Berbincang Dengan Segelas Kopi



-satu-

Kota ini serasa gerah dengan aktivitasnya, lelah menjadi pusat perhatian. Seakan tak lagi ada masa-masa di mana kau dapat membuang gelisah di tempat sampah. Penat serasa penuh di bibirmu, kata-kata hanyalah sebaris cecap sia-sia. Tak ada yang peduli, atau sekedar mengatakan sesuatu; beristirahatlah dalam kata-kata dan alinea yang dapat membawamu pada sebuah desa atau malam yang terbuka.

-dua-

Kau menenggelamkan keresahan dan membiarkannya pergi jauh. Tentang risau yang tak pernah usai, kau sering membiarkan sunyi memasukimu seperti masa lalu. Terkadang, kau lebih memilih rindu sebagai pakaian tidurmu. Dan mimpi adalah perihal-perihal yang indah yang menjadi selimut hangat. Sedang aku, tak memilih menunggu sebagai kata kerja dan jawaban atas teka-teki silang di kepalaku.

-tiga-

Kita sukar mendiamkan waktu, dan rencana-rencana seumpama awan di musim panas. Kupikir, lebih baik menemukan senja yang merona daripada harus menunggu pagi yang belum tentu cerah. Tentang perasaan yang datang dan pergi, kau harus pandai melepaskannya. Rela menjadi satu-satunya mata pelajaran yang harus kau menangkan di kepalamu. Mungkin akan menjadikanmu juara dalam hal bertahan di kesendirian.

-empat-

Kita sering mengulang dan mengulang perihal yang sama, perih di saku kiriku dan hujan di matamu. Jika kita diberi waktu, sekali lagi, aku akan menjatuhkan bulan dan menaruhnya di wajahmu. Ku biarkan malam bercermin pada rautmu, dan musim hujan yang dingin itu menjadi kenyataan; kau sering menyebutnya Juni.

-lima-

Hari-hari yang jauh, detik-detik yang perlahan jatuh dan ketidakmampuan kita hanyalah sepenggal kisah yang tak perlu kau ceritakan. Kau adalah sunyi bagiku dan tak lebih dari itu. Mungkin pepohonan terlalu cepat rindang atau aku yang menginginkan kemarau segera datang. Aku tak pandai membuat separuh kota ini menjadi puisi, dan menjadikanmu kekasih.

-enam-

Aku memerlukan satu bait lagi lalu meninggalkan kota ini dengan secarik catatan. Dan derap langkah adalah hal yang aku percayai. Ia akan membawaku menemukan senja, atau memisahkan gerah yang diam-diam sembunyi di balik kerah. Bibirku berusaha membedakan antara kopi dan ceritaku. Di sini, lebih baik ada rindu yang terpisah. Dan membiarkan segelas kopi menjadi kehidupan yang benar-benar kita setujui.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.