Siapa yang 24/7 setia menemanimu di kala susah maupun senang , di kala sehat maupun sakit? Tentu saja smartphone-mu!

Jangan kira tulisan ini akan membahas indahnya hubungan romantis dua insan yang saling mencintai. Harus kita semua akui, hubungan semacam itu tidak selamanya berbuah manis. Dalam beberapa kasus, justru lebih menambah beban pikiran dibandingkan kebahagiaan. Tapi tenang aja untuk para korban sakit hati, selalu ada yang bisa menjadi obat pelipur lara di kala rindu menghujam jantungmu.
Sekarang ini, siapa sih manusia yang 100% terlepas dari teknologi? Bahkan nenek buyut temanku di ujung dunia sebelah sana sudah bisa video call-an sama cucu-cucunya.
Seminggu lalu, Oma-oma di Jalan Alkateri meminta saya menghubungi WA-nya kalau saya ingin pesan gordyn lagi.
Bahkan Pakde-ku yang tadinya sangat acuh terhadap teknologi, setiap hari tidak pernah habis nonton Youtube sambil ngeshare “Sebarkan!! Sebelum keluarga anda terjerat!” di Facebook.
Smartphone sudah menjadi pasangan setia hampir setiap manusia dengan berbagai fungsi dan fitur yang dimilikinya.
Bukan hanya smartphone, ada ribuan produk teknologi yang dibuat untuk menemani manusia. Hal sepele seperti cuci muka yang tadinya cuma usek-usek pake jari, sekarang pun ada alatnya (bisa getar-getar dan berhenti setiap 20 detik untuk menjaga kulitmu dari over abrasive).
Coba kalian hitung berapa jumlah perangkat teknologi yang digunakan sekarang? Mungkin angkanya puluhan atau bahkan ratusan. Jangan tanya berapa rupiah yang dikeluarkan untuk membeli semua perangkat tersebut.
Teknologi itu mempermudah manusia, bukan menggantikan.
Tidak perlu susah-susah membayangkan pergi ke Slovakia tanpa pesawat. Coba saja pergi ke Majalaya tanpa Google Maps atau Waze. Bayangkan kamu harus berhenti di setiap perempatan jalan untuk bertanya ke ibu warung: “habis ini belok kanan atau kiri”. Berapa banyak waktu yang terbuang untuk sekedar buka pintu mobil, nyari warung terdekat, lalu sedikit basa-basi sapaan sebelum kamu bertanya.
Yang tidak kalah ngeri, berapa ribu kaset yang kamu punya sekarang, seandainya music berformat MP3 belum ditemukan. Ibu pasti akan marah-marah karena kamar anaknya jadi mirip toko kaset. Itu baru dua hal. List nya akan bertambah panjang kalau kita rentet satu-satu.
Semua kemudahan ini tentu anugerah buat manusia. Dari 24 jam waktu kita sehari, kita bisa maksimalkan untuk melakukan banyak aktivitas selain sekedar bertanya arah jalan atau memutar kaset pakai pensil untuk me-rewind sebuah lagu. Produktivitas manusia bisa meningkat berkali-kali lipat. Waktu yang tersimpan bisa digunakan untuk membaca lebih banyak buku, mendatangi lebih banyak tempat, menciptakan lebih banyak inovasi, dan menyelesaikan skripsi lebih cepat.
Selain itu, teknologi juga menambah banyak kesempatan baru untuk manusia. Contohnya saja aplikasi layanan transportasi online yang telah berkontribusi menurunkan angka pengangguran terbuka di Indonesia. Bukan hanya berkontribusi menaikkan taraf hidup mitra pengemudi ojek, tetapi juga kepada pemilik warung-warung makan melalui adanya pesan-antar makanan.
Artinya tidak perlu takut dan beranggapan teknologi akan menggantikan manusia. Ia hanya berperan untuk membuat manusia lebih mudah menjalankan aktivitas. Seharusnya kita yang lebih proaktif untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan memanfaatkan semua kemudahan yang telah didapat.
Smartphone di tanganmu tidak seharusnya menjadi distraksi atas produktivitasmu.
Namun harus diingat, manusia harus waspada agar tidak terbuai dengan kenyamanan yang didapat dari teknologi. Jangan sampai keasikan scrolling home Instagram sampai lupa deadline revisi Skripsi. Mager tidak akan memenangkan kita dari persaingan era digital yang super ketat ini.
Mindset yang tepat untuk ditanamkan adalah teknologi mempermudah pekerjaan manusia, agar dapat mengerjakan hal lain demi mengejar sebuah kemajuan peradaban.
Jangan sampai kemudahan yang didapat dari teknologi ini malah membuat manusia semakin sulit untuk berkembang. Meski kita semua tahu, kalau kenyamanan itu memabukkan.
