pretending



Aku menjadi api yang angkuh menjilat-jilat udara, menyesap sisa-sisa gerimis malam. Padaku, tak padam amarah yang sia belaka.

Aku menjadi air yang riuh berurai-urai rentak, mengalur jejak-jejak rekah. Padaku, tak usai eksplanasi metafora.

Aku menjadi angin yang lenyap dalam gelung-gelung awan, pudar di senja-senja keruh. Padaku, bilah-bilah dingin menikam tubuh.

Aku menjadi bumi yang senyap membentuk diorama sunyi, memenjarakan gerah di balik kerah. Padaku, lidah retak dan diam menjadi pahit.

Teruslah, menjadi apa saja di kepala. Sementara perih sembunyi di balik geligi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.