Sajak

Demonstran Asing Di Kepala

“Sebuah kilang minyak milik perusahaan asing terbakar”, demikian berita di surat kabar pagi tadi dan aku menumpahkan setengah gelas kopi pada pukul sebelas siang. Masa kecil adalah hal paling indah bersama teman bermain, berlarian di taman. Membayangkan film-film india tahun 90-an atau pada gambar komik yang dulu menjadi best seller di toko buku. Aku selalu memperhatikan langit yang tengah berkaca pada laut dengan sudut mataku. Langit tidak tahu itu. Langit selalu sabar menggiring awan-awan seperti kawanan domba pada sore hari.

Setiap hari, langit selalu menerima koran yang masih hangat dengan headline “Koruptor”. Aku menghapal kata itu sejak 20 tahun lalu ketika menonton televisi. Perihal orang-orang menyewa apartemen berjeruji dengan harga yang sangat murah. Kau marah pada mereka. Tapi kau malah melemparkan batu ke langit di atasmu. Apa kau tidak tahu, batu itu akan jatuh kembali ke kepalamu? Lalu kepalamu berdarah dan harus dibawa ke rumah sakit umum di pinggir kota. Kata dokter, lukamu tidak parah. Tapi aku tahu, bukan hanya kau yang melakukannya. Masih banyak kau-kau yang lain di luar sana.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.