Merindu Rasa

Gelas-gelas kaca masih menenggak anggur.

Piring-piring sedang memakan panekuk dingin.

Dan sofa-sofa yang duduk bersila didepan meja.

Sementara kau rebah dilantai ubin yang dingin berdebu berwarna biru.

Tirai menghalang jendela, mencegah cercah matahari bertamu;sedang kau tak mau menjamu.

Kadangkala hanya kelambu kelabu teman bercumbu rayu.

Kau enggan melangkah keluar walau hanya sekedar menyapa tukang becak langgananmu, atau penjaja gorengan garing sahabatmu.

Lebih sering kau menutup pintu rumah reot berukir burung merak.

Dan menarik selimut usang pemberian ibumu.

Jalan-jalan dan pohon meranti memanggil kau dari balik jendela tertutup tirai, katanya sampai kapan kau terkurung terkungkung dalam ringkih yang rintih.

Cobalah mengajak bercanda burung kenari peliharaan ayahmu dihalaman belakang.

Atau membaca penggalan-penggalan syair dalam buku pengantin surga.

Laila dan Majnun.

Atau hujan bulan juni milik sapardi.

Siluet muram masam terlihat dari rautmu yang berkerut.

Dari dahi yang keriput, menetes lelah yang tak pernah kau ceritakan pada dunia.

Hanya kau dan boneka kayu disudut kamar yang tahu.

Juga Tuhan.

Ketukan pintu dari ibumu yang khawatir akan dirimu tak lagi kau hirau.

Mungkin ibumu hanya bergurau.

Tanpa tidur pun kau sering meracau.

Bahkan camar-camar yang berkicau samar-samar. dari pelabuhan ikan mencemooh dirimu.

Apakah kau takut akan detik-detik yang putus-putus pupus?

Atau tahun-tahun yang berganti dari lembaran kertas-kertas kalender yang sobek dimakan hari?

Sesuatu yang hilang, mungkin takkan kembali.

Tapi akan terganti, jika sedetik saja kau mau menanti.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mata Pensil’s story.