THE SEASIDE MOTEL: Sekumpulan Paradoks Pada Sepotong Remah Dunia

Salesman yang putus asa, penjudi yang berhutang, seorang laki-laki dan suami yang impoten. Normal untuk kehidupan nyata, anomali pada keindahan mimpi. Apa yang bisa diharapkan ketika mereka berkumpul pada satu tempat yang sama. Khayalan pinggir laut dibalik hutan di punggung gunung. Satu malam yang tak terduga, dapat menghias matahari dan ekor waktunya dalam kehidupan manusia. Itulah keindahan paradoks.

Kurang lengkap jika hanya manusia yang menjadi pemeran utama pada peristiwa ini. Benda mati pun memposisikan dirinya menjadi figuran, berusaha menjadi yang terbaik. Sebuah kalung yang tergeletak indah pada meja kayu usang di kamar. Kepalsuan sebuah penutup kepala berwarna suci yang memaksa penggunanya berparas ayu meski berhati sendu. Tidak ketinggalan sebuah gunting kuku yang membuka jalan penggunanya ke tempat berkumpul yang tiada akhir.

Sebetulnya kisah ini berputar pada poros yang sama, perempuan. Meski berbeda, mereka punya keterkaitan masing-masing yang secara tidak sadar telah menjalin suatu peristiwa sederhana namun bermakna. Keberadaan para perempuan ini menegaskan sebuah konsep paradoks sendiri, yaitu perbedaan yang ada dalam satu waktu. Ibarat tata surya, mereka adalah penggerak bagi planet-planet untuk berotasi, sementara pada saat yang sama, bersama-sama berevolusi mengitari matahari–dalam hal ini–kehidupan.

pusaran yang lahir dari kontradiksi yang dibuat sendiri oleh pergulatan para karakter, sebetulnya menghidupkan keindahan paradoks ini. Tarian memutar yang mereka buat, memaksa kita untuk memandang aktivitasnya dari sisi yang lain. Sisi yang menyajikan jawaban dari sebuah rasa ingin tahu akan hal yang sebenarnya terjadi. Sepotong adegan dalam serpihan kecil tanah dunia ini.

Film ini memang mengambil jalan cerita yang klise. Hidangan kudapan kecil yang dikumpulkan dan membuat si pemakan menjadi kenyang, terlepas dari rasa enak atau tidak. Namun perasaan kenyang tersebut membuat pikiran kita melupakan kebingungan dan rasa sakit dari sebuah sistem paradoks yang membelit hidup manusia.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Endra Ratna’s story.