A Boy with Blue Jacket
Sekarang sudah lewat dari satu jam aku memerhatikan dia dari jarak sedekat ini. Sebelumnya aku bahkan tidak berani memutar kepalaku untuk sekedar melempar senyum kepadanya. Dengan jarak sedekat ini aku bisa melihatnya sampai puas tanpa dia menyadari aku sedang memerhatikannya, sangat memerhatikannya, dengan seksama.
Dari tadi aku terus saja menambah bahan obrolan agar dia tidak pergi dan terus berbicara denganku. Mungkin obrolan ringan ini tidak benar-benar berarti, mungkin setelah obrolan ini dia hanya akan berpikir kalau aku hanya perempuan dengan otak standar yang banyak omong. Biar saja, setidaknya sekarang aku tahu berapa kerutan yang muncul di ujung matanya ketika dia tertawa. Aku tahu kebiasaannya merengut ketika ada yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Aku tahu nada bicaranya akan lebih bersemangat ketika aku menyinggung topik tertentu. Aku tahu kalau dia senang mengacungkan jari telunjuknya ketika berbicara. Aku juga tahu lagu favoritnya, karena dia selalu bersenandung kecil saat ada kesempatan. Setelah ini aku bisa mengunduh lagu yang dia nyanyikan, jadi di lain kesempatan aku bisa ikut bersenandung dengannya.
Aku tidak pernah sadar kalau laki-laki ternyata bisa semenarik ini. Aku baru tahu, kalau laki-laki yang selalu mengenakan jaket biru di depanku ini bisa membuatku tahan berlama-lama hanya mendengarnya berbicara. Aku baru tahu ada yang bisa dengan yakin mengucapkan impiannya, dan membuat aku percaya seketika kalau dia sangat bisa menggapai cita-citanya.
Apa aku sedang jatuh cinta?
Hari ini dia kembali mengenakan jaket biru. Aku kembali memerhatikannya diam-diam. Aku sedang menikmati hiburan soreku, hiburan soreku adalah melihat wajah bingungnya karena tidak tahu harus ke mana atau wajah bingungnya ketika menunggu teman. Kali ini aku tidak bisa menebak arti wajah bingungnya. Aku kemudian hanya puas menikmati 3 menit berharga ketika dia hanya mondar-mandir di depanku, dan menikmati 3 detik berikutnya ketika dia membalas sapaanku, dan setelah dia pergi aku menikmati 10 detik tambahan, hanya meilhat punggungnya menjauh.
Segila itu kah aku sekarang? Ya.
Semakin hari, semakin sering aku mengajaknya berbicara. Setiap kali selalu lebih mudah dari sebelumnya. Tetapi tidak lebih lama dari sebelumnya. Dia sepertinya menganggap aku bukan teman ngobrol yang pintar. Dia seringkali hanya beberapa detik duduk di sebelahku lalu pergi untuk urusan lain. Sekarang aku sadar satu lagi kebiasaannya, pergi tanpa pamit. Sedetik aku melihatnya di sebelahku, sedetik dia pergi dan aku hanya bisa melihat punggungnya dari belakang. Lama-lama aku mungkin akan lebih sering melihat punggungnya daripada wajahnya.
Aku semakin mengenalnya. Aku tahu buku favoritnya, lagu favoritnya, jumlah adiknya, nomor sepatunya, warna seprai kasurnya, tim sepak bola favoritnya, teman dekatnya, cita-citanya, makanan kesukaannya, jadwal olah raganya, aku tahu banyak.
Satu hal yang selalu lupa aku tanyakan, punya pacarkah dia?
Aku tidak tahu. Sampai sekarang aku hanya menerka-nerka dari update linenya, dari tulisan di blognya, dari kicauan twitternya. Mungkin dia sudah punya seseorang, apapun dia menyebutnya, mungkin ada satu perempuan yang berhasil menarik hatinya. Kemungkinan besar dia memang sudah punya seseorang, dan aku bisa apa?
Aku masih senang melihatnya dari jauh, masih senang memerhatikannya dari dekat. Masih berharap senyuman dan sapaannya. Masih dengan cepat menyadari kehadirannya. Kalian pasti tahu saat paling menyenangkan dari jatuh cinta adalah ketika kita harap-harap cemas akan kehadiran orang itu atau ketika menunggu sapaannya. Saat dia menyapa dengan cepat kita berusaha untuk menahannya tetap berbicara selama mungkin dengan kita. Momen seperti itu justru sangat menyenangkan.
Selain itu, aku oun masih berharap dia tidak punya siapa-siapa. Berharap perempuan yang tidak sengaja dia sebutkan itu hanya fiktif. Berharap nanti, dia muncul sendiri tanpa siapapun di sampingnya. Berharap aku masih ada harapan untuk menjadi harapan untuknya. Berharap cerita ini akan berakhir lebih bahagia dari cerita sebelumnya.