[OPINI] Menjadi Manusia dan Bahagia: Sebuah Makna dalam Membaca Zein Permana

Seringkali kita menemukan diri dalam keadaan yang tidak baik. Bahkan terkadang keadaan itu justru menjadi pemecah mood, kondisi tubuh, dan hilangnya energi positif yang ada di dalam tubuh kita. Menjadi manusia dan bahagia barangkali dapat dikatakan sebagai solusi untuk menyelamatkan diri dalam keadaan yang tidak baik. Lalu, bagaimana menjadi manusia dan bahagia?
Melalui Zein Permana, saya menemukan satu jawaban yang melegakan. Sekitar dua minggu lalu, saya menyaksikan video podcast beliau mengenai “Penjara Diri”, dan, ya, saya merasa lega setelah menontonnya dan ingin sekali saya bagikan pada teman semua.
Penjara Diri. Dua kata dari Zein Permana yang melambangkan ketidakmampuan manusia untuk memerdekakan dirinya, dan berupaya menjadi manusia yang bahagia.
Lalu, apakah itu penjara diri?
Penjara diri adalah keadaan di mana seseorang tidak bisa beranjak kemana-mana, padahal sesungguhnya ia mampu melakukan hal-hal lebih banyak lagi selain mencemaskan keadaannya yang telah lalu, atau nasibnya yang akan datang. Istilah singkatnya penjara diri ini merupakan kondisi yang stagnan: kamu tidak bisa ngapa-ngapain, lho! kamu seperti diam di tempat, padahal ada masa yang akan kamu jalani, sementara kamu masih merasa diintai oleh bayang-bayang masa lalumu.
Nah, mengenai masa datang dan masa lalu. Dalam pembahasan penjara diri ini, kedua hal tersebut menjadi satu di antara tiga penyebab mengapa manusia: kita-kita, bisa terjebak dan masuk menjadi narapidana di dalam diri kita sendiri. Yakni, dimensi waktu.
Seperti yang dipaparkan oleh Zein Permana, dimensi waktu dalam kaitannya dengan penjara diri ini memiliki dua sisi masa: masa lalu dan masa kini. Kaitannya tentu intens, seseorang yang merasa dirinya terpenjara akan lebih sering mencemaskan masa lalunya yang barangkali tidak asyique, atau menerka seperti apa masa depannya yang kemungkinan tidak bisa ia genggam karena ia terjebak pada masa kini yang statis. Keadaan ini bisa merenggut siapa saja yang memiliki kedua dimensi waktu itu dalam kehidupannya. Baik tua, maupun muda.
Selanjutnya, intrapersonal. Nah, selain dimensi waktu, penyebab diri menjadi terpenjara dikarenakan adanya jarak antara ideal dan aktual yang seharusnya ideal kita berada pada kondisi A, ternyata aktualnya kita hanya mampu mencapai kondisi B. Seharusnya saya sebagai pengajar dapat menuntaskan goals pendidikan di sekolah itu dengan baik secara keseluruhan, aktualnya ternyata saya hanya mampu mengerjakan seperempat dari goals itu dan bahkan tidak tuntas. Atau idealnya kamu sebagai mahasiswa/pelajar dapat meraih tingkat pertama dari pelajar lain, ternyata yang terjadi malah kamu gagal meraih hal itu, dan segala jenis permasalahan yang timbul di kehidupan kita yang tidak sesuai dengan idealnya. Lalu mengapa bisa seperti itu? Karena, ekspektasi untuk diri kita sendiri terlalu tinggi, sementara apa yang kita kerjakan tidak terlalu tinggi sehingga tidak dapat menyeimbangkan kondisi idealnya. Keadaan itu terjadi karena kurangnya action yang kita bangun untuk diri sendiri serta tuntutan idealnya tidak pernah berdamai dengan keadaan aktual. Artinya, kita tidak bisa menjadi mediator dalam menyelaraskan kondisi ideal dengan kondisi aktualnya.
Lanjut pada penyebab terakhir yakni interpersonal. Hampir sama dengan intrapersonal. Kali ini interpersonal justru disebabkan adanya ekspektasi kita untuk orang lain, dan ekspektasi orang lain untuk kita, sehingga ketika ekspektasi ini tidak terlaksana dengan baik akan ada beberapa penyakit yang menyerang diri kita seperti kecewa, galau, baper, dan macem-macem, deh! Misalnya saja ekspektasi orangtua kita akan keberhasilan karir maupun studi yang kita lalui, dapat menyerang diri kita pada akhirnya jika realitanya harapan orangtua itu bukanlah jalan yang begitu ingin kita miliki: orangtua ingin kamu menjadi dokter bedah, sementara yang kamu inginkan adalah menjadi seniman. Lalu kamu berhasil galau dalam mengatasi dan memperbaiki komunikasimu dengan orangtua, bagaimana meyakinkan orangtua tanpa sedikit pun menyakitkan perasaannya. Atau kamu akan bingung memilih keduanya, sehingga dalam menjalani hidupmu kamu tidak merasa bebas. Contoh lain: misalnya kamu punya ekspektasi ke pasanganmu untuk selalu ada dan sedia mendampingimu. Namun keadaannya justru pasanganmu hanya mampu memberimu sedikit kebahagiaan, sehingga yang terjadi kamu kecewa, galau, baper sampai darah daging. Atau ketika kamu sudah putus dengan pacarmu, kamu berharap dia bisa membuka hatinya kembali dan memulai hubungan baru denganmu. Tetapi justru ia memilih memulai hubungan baru dengan yang lain. Lalu kamu galau, merasa hancur, sehingga kamu tidak bahagia.
Nah, temen-temen. Ada tiga domain agar kita bebas dari penjara diri ini dan menjadi manusia yang bahagia. Yakni, pikiran, perbuatan, dan perasaan. Dan ketiganya harus kita isi dengan energi positif. Bagaimana mengisi pikiran, perbuatan, dan perasaan kita dengan segala sesuatu yang positif serta mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda, sehingga kita menganggap ini bukanlah sebuah persoalan yang membuat diri kita hancur. Bagaimana ketika terjadinya ketidakselarasan antara ideal dan aktual, ekspektasi dan realita, serta masa lalu dan masa kini yang statis, kita bisa mengambil segi positifnya. Ketika putus dengan pacar, lalu kita mengisi pikiran kita dengan anggapan yang baik: “Ah mungkin, sudah saatnya untuk berpisah. Sebab barangkali kalau tetap bersama, aku akan tersakiti lebih dan lebih”. Semua domain itu diisi dengan sesuatu yang baik, yang tidak menimbulkan masalah untukmu. Sehingga ketika ketiga domain itu sudah bergabung dalam tubuh kita dengan baik, kita bisa mampu memaafkan. Menjadikan segala permasalahan bukanlah soal yang rumit untuk dimaafkan, berdamai dengan luka dan tangis-tangis yang merenggut jatah bahagia kita. Dengan begitu kita dapat menjadi manusia dan bahagia. Mampu menentukan goals hidup kita. Mampu menghujani tubuh dengan sukacita. Mampu menjadi mediator yang asertif, untuk segala macam masalah yang agresif: membunuh bahagiamu, dan memenjarakan dirimu.
***
