Bagaimana Review Bisa Mendatangkan Konsumen Untuk Brand Anda.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang jalan-jalan dengan pacar dan teman-temannya di Ciwalk, Bandung. Karena saya satu-satunya laki-laki di sekumpulan wanita, saya hanya bisa ngikut kemana mereka mau pergi, dan yap, mereka memilih untuk masuk ke toko-toko bertema fashion disana. Karena semua isi toko tersebut adalah produk wanita, saya tidak ingin gabut kemudian saya putuskan untuk pura-pura excited menemani mereka, padahal saya mengamati gerak-gerik mereka dari kacamata seorang pebisnis.

Yang saya perhatikan adalah Marla, teman pacar saya. Dia langsung masuk ke bagian tas dan mulai meraba-raba semua yang ia anggap ‘lucu’. Lalu dia mulai ‘thinking out loud’ dan mengatakan hal-hal seperti ini, “Ah 350rb, mending beli str*d*v*r**s yah.” “Eh ini lucu tau, tapi sayang kegedean.” “Ih coba yg itu agak kecilan dikit, pasti gue beli deh.”

Beberapa hal itu membuat saya berfikir dan menyambungkannya dengan pelajarang yang saya suka di dunia marketing, yaitu bagaimana alur konsumen berfikir dan akhirnya memutuskan untuk membeli.


Pada dasarnya, konsumen memiliki 3 fase sebelum memutuskan untuk membeli, dan fase-fase ini disimpulkan dalam sebuah Buyer’s Journey.

Contoh Buyer’s Journey

Marla, pada kasus tadi, sedang berada di fase Decision. Dia sudah yakin ingin membeli tas, namun sedang mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada.

Mengacu pada ketiga fase tadi, review menjadi penting. Ada puluhan pertanyaan-pertanyaan dalam benak Marla yang membuatnya ragu, dan adalah tugas brand untuk menepis semua keraguan tersebut yang dapat menghalangi Marla menjadi pembeli.

Review dari konsumen lain adalah salah satu pertimbangan, apalagi di ekosistem belanja online yang semakin hari semakin tinggi penggunanya.

Review dan rekomendasi dari orang lain akan membuat Marla (yang memiliki budget dan keinginan untuk membeli tas) bisa saja langsung membeli tas tersebut ketika melihatnya. Review dapat menghemat banyak waktu dan uang Marla, karena ia dengan mudah dapat mengakses informasi mengenai brand tersebut melalui internet; social media, googling, dll. Dan tentu saja, ketika pembeli sedang berada pada mode riset, brand seharusnya memberikan effort lebih untuk mengedukasi dan melakukan langkah persuasi untuk membuat Marla menjadi yakin membeli.

Inilah mengapa review semakin penting setiap harinya. Ketika data menunjukkan bahwa 88% pembeli di dunia mempercayai online review sebagaimana mereka mempercayai teman sendiri, adalah sangat penting bagi brand untuk membangun reputasinya di internet.


Cerita real lain yang saya temui (nama dan brand disamarkan):

Marla baru aja gajian, dan dia ingin membeli sesuatu untuk me-reward kerja kerasnya selama sebulan kemarin.

Karena dia beberapa hari yang lalu ngeliat seorang selebgram memakai clutch kulit lucu, ia memutuskan untuk membeli clutch juga.

Yang ia lakukan pertama kali adalah membuka instagram, membuka tab explore, dan mencari #jualclutchbandung #clutchbandung #clucthjakarta. Ketika menemukan ada sebuah brand tas yang lucu, let’s say ‘@CLUTCHU’, ia membuka tab ‘Photos of ‘@CLUTCHU’’, membaca komentar positif dan negatif orang lain yang sempat membelinya, mencari di beberapa situs review dan kemudian setelah yakin, barulah ia bertanya kepada teman/ pacarnya untuk konfirmasi selera. “Bagus ga yang ini? Kalo yang ini?”

Karena Marla sudah ada di fase Decision, dan diyakinkan oleh komentar positif dari konsumen-konsumen lain, maka Marla membeli tas ‘@CLUTCHU’ walaupun ia belum pernah memegang/ menyentuh tas tersebut.


Jika Anda seorang brand manager/ pemilik/ perwakilan brand, langkah apa yang sudah Anda lakukan untuk membangun reputasi online Anda? Saya akan sangat senang membahas itu dengan Anda. Share dibawah ya!