Surat Kepada Kita Sebelum Sunyi

Ely Rizki
Ely Rizki
Sep 3, 2018 · 1 min read

Sebelum sunyi merenggut nyala langit yang hitam seperti bola matamu, atau menawar gelap di perbatasan kota yang akan melenyapkan kata dan kita di dalamnya. Sebelum kobar api berkibar di dada masing-masing, atau meja makan yang penuh dengan dusta dan seribu percakapan kosong. Selalu kutulis puisi untukmu yang puitis, sambil menghitung detak detik jam yang melonggar ke kanan. Aku merasa hari-hari berlalu cepat. Dan mencintaimu adalah pengulangan-pengulangan yang kuhafal luar kepala. Tetapi pelukanmu ialah dikte seorang guru di depan kelas lalu aku adalah murid yang tak pernah hadir mengisi absensi.

Sebelum sepi menjadi asap bekas kau membakar pertanyaan dariku. Atau cairan duka yang kau tuang ke dalam mangkuk berisi sup panas kesukaanku. Sebelum warna gelisah menjadi baju yang sering kukenakan kemana-mana, atau teh pucat yang menjadi sarapan pertamaku setelah tidak ada kau di mana-mana. Selalu kuucapkan selamat pagi untukmu, sambil mengecup doa-doa pagi dari kening langit yang masih biru.

Sebelum hujan air mata melemparkan gigil yang murka, aku pernah menjadi renjana yang menyusup ke sela-sela pelukanmu yang tiada. Menerka-nerka bagaimana kedua tangan ini bersilang dan saling menyulang hangat. Mengingat-ingat akan seperti apa kepalaku ketika bersembunyi di balik dadamu yang tak berbunyi — aku.

***

    Ely Rizki

    Written by

    Ely Rizki

    Introvert yang kadang menemukan dirinya dalam keadaan ekstrovert.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade