Luapan emosi dan logika

Lagu itu dengan seketika membawa seribu penggalan cerita masuk berdesakan ke ruang hampa dalam kepala, mencoba mencari eksistensinya sendiri dengan usaha-usaha untuk mengingatkan bahwa cerita itu belum memiliki alurnya.

Serentetan nada yang masuk ke telinga dengan sama berdesakannya membangunkan gairah-gairah akan keinginan untuk kembali memutar kenangan-kenangan gila yang tidak seharusnya dibacakan kembali.

Rasa yang seolah menjadi elegi yang berguna untuk memberi makan mulut-mulut kelaparan dari kesedihan dan kegamangan yang sudah bukan waktunya untuk terus dipertahankan hidup. Keinginan untuk terus mereka-reka, berandai-andai, berangan-angan, dan terus saja menambah dosa dari apa yang bahkan tidak sempat terjadi. Menambah dosa, padahal yang kulakukan hanya duduk tenang di kamarku bersama satu dua tetes air mata yang belum sempat terhapus.

Berpikir seperti ini tidak harus ketika terjadi apa-apa bukan?

Bahkan ketika tidak terjadi apa-apa, kepala tidak bisa berhenti berpikir tentang ini itu dan kenapa bagaimana. Berpikir atau merasa, tidak bisa dijelaskan yang mana. Ketika semua indera rasanya begitu gigih untuk tetap diam namun logika dan intuisi sama-sama berlomba berebut tahta. Sekarang bahkan tangan sudah kehilangan arah untuk mengikuti yang mana.

Aku punya masalah dengan emosi dan intuisiku yang tajam, dan logika yang terbatas dan selalu ingin ikut andil. Dengan sendirinya pergulatan akan terus terjadi dalam kepalaku. Ketika sebuah tatanan mencoba mengekang dan mengangkangi logika, emosi ini rasanya semakin tumbuh. Haruskah aku hidup dengan emosiku ini? Mengapa rasanya aku semakin bingung dengan alur mana yang harus aku ikuti.

Bahkan aku tidak mengharapkan kamu untuk mengerti.

Bahkan rasanya lebih baik diam begini. Apa hanya aku?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Elza Permata Hamdi’s story.