Surat Kepada Kita Sebelum Sunyi

Sebelum sunyi merenggut nyala langit yang hitam seperti bola matamu, atau menawar gelap di perbatasan kota yang akan melenyapkan kata dan kita di dalamnya. Sebelum kobar api berkibar di dada masing-masing, atau meja makan yang penuh dengan dusta dan seribu percakapan kosong. Selalu kutulis puisi untukmu yang puitis, sambil menghitung detak detik jam yang melonggar ke kanan. Aku merasa hari-hari berlalu cepat. Dan mencintaimu adalah pengulangan-pengulangan yang kuhafal luar kepala. Tetapi pelukanmu ialah dikte seorang guru di depan kelas lalu aku adalah murid yang tak pernah hadir mengisi absensi.
Sebelum sepi menjadi asap bekas kau membakar pertanyaan dariku. Atau cairan duka yang kau tuang ke dalam mangkuk berisi sup panas kesukaanku. Sebelum warna gelisah menjadi baju yang sering kukenakan kemana-mana, atau teh pucat yang menjadi sarapan pertamaku setelah tidak ada kau di mana-mana. Selalu kuucapkan selamat pagi untukmu, sambil mengecup doa-doa pagi dari kening langit yang masih biru.
Sebelum hujan air mata melemparkan gigil yang murka, aku pernah menjadi renjana yang menyusup ke sela-sela pelukanmu yang tiada. Menerka-nerka bagaimana kedua tangan ini bersilang dan saling menyulang hangat. Mengingat-ingat akan seperti apa kepalaku ketika bersembunyi di balik dadamu yang tak berbunyi — aku.
***
