On economists, efficient-market hypothesis, and why you should stay stupid (sometimes)

Two economists are walking down the road when they found a stack of 100$ bills. One turns into the other and says ‘Don’t bother, if it were real somebody would’ve picked it up!’
Hipotesis efisiensi pasar sudah lama menjadi kepercayaan bagi banyak orang yang berkecimpung di bidang ekonomi. Untuk anda yang mungkin belum mengetahuinya, it basically states that harga sebuah aset akan merefleksikan secara penuh seluruh informasi yang tersedia di saat itu. Dalam konteks pasar modal, ini berarti anda tidak akan bisa meraup untung dengan memprediksi pergerakan harga dari informasi yang umum ada (e.g: headline koran, berita televisi). Karena semua orang sudah mengetahuinya, segala kemungkinan untung sudah terbagi kepada semua orang. Jadi kalau anda berkecimpung di bidang saham contohnya, adalah tidak bijak mendasarkan keputusan pada info yang sudah tersebar luas.
Implikasi dari fenomena ini adalah berbagai reksadana(mutual fund) yang menjanjikan keuntungan besar dari aset anda adalah penipuan skala besar, tidak jauh berbeda dengan scam seperti MLM (a short sidenote for all you investing hopefuls out there). Which brings me to my main point:
Yang menarik bagi saya adalah fakta bahwa hipotesis ini secara tidak langsung dipraktisi oleh kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di luar bidang yang berbau moneter. Maksud saya begini, sudah tidak jarang saya mendengar kalimat seperti ini dari rekan saya; “Gak mungkinlah, kalo bener bisa untung/bermanfaat/ngehasilin sebanyak gitu dengan kerja gampang pasti boong tuh”. Memang betul, saya rasa prinsip ini bisa jadi heuristik yang baik bagi kebanyakan hal yang akan anda hadapi.
Contoh: Suatu hari saat sedang browsing facebook, saya menemukan tawaran investasi dari seorang rekan. Isinya kurang lebih begini;
Ini dia, kesempatan investasi yang anda tunggu, kami menyediakan lahan kebun wortel/kentang/dll dengan harga 15 juta rupiah all in, tiap bulan kami minimal menghasilkan 10 juta rupiah. Hubungi kami sekarang juga.
Apa yang muncul di benak anda membaca kesempatan seperti itu? Do note that’s a 66% return on investment per month! Ridiculous by any standard. Orang yang level-headed with even just a smidge of common sense would easily dismiss such a ludicrous offer. For one thing, jika betul return yang dijanjikan sebesar itu, kenapa sang penawar tidak pinjam uang bank yang notabene ‘hanya’ berbunga pada orde belasan persen dan menginvestasikannya sendiri. Further, it would be much, much more profitable untuk sang penawar jika menawarkan keuntungan yang lebih rendah dan mengambil porsi lebih besar while still providing a great return. Dengan melihat sekilas saja anda sudah bisa tahu those returns are definitely not risk adjusted. Ironically, return yang realistis would have been much more enticing.
See, there is much use in heuristics, ia menghindari anda dari keputusan tolol yang mungkin anda pertimbangkan, dengan cepat. It’s quick, dirty, and it works (most of the time).
Tapi dari sisi lain, saya melihat bahwa kesempatan terbesar terkadang ada dari sumber yang tidak disangka. Jangan-jangan memang betul tawaran itu realistis? After all, saya belum melakukan the due diligence required and look into it? Saya rasa kerja keras saja tidak cukup untuk membuat anda menjadi ‘sukses’ (in the common sense of the word). That sub-saharan African women picking up water from miles away juga kerja keras, probably harder than you ever will! But she will never be, for example, like Bill Gates.
I believe that to a certain degree, this means that you have to have a certain amount of naivete to discover and seize the best opportunities. Jangan pernah merasa anda tahu yang terbaik.
Prinsip yang saya pegang adalah untuk menjadi bodoh, menjadi naif (sometimes :)). Di saat saya 100% yakin dengan jalan saya dan men-dismiss jalan alternatif, apalagi dengan heuristik, disanalah saya akan menjadi stagnan. Tidak jarang saya mendengar cerita-cerita yang mengekspos bahwa entrepreneur sukses dulunya disangka berkecimpung di bidang tidak bermasa depan, ambillah komputer misalnya. It’s obvious now, but trust me, 4 decades ago it wasn’t.
To a certain extent success in life is about efficiency, and heuristics will at some point inevitably not maximize that aspect .
Intinya, saya percaya ada baiknya anda menyimpan ruang untuk ketololan di hidup anda :)
p.s.:
-please excuse the vacillation of language in my posts
-will attempt to write an entirely Indonesian version (soon)