat hitam kesukaannya untuk menjadi santapan penutup. Akupun segera mengangkat tas jinjingku, mengambil mantel coklat milikku dan menaruhnya di bahuku.
Salah seorang satpam berjaga di pintu masuk saat aku berjalan keluar menuju parkiran mobil. “Hari yang melelahkan lagi, ya?” ucapnya. “Ya, begitulah. Aku harus semangat, ini untuk anakku. Mari, pak.” Balasku. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.
Ketika aku sampai di rumah, lampu di dalam rumah sepertinya sudah dipadamkan. Naima pasti senang kubawakan makanan favoritnya. Malam memang sudah terlalu larut, tapi tidak ada salahnya untuk kudapan tengah malam, kan? Setelah memarkirkan mobil di garasi, aku membawa tas dan juga kantong plastik berisikan belanjaanku siang tadi di jam istirahat. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu membuka pintu masuk rumah menuju dapur dan meja makan. Tidak ada lampu yang dinyalakan sama sekali. Aku menekan saklar dan tiga lampu kuning di atas meja makan langsung menyala. Aku menaruh barang-barangku di salah satu kursi lalu mengambil coklat di dalam kulkas. Sedikit tersembunyi ke arah dalam, agar Naima tidak menemukannya terlebih dahulu.
Dengan coklat di genggamanku, aku bertanya-tanya dimana Naima. “Naima?” Panggilku. Tidak ada jawaban. Aku memanggilnya lagi, namun tidak ada yang kudengar. Mungkin dia sudah tertidur. Aku memutuskan untuk melihat ke ruang duduk di belakang rumah. Biasanya Naima menghabiskan waktu bermain piano disana. Aku sedikit berlari menuju ruangan itu. Setelah menyalakan lampu, aku terkejut mendapati Naima yang bersandar di piano Adler Stuttgart milikku. Akupun berjalan mendekatinya. Perlahan, kuusap rambutnya sambil memanggil namanya. “Naima, hei, Naima.”
Naima mulai terbangun. Ia mengedipkan matanya, yang tampaknya tidak menyambut senang cahaya terang dari lampu di atasnya. Saat ia dapat melihat dengan jelas siapa yang membangunkannya, ia langsung duduk tegak dan mengalihkan pandangannya ke seisi ruangan, seperti sedang mencari-cari sesuatu.
“Pukul berapa sekarang?” bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.
“Jam sepuluh malam, sayang. Maaf, ibu tidak dapat pulang lebih awal. Ibu ingat seharusnya malam ini-“ belum sampai di akhir kalimat, Naima memotong pembicaraanku.
“Tidak apa-apa.” Suaranya sangat tajam dan dingin, aku sedikit tersentak karenanya. Kami pun terdiam selama beberapa menit. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku takut salah memilih topik pembicaraan. Aku tidak banyak mendengar cerita dari Naima. Aku hanya tahu sedikit tentang dirinya sekarang.
“Bu,” akhirnya Naima mengakhiri keheningan diantara kami.
“Ya? Ada apa?”
“Sore tadi, aku sakit kepala hebat. Pusing sekali, dan aku mendengar lengkingan yang sangat tinggi.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi. “Rasanya tidak enak. Lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.” Ucapnya dengan suara sendu.
“Apa sekarang sudah baik-baik saja? Maafkan ibu, ya, tidak bisa menemani Naima lama-lama.”
“Ya, aku merasa lebih baik sekarang, hanya saja ada suara dengungan pelan.”
Lalu kami terdiam lagi. Lalu aku teringat coklat yang kubawakan untuknya. “Naima, kamu mau ini? Sudah lama kamu tidak ibu belikan coklat ini. Ibu pikir kamu mau.” Kataku sambil mengangkat coklat ditanganku ke arahnya. Naima mengambil coklat itu dan langsung membuka bungkusnya. Setelah menggigitnya satu kali, ia tersenyum tipis dan berkata padaku, “Terimakasih, ya, bu.”
“Makan malamnya, kita tunda jadi besok, ya?” aku berharap permintaanku ini dikabulkan oleh Naima.
“Baiklah.” Balasnya singkat.
***
“Hei, maaf baru memberikannya sekarang, kemarin ada yang memasukkan dokumen ini ke ruangan saya. Ini ada lima teks yang harus dipindai dan diedit. Tolong diselesaikan hari ini ya, lalu langsung dikirim ke email saya.” Perintah atasanku, sambil menaruh satu tumpukan kertas setinggi hampir dua puluh senti di mejaku. Setelah itu, ia langsung bergegas kembali ke ruangannya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku harap bisa menyelesaikannya sebelum jam tujuh, agar aku bisa pulang dan makan malam bersama Naima. Namun, dokumen yang harus aku kerjakan ternyata memakan banyak waktu. Ketika aku selesai mengetik dokumen yang terakhir, penunjuk jam di komputerku menampilkan angka 6.15. Syukurlah, masih keburu untuk makan malam dengan Naima. Aku pun buru-buru mengirimkan dokumen-dokumen yang telah aku kerjakan ke email atasanku. Setelah mematikan komputer, aku tergesa-gesa berjalan keluar kantor, tidak sempat bertegur sapa dengan satpam shift malam yang sudah akrab denganku itu.
Di jalan pulang, aku menyempatkan diri pergi ke pusat perbelanjaan di kota untuk membelikan hadiah bagi Naima. Ketika menemukan sebuah gaun kuning berlengan pendek, dengan rok setinggi lutut, aku langsung membelinya. Naima pasti cocok memakai gaun ini. Gaun itu kini sudah dibungkus kertas kado bermotif not-not balok hitam putih, dengan sepucuk kertas berisikan pesan-pesanku untuk Naima didalamnya. Aku harap ini bisa sedikit mengurangi kebenciannya padaku.
Pukul tujuh tepat. Ketika aku sampai ke rumah pasti saat yang tepat untuk makan malam, pikirku. Namun kenyataannya tak sejalan dengan rencanaku. Jalanan ramai sekali, antrian mobil tak terhingga panjangnya. Aku mulai cemas apakah akan sampai di rumah tepat waktu. Hampir satu jam aku tertahan di kemacetan itu. Sepertinya, ada proyek perbaikan jalan yang menutupi jalan mobil dari arah lain, yang membuat berlakunya sistem buka-tutup. Setelah melewati perbaikan jalan tersebut, jalanan sangat lancar.
Sesampainya aku di rumah, aku tidak memasukkan mobilku ke garasi terlebih dahulu. Aku langsung masuk melalui pintu depan dan bergegas mencari Naima. Aku langsung tahu harus mencari kemana. Berjalan melalui ruang makan dan dapur, tidak ada. Ruang TV dan kamarnya pun kosong. Berarti tepat dugaanku, Naima pasti sedang di ruang duduk belakang rumah. Aku sekali lagi memastikan bahwa hadiah untuk Naima masih terbungkus dengan rapih, lalu mendorong pintu kayu menuju ruang duduk agar terbuka.
Keadaan di ruangan itu tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Naima tidak ada disitu. Piano di tengah ruangan itu ditutupi kain agar tidak debu. Biasanya, tutupan kain itu hanya disimpan di rak di sudut ruangan ini. Aku tidak kuat membayangkan kemungkinan terburuk yang ada di pikiranku. Aku bergegas mencari-cari ke seisi rumah, berharap menemukan Naima. Namun ia tidak ada dimanapun. Seketika, kakiku lemas dan aku menjatuhkan diri ke lantai. Hadiah yang sudah kusiapkan untuk Naima kubiarkan tergeletak di lantai bersamaku semalaman.
***
Aku Naima. Lima tahun yang lalu, aku sedang memainkan lagu dari partitur yang baru diberikan oleh guru pianoku sehari sebelumnya saat rumah guruku kedatangan tamu. Tamu itu ialah seorang konduktor ternama yang baru pulang dari pendidikan musik lanjutannya di suatu konservatorium di Austria. Dia pindah ke kota kami karena bosan dengan hiruk pikuk di kota besar tempat kelahirannya. Kebetulan, guru pianoku dan sang konduktor merupakan teman sepermainan saat mereka kanak-kanak.
Mereka berbincang-bincang di ruang duduk yang hanya dipisahkan oleh kaca tipis dengan ruangan tempatku bermain piano. Suara permainan pianoku pasti terdengar sampai ke tempat mereka. Beberapa menit kemudian, mereka berdua mendatangiku. Sang konduktor menginginkan aku untuk menjadi pianis dalam orkestranya, Infinitum. Tentu saja aku langsung mengiyakan tawarannya. Mungkin ini merupakan keputusan terbaik yang pernah kubuat selama ini. Sampai sekarang, aku masih menjadi bagian orkestra miliknya.
Setiap penampilanku tidak pernah dilihat oleh ayah atau ibuku. Ayahku seorang nahkoda kapal. Suatu hari, ia pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Sedangkan ibuku, dia sangat sibuk mengurus pekerjaannya sebagai editor di suatu perusahaan majalah. Ia selalu pulang larut malam ketika aku telah tertidur lelap. Aku rasa, ibuku tidak lagi tahan untuk mengurusku seorang diri. Apalagi setelah aku mulai mengidap penyakit gangguan pendengaran. Mungkin ia dapat melakukan sesuatu yang lebih mengasyikan di tempat kerjanya daripada menjagaku.
Malam ini merupakan perayaan satu lustrum orkestra kami berjalan. Di sepanjang jalan telah ramai dihiasi lampion berwarna-warni. Spanduk di pinggiran jalan membentuk barisan yang tak berujung. Orang-orang yang hendak menonton mulai memenuhi trotoar. Aku senang, semuanya ikut merayakan dengan gembira. Maklum, sejak sang konduktor ternama membuat orchestra yang beranggotakan anak-anak hingga remaja di kota ini, kami sangat dipuja-puja. Ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari kota kecil dipinggir laut ini.
***
Kali ini, aku bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Jauh lebih cepat dari biasanya. Aku dapat menghabiskan waktu sore hari menikmati secangkir teh di kedai yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kantorku. Dari jendela kedai, aku melihat banyak anak-anak yang sedang jalan-jalan bersama ayah atau ibunya. Andai aku tidak melewatkan masa-masa itu. Tanpa sadar, aku tersenyum dan seorang anak yang melewati kedai melambaikan tangannya padaku. Naima sedang apa, ya.
Hari mulai gelap, akupun membayar minumanku ke kasir lalu berjalan keluar kedai. Tidak jauh dari situ, aku menemukan supir taksi yang sedang mencari penumpang. Kebetulan, aku tidak membawa mobil hari ini.
Aku duduk di belakang kursi penumpang depan. Lalu lintas malam ini sangat padat. Orang-orang memenuhi trotoar dan banyak yang menyebrangi jalan dimana-mana. Sepertinya, ada suatu acara di gedung opera di ujung jalan ini. Aku melihat keluar kaca jendela taksi, dan melihat spanduk-spanduk di sepanjang jalan. Ada perayaan satu lustrum berdirinya suatu orchestra.
“Hampir seluruh penduduk disini pergi ke acara itu.” Ucap supir taksi tiba-tiba.
“Aku baru tahu ada acara ini.” Gumamku.
Setelah lima belas menit, posisi kami tak juga berubah. Aku memulai percakapan untuk mengurangi kebosananku.
“Anakku gemar bermain piano. Mungkin dia akan senang jika menonton orchestra semacam itu.”
“Wah? Mungkin dia sudah tau tentang orchestra itu. Soalnya, ada pemain piano yang hebat juga di orchestra itu. Yang saya dengar, dia bermain dengan sangat menghayati lagunya. Kebanyakan orang yang datang ya karena pengen melihat dia.” Supir taksi itu menjelaskan dengan bersemangat.
“Sepertinya menarik. Tapi sayang sekali, sekarang aku dan anakku tidak saling tahu kabar masing-masing.” Balasku. Supir taksi itu langsung diam sembari melihatku melalui kaca spion. Aku memberikannya senyuman untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Ia pun membalas senyumku lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah jalan yang macet.
Aku penasaran dengan pianis yang diceritakan oleh supir taksi ini. Apa memang sehebat itu permainannya? Mungkin tidak ada salahnya aku datang menikmati acara seperti ini sekali-kali. Aku langsung mengambil uang dari dalam dompetku dan menyerahkannya pada supir taksi. “Pak, saya turun disini saja. Kembaliannya bapak simpan saja.”
“Terima kasih banyak, ya, bu!” ucap supir taksi itu sambil mengangkat satu tangannya ke arahku.
***
Aku duduk di barisan ke-lima dari depan. Sedikit terlalu dekat dengan panggung, namun tidak masalah. Permainan orkestranya yang indah seakan menghipnotisku. Aku memejamkan mata dan meresapi salah satu karya Antonio Vivaldi, Le Quattro stagioni, Concerto №1 in E, “La primavera”.
Rasanya terlalu cepat, lagunya sudah mencapai bagian akhirnya. Pembawa acara menyebutkan, yang berikutnya akan tampil adalah pianis yang akan solo membawakan karya Beethoven, Piano Sonata #21 In C, Op. 53, “Waldstein” — 1. Allegro Con Brio. Setelah pembawa acara mempersilahkan penampil berikutnya untuk naik ke panggung, sang pianis yang ditunggu-tunggu muncul dari belakang panggung.
Ia terlihat familiar olehku. Badan ramping yang tegap dan gerak-gerik yang lembut mengenakan gaun kuning tanpa tangan, dengan rok setinggi lutut. Ia membungkuk, memberi hormat sebelum memulai penampilannya. Setelah membenarkan posisi duduknya, ia langsung memainkan lagu klasik yang sangat memanjakan telingaku. Aku terpaku dan tidak bisa memikirkan apapun kecuali seorang gadis diatas panggung itu.
Di akhir penampilannya, ia kembali berjalan ke tengah panggung untuk memberikan hormat, sambil mencuri pandangan ke arah penonton. Ia seperti sedang mencari seseorang. Lalu pandangannya menuju ke arahku. Gerak-gerik tubuhnya menjadi lebih kaku dan tegang, raut wajahnya pun berubah. Tak lama kemudian, ia membalikkan badannya dan berjalan keluar dari panggung. Aku tidak mungkin salah, Ia adalah anakku, Naima.
***
Aku Naima. Tujuh tahun yang lalu, aku sangat kesal dengan ibuku lalu memutuskan untuk pergi dari rumah. Awalnya aku begitu yakin atas keputusanku. Aku pikir, dengan kepergianku, ibu dapat merasakan betapa tidak enaknya ditinggal seorang diri. Aku menumpang tinggal di rumah guru les pianoku dulu. Dia orang yang sangat baik, dia mengizinkan aku tinggal di rumahnya sampai kapanpun aku mau. Dia tidak menikah dan tinggal seorang diri di rumah yang dapat dibilang terlalu luas untuk dirinya sendiri.
Setelah empat hari aku tinggal di tempat guruku, aku mulai khawatir. Bagaimana keadaan ibuku? Apakah dia tidak apa-apa? Apa yang dia katakan pada saudara atau kerabatnya soal ini? Kira-kira pertanyaan itulah yang muncul di benakku saat itu. Aku berusaha tidak terlalu memikirkannya dan mulai bermain piano dengan serius. Aku rasa inilah satu-satunya caraku untuk pergi dari keresahan dan kegelisahanku selama ini. Bermain piano.
Sejak saat itu, setiap hari aku dapat bermain piano hingga sepuluh jam. Setiap dua hari sekali, guruku memberikan partitur lagu yang belum pernah kumainkan sebelumnya. Dari sekian banyak lagu yang telah kumainkan, favoritku adalah karya-karya Ludwig Van Beethoven.
Di malam perayaan ini, aku akan memainkan salah satu karya Beethoven, Piano Sonata #21 In C, Op. 53, “Waldstein” — 1. Allegro Con Brio. Sebelum giliranku tampil, aku mengintip dari belakang panggung untuk melihat para penonton. Dari bangku di baris pertama sampai di paling belakang penuh terisi penonton. Tidak kusangka akan seramai ini. Aku memasuki panggung dan berjalan ke tengah-tengahnya untuk memberi salam hormat. Aku harap permainanku tidak mengecewakan.
Segera setelah aku menyelesaikan permainanku, aku berjalan ke depan panggung lagi mendekati penonton untuk memberikan hormat. Aku menemukan guru pianoku duduk di barisan kedua dari depan. Namun sosok yang duduk di bangku beberapa baris diatas guruku-lah yang menarik perhatianku. Ia tidak asing di mataku, walaupun aku dulu jarang melihatnya. Ia tampak lebih kurus, memakai kemeja merah muda yang digulung lengannya sampai siku. Aku tidak mengira akan melihatnya di bangku penonton. Aku langsung membalikkan badanku dan berjalan keluar panggung. Melewati para pemain violin yang hendak menaiki panggung, aku berjalan dengan cepat menuju ruang gantiku dan mengurung diri disana. Aku sangat kebingungan dan juga tak percaya. Mengapa Ibu menontonku tampil di orkestra?
***
Aku sudah menunggu sekitar lima belas menit di depan pintu keluar area teater tempat orkestra Infinitum baru saja tampil. Diantara orang-orang yang berhamburan keluar, aku menemukan orang yang aku tunggu-tunggu, guru piano Naima. Aku buru-buru mencegatnya.
“Eh, selamat malam.” Sapaku.
“Selamat malam, bu. Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.” Balasnya sambil tersenyum padaku.
“Baik.” Kataku. “Tadi itu, Naima sangat hebat.” tambahku, bingung bagaimana cara memulai pembicaraan ini.
“Iya, dia sangat antusias jika berhubungan dengan piano. Dia berlatih setiap hari.”
Kata-katanya sedikit membingungkanku. Mengapa dia bisa tahu tentang semua itu? Seperti membaca pikiranku, ia langsung berkata padaku.
“Naima tinggal bersamaku sejak tujuh tahun yang lalu. Sebenarnya, Naima memintaku merahasiakan ini darimu. Tapi kurasa sudah saatnya untuk menceritakannya.”
Aku hanya terdiam, masih belum dapat menerima kata-katanya.
“Maafkan aku, tetapi Naima memohon dengan sungguh-sungguh dan selalu memastikan bahwa aku tidak memberitahumu. Dia sangat sedih di beberapa minggu pertama ia datang ke tempat tinggalku.”
Aku tidak mampu berkomentar.
Beberapa saat kemudian, dia melanjutkan kalimatnya. “Dia merasa, kau tidak lagi ingin mengurusnya. Dia merasa dia tidak dipedulikan lagi. Dia sangat kesepian ketika seharian penuh sampai larut malam kau tidak berada di dekatnya. Dia menunggumu untuk berbicara kepadanya tentang hal ini. Dia menginginkan penjelasan darimu. Dia membutuhkannya.” jelasnya.
“Aku tentu masih menyayanginya. Aku sangat menyayanginya. Naima, dia,” aku kehilangan suaraku sejenak. Aku merasa sesak, dan pandanganku mulai kabur karena butiran air mata yang mengumpul di mataku. Aku berusaha melanjutkan, “Dia terlihat sangat tersiksa dengan penyakitnya. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu terus. Aku berusaha mengumpulkan uang untuk pengobatan dan perawatannya.” Aku mulai meneteskan air mataku.
“Aku tentu ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Mengajaknya berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau sekedar membeli makan siang. Tetapi aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku sulit mencari pekerjaan lain yang lebih baik karena aku tidak memiliki keahlian khusus, karena itu aku harus berusaha untuk menaikkan jabatanku. Tapi kantorku baru kehilangan beberapa investor, jadi upah kami diturunkan. Aku harus lembur lebih lama agar mendapat uang yang cukup. Aku sangat ingin disambut ketika di malam hari aku pulang dari kantor. Tetapi aku pulang terlalu malam, tentu Naima sudah tidur terlelap. Aku ingin sekali-kali menemaninya sebelum ia tidur, mendengarnya bercerita tentang kesehariannya, yang jujur aku tidak pernah tahu.” Aku menjelaskan panjang lebar.
Lawan bicaraku hanya terdiam seperti meresapi apa yang baru aku katakan.
“Suatu hari aku berjanji akan makan malam bersamanya. Aku bisa pulang sedikit lebih awal, tapi aku mampir terlebih dahulu ke sebuah toko untuk membelikannya hadiah. Ternyata jalan ke arah pulang penuh sekali, aku tertahan di jalan selama hampir satu jam. Ketika aku sampai di rumah, aku mendapati Naima telah pergi.” Ucapku dengan penuh rasa kecewa. Perasaanku pedih setiap kali mengingat kejadian itu.
“Seharusnya kau jangan takut berbicara padanya. Naima juga perlu mendengar cerita darimu.” Ujarnya.
***
Aku masih terdiam di depan cermin di ruang ganti. Kejadian tadi masih aku pikirkan. Apa ibu berhenti bekerja? Mengapa ia bisa datang ke acara seperti ini dan menontonku. Dari semua pertanyaan atas kebingunganku, ada sedikit rasa senang di dalam hatiku.
Ketukan di pintu sedikit membuatku terperanjat. Aku pikir tidak ada orang lagi di gedung ini.
“Ya?” kataku, sambil bertanya-tanya siapa yang hendak menemuiku.
Guru pianoku menjulurkan kepalanya melalui pintu dan masuk ketika aku mengangguk kepadanya. Ia bersandar ke meja hias di depanku lalu berkata, “Naima, ada yang harus aku beritahu kepadamu.”
Aku hanya melihat kepadanya dengan penasaran.
“Ini tentang ibumu.”
***
Aku dipenuhi perasaan bersalah. Apa yang aku kira tentang ibuku selama ini ternyata salah. Guruku menceritakan semua yang dikatakan ibuku kepadanya.
Rupanya ibuku menunggu di luar ruang ganti. Ia takut bagaimana aku akan bereaksi kepada . Tentu saja aku memaafkannya. Akulah yang seharusnya malu dan meminta maaf kepadanya. Aku sempat ragu harus bagaimana ketika berhadapan denganya, entah apa yang mendorongku untuk melakukannya, aku memeluk ibuku. Aku tidak kuasa menahan gejolak emosi di dalam diriku, kemudian tangisku pecah dan membasahi bahu ibuku. Entah berapa lama kami diam di posisi ini, tapi aku tidak keberatan, aku tidak ingin melepaskan pelukanku.
***
Hal ini baru pertama kali aku rasakan. Duduk di kursi penumpang depan dengan Ibu menyetir di sebelahku. Aku senang sekali, belum pernah aku pulang bersama ibuku.
Ketika mobil kami berhenti di depan rumah, aku baru menyadari betapa rindunya aku dengan tempat ini. Kami pun masuk melalui pintu samping rumah yang langsung menuju dapur dan ruang makan. Tiba-tiba aku pusing, dan kepalaku sakit sekali. Aku langsung terjatuh bersama semua barang-barang yang kubawa. “Naima! Kamu kenapa?!” ibuku bertanya dengan sangat cemas. Sakit sekali, aku tidak bisa menemukan kata apa yang harus aku ucapkan. Satu tanganku digenggam dengan erat oleh ibuku. Satu lagi memegang kepalaku, berusaha menahan sakit. “Aa… A..” aku berusaha berbicara.
“Kenapa? Apa? Bilang pada ibu.” Ibuku berbicara dengan sangat cepat. Ia terlihat sangat khawatir.
“Sa..sakit.”
“Sakit sekali.” tambahku. Kali ini memang rasanya sakit sekali. Jemariku meremas genggaman tangan ibuku. Aku tidak lagi bisa menopang badanku, dan seketika terjatuh, dinginnya lantai ruang makan langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Lalu aku merasa diriku diangkat oleh ibu. Tak lama kemudian, aku hilang kesadaran.
***
Dimana ini?
Mataku dibuat silau oleh sinar putih yang nyala-padam terus menerus. Ternyata sinar itu berasal dari lampu-lampu rumah sakit yang diatur berjarak dua meter satu sama lain. Aku sedang terbaring di kasur yang didorong oleh empat orang di masing-masing ujung kasur. Di sampingku, ibuku mengikuti keempat orang itu dengan setengah berlari. Wajahnya sangat khawatir. Saat menyadari aku sedang mengamatinya, ia memberikan senyuman yang dimaksudkan untuk menenangkanku. Aku berusaha membalas senyumannya, tetapi aku hanya mampu melengkungkan sedikit bibirku dan berkedip kepadanya.
Setelah didorong beberapa meter lagi, aku mendengar suara pintu yang dibuka lalu Ibuku tidak lagi ada di sebelahku. Dokter memberikan suntikan obat bius, lalu aku menjadi lemas dan tidak sadarkan diri.
***
Aku Naima. Sepuluh tahun yang lalu, aku didiagnosa menderita penyakit Meniere. Penyakit ini adalah gangguan telinga bagian dalam yang menyebabkan vertigo secara tiba-tiba, terasa seperti sedang dalam gerakan berputar, bersama dengan kehilangan pendengaran sementara ataupun permanen, tinnitus atau juga dapat disebut dering di telinga, dan kadang-kadang perasaan tekanan di telinga. Efek ini terasa hanya dalam hitungan detik atau menit.
Biasanya orang yang terkena penyakit ini adalah orang yang berusia empat puluh sampai lima puluh tahun. Namun, siapapun dapat mendapat penyakit ini. Para ahli belum dapat menyimpulkan apa penyebab dari penyakit Meniere ini. Tetapi, ini ada kaitannya dengan cairan di dalam telinga yang disebut endolymph. Di telinga penderita penyakit Meniere, cairan ini terlalu banyak dihasilkan sehingga menekan ke bagian telinga dalam yang juga merupakan pengontrol keseimbangan.
Awal mulanya, penyakit ini hanya menyerang telingaku yang sebelah kanan. Tapi semakin lama, telinga kiriku juga merasakan hal yang sama. Setelah terkena efek dari penyakit ini, aku selalu mendengar lengkingan atau dengungan di telingaku. Hal itu memang tidak terlalu berbahaya pada kondisi fisikku, tetapi itu sangat mengganggu pikiranku. Inilah yang mendorongku mencoba memainkan piano milik ibu di ruang duduk belakang rumahku.
Meskipun penyakit Meniere dianggap sebagai kondisi kronis, berbagai strategi pengobatan dapat membantu meringankan gejala dan meminimalkan dampak jangka panjang penyakitnya. Tetapi aku tidak memilih untuk melakukan pengobatan apapun, menurutku piano saja sudah sangat membantuku, sampai di malam perayaan satu lustrum orkestra Infinitum.
Malam itu, efek yang muncul sangatlah menyakitkan. Belum pernah terasa seperti itu. Aku sangat tidak tahan, ibuku yang sedang menyiapkan makan malam segera menggotongku ke dalam mobil dan membawaku ke rumah sakit. Aku menjalani operasi yang disebut labyrinthectomy. Yaitu mengangkat bagian dari telinga bagian dalam dengan tujuan untuk menghilangkan vertigo. Menurut dokter, itu akan berhasil tetapi beresiko menghilangkan kemampuan pendengaranku secara total. Aku tidak keberatan, asalkan sakit di kepalaku juga hilang.
Operasi itu berjalan semalaman. Ketika aku telah sadarkan diri, ibuku tertidur di sebelahku sambil menggenggam tanganku. Aku menggerakan tanganku untuk membangunkan ibuku. Sejenak ia mengedip-ngedipkan matanya lalu langsung melihat keadaanku. Mulutnya bergerak seperti sedang berbicara padaku, namun aku tidak mendengar sepatah katapun darinya, jadi aku menggelengkan kepalaku. Ibu terlihat kaget melihat reaksiku, namun langsung tersenyum dan mengusap kepalaku. Aku tidak ingat apa dulu ibu pernah melakukan ini padaku. Ini terasa sangat nyaman, dan membuatku merasa disayangi.
***
Aku berdiam diri di ambang pintu ruangan itu. Ruangan itu masih dibanjiri sinar kuning-oranye saat sore hari. Aku tidak melihat adanya perubahan. Lalu aku melangkahkan kakiku menuju piano di tengah ruangan itu. Hangat rasanya berada disekitar alat musik ini. Tidak tahan, akupun membuka tutup kain yang sudah dilapisi debu. Lalu aku mengangkat fallboard yang masih mengkilap. Setelah terbuka, aku menekankan jari telunjukku pada salah satu tuts. Martilnya memang sudah bergerak memukul dawai di dalam tubuh piano, namun aku tidak dapat mendengar apa-apa. Sambil menutup mata, aku melanjutkan permainan pianoku. Tidak kusangka akan seperti ini, jemariku masih handal menari-nari dan bercengkrama bersama tuts-tuts piano.
Aku memang tidak lagi mendengar apapun. Tidak dengar bunyi piano, bunyi ombak dari depan rumah, bunyi pintu garasi di malam hari ketika ibuku pulang, juga bunyi lengkingan dan bunyi dengungan. Tidak ada lagi yang mampu kudengar. Bagaimana aku tahu permainanku bagus dan nyaman untuk didengar atau tidak? Aku tidak tahu. Tapi aku tahu setidaknya satu orang akan senang. Ia sedang mendengarkanku sekarang. Seseorang bertubuh ramping yang mengintip dari luar ruangan. Perlahan dia melangkah kearahku. Ketika mataku bertemu dengannya, ia menatap dengan tatapan lembut namun ragu-ragu. Sejenak aku berhenti memainkan piano lalu dia tersenyum. Senyumannya segera tercermin di wajahku, dan aku melanjutkan permainan pianoku.
Kurasa ini hal yang paling menyenangkan.
Elvina F. Dhata
Cerpen ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas pelajaran Bahasa Indonesia di SMA yang rampung pada tanggal 31 Oktober 2014. Diunggah sebagaimana tulisan aslinya, tanpa perubahan sedikit pun dari 4 tahun yang lalu.
