Sebuah Percakapan Kosong, dan Tanggal yang Tak Pernah Merah dari Doa-Doa

Ely Rizki
Ely Rizki
Sep 4, 2018 · 1 min read

Kemarin aku membaca berita di media sosial tentang tenggelamnya kapal motor penumpang. Entah berapa jiwa yang hilang — tidak tahu, tidak pasti. Seperti waktu yang kusimpan untuk menunggumu kembali.

Di dalam rimbun napas pengunjung cafe pagi ini, orang-orang duduk bermeja sambil menutup suam percakapan. Menatap layar ponsel berlama-lama. Entah apa yang mereka saksikan — tidak tahu, tidak jelas. Serupa kabut di kepala Gunung Sibayak, serupa kaki-kaki angin yang membawa perasaanmu pergi.

Kuhirup udara kesunyian dari ruang ini: raung yang pernah hangus ditelan percakapan kosong. Sambil menawar suhu pada air yang kuteguk ketika cuaca sedang dingin dan hanya pada tubuhku, tentu saja.

Akan kusingkirkan batu-batu yang membuat badanku tersungkur pada kubang-kubang perkabungan.

Akan kubentang segala benteng agar sepasang lenganku memahami kehampaan.

Sungguh, tak akan pernah kau temukan di sini selain pengap serta kerumunan bahasa yang tak sanggup kau cerna. Di antara percakapan kosong dan tanggal yang tak pernah merah dari doa-doa, keinginan bersua dan damba selalu menyiasati hari-hari yang semakin renta, tetapi barangkali kau tak pernah merasakan tubuhmu baka oleh kemurungan. Sementara hasratmu lengah dan fana dari lekuk perasaanmu yang semakin hari kian tiada.

    Ely Rizki

    Written by

    Ely Rizki

    Introvert yang kadang menemukan dirinya dalam keadaan ekstrovert.