Memaknai Sebuah Pertemuan

Hirosaki Park in Hirosaki City, Aomori Prefecture, Japan.

Travelling itu bukan sekedar jalan, belanja, atau mengarah ke hal yang hanya bersifat foya-foya. Di perjalanan kali ini, berjalan seorang diri di tempat yang baru pertama kali disinggahi menjadi salah satu pembelajaran diri akan segala hal. Semua jelas berbeda, mulai dari bahasa, budaya, etika, karakter, dan masih banyak lagi hal lainnya yang memberi pengetahuan yang mendalam pada diri saya.

Jepang bisa menjadi negara yang dingin dan hangat tergantung dari mana sudut pandang kita melihat. Semua bisa amat sangat dingin, seakan tidak peduli dengan urusan orang lain, merasa kosong di antara lalu lalang orang-orang yang serasa dikejar oleh waktu. Gerbong-gerbong kereta yang berpenghuni namun sunyi kecuali langkah kaki atau perbincangan sesekali dengan rekan, teman, atau keluarga. Tapi seperti itulah mereka, yang saya sebut bentuk kesopanan terhadap privasi masing-masing. Namun di sisi lain, mereka bisa menjadi amat sangat hangat di saat seseorang membutuhkan.

We don’t meet people by accident, they are meant to cross our path for a reason.

Pasangan yang sangat lucu yang saya temui di Odori Park, Sapporo. Kaneko-san membujuk mereka untuk difoto.

Selama dua minggu solo travelling, saya menyadari bahwa kalimat di atas benar-benar seperti itu adanya. Dua minggu yang singkat untuk menerima semua hal-hal menakjubkan ini. Waktu yang cukup singkat untuk menghargai sebuah pertemuan. Waktu yang amat sangat singkat untuk mengucapkan terimakasih.

Untuk staf convenient store yang sudah repot-repot mengambil peta area Roppongi untuk memberi tahu saya arah yang tepat, terimakasih banyak. Untuk Tsuchiya-san yang telah memberi tahu saya pepatah “Gō ni ireba gō ni shitagae” yang sama dengan pepatah “When in Rome do as the Romans do”, arigatō gozaimashita! Untuk Miyajima-san yang menceritakan style salaryman dari Shimbashi yang memang benar-benar ada (karyawan mabuk dengan mengikatkan dasi di kepala, seperti yang sering kita lihat di manga atau anime) dan lelucon Jepang lainnya, dōmo arigatōgozaimasu! Dan terimakasih banyak sudah mengajak saya melihat pertunjukan musik Tsugaru Shamisen, Tsuchiya-san! Miyajima-san!

Untuk oba-chan kedai soba Mikado di Stasiun Goryokaku, terimakasih atas soba cuminya yang lezat bukan main, obrolan singkat, isi ulang tumblr, dan ucapan “ki o tsukete”, saya mencoba mendatangi lagi kedai Anda tapi sayangnya sudah tutup! Honto ni arigatōgozaimashita! Dan untuk Kaneko-san yang sudah rela berpanas-panasan berkeliling Sapporo menggunakan jas dan mengajak saya ke kedai ramen tersohor di Hokkaido, arigatōgozaimashita! Semoga tahun depan pernikahan Anda berjalan lancar! Untuk pemilik kedai ramen Teshikaga, terimakasih banyak atas souvenir takananya, ramen wa namara oishikatta!

Naomi-san dan Shōta-kun berkata sampai jumpa.

Dan spesial untuk hari ini, terimakasih banyak untuk keluarga Kujirai, Naomi-san, Shōta-kun, dan Ojīchan yang sudah repot-repot memberi saya tumpangan ke stasiun dan museum! Sampai jumpa di lain waktu!

Saya terharu atas kebaikan-kebaikan mereka, hingga saat ini juga mata saya masih berkaca-kaca. Hahahaha. Honto ni, honto ni, honto ni arigatōgozaimashita, minna!