Apatis Vs Kritikus


Saya juga kurang mengerti dua kata ini: Apatis dan Kritikus. Orang memandang bahwa salah satu dari hal tersebut adalah hal positif. Iya, jika kita melihat dari sudut pandang berbeda, dua kata di atas akan menjadi positif. Apa contoh Apatis positif dan Kritikus positif? Sederhana, Apatis terhadap hal – hal negatif. Kritikus yang selalu mengkritik hal – hal negatif.

So, what do you think about that word? (Ciaah, sok inggris).

Pertama, Apatis yang saya coba ulas adalah Apatis terhadap sesuatu yang bisa membuat perubahan pada diri kita. Kita tidak peduli terhadap dunia luar, interaksi dengan sebuah komunitas atau ekosistem positif tak pernah ada. Menganggap bahwa hal – hal (positif) itu tidak berguna. Padahal, jika kita semua peduli atau minimal sok peduli, kita akan menemukan dunia lain yang lebih luas di luar sana. Dunia tak selebar daun kelor, Man!, Think it!. Biarlah orang mencemooh, tapi yakinlah bahwa kita benar – benar tulus peduli kepada orang sekitar.

Number two, (ciah lagi). Kritikus yang saya maksud adalah mengkritik sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Saya pikir, ini adalah hal yang bodoh untuk dilakukan (kecuali dalam keadaan sedang bercanda gurau). Betapa tidak, membuyarkan pikiran orang lain adalah tindakan yang tidak etis, mendowngrade seseorang, mematikan karakter orang lain padahal sepatutnya tidak perlu. Terlalu sok politis tapi tidak berani berbicara di depan forum, sok sosialis tapi tak tahu cara berbaur dengan orang lain, kritis tapi tumpul. Nah, hal ini tentu saja menjadi pemikiran saya malam ini (saya menulis malam hari, dikarenakan sunyi). Salah satu dari tipe kritikus bodoh adalah kaku dengan keadaan, tak bisa menilai tempat dan suasana pergaulan dan tentu saja mudah dipengaruhi orang lain yang juga kritikus bodoh. Padahal simpelnya seperti ini: terima atau lihat isu, kemudian kaji secara mendalam dan cari di mana hal yang patut dikritik. Jika tak menemukan sesuatu, jangan memaksa mencari kesalahan. Beberapa dari teman kuliah saya seperti itu, jadi saya sedikit paham arah pemikiran mereka di mana. Kata orang, supaya terlihat intelektual sih. Nyatanya mereka jadi semakin bodoh di mata orang lain.


Ditulis oleh Sok Penulis

Learn to write

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.