Rivalitas dan binatang dalam memahami manusia

Pada saat praremaja, saya senang membaca buku-buku tentang sifat-sifat manusia. Mulai dari yang berasaskan zodiak, ilmiah, golongan darah, shio, dan sebagainya. Cukup banyak untuk diingat hingga saya tidak ingat sama sekali dan tidak tertarik lagi dengan hal begituan. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya kembali tertarik dengan sifat-sifat manusia. Namun kali ini berasaskan rivalitas.

Rivalitas selalu melibatkan persaingan (minimal) dua kubu atau personal yang bertolak belakang. Rivalitas tersebut secara tidak langsung menyederhanakan sifat-sifat manusia yang banyak dan membingungkan. Tengoklah rivalitas Paul McCartney dan John Lennon, Messi dan Ronaldo, Modigliani dan Picasso, Oasis dan Blur, album Sgt Pepper (The Beatles) dan album Pet Sound (The Beach Boys), dan masih banyak lagi rivalitas lainnya yang mewakili penyederhanaan sifat manusia.

Rivalitas tersebut memudahkan saya untuk memahami sifat manusia secara sederhana. Pendekatan rivalitas untuk memahami sifat manusia ini tentu sangat “ngaco”, karena ilmu pakem tentang sifat manusia telah ada dan berkembang dengan baik. Namun ya itu tadi, rivalitas memudahkan saya untuk membagi sifat dasar manusia ke dalam dua jenis saja. Tentu saja hal ini tergantung person yang dihadapi.

Misalnya gini … Ambil contoh rivalitas Paul MCcartney dan John Lennon. Lagu-lagu Paul kebanyakan easy listening, mudah diingat, liriknya selaras dengan musiknya, kord kadang rumit dan aneh, terlihat betul ia mengemas lagu dengan perhitungan matang (walaupun ada juga lagu Paul yang eksperimental, Uncle Albert Admiral Halsey misalnya). Sedangkan John terlihat lebih ekspresif dalam mencipta lagu. Kadang terlihat simpel, namun ada juga yang sangat absurd. Bisa dibilang John mengandalkan perasaan dan intuisinya dalam mencipta lagu (misalnya Because yang diciptakan setelah mendengarkan Yoko Ono memainkan sebagian part musik klasik). Perbedaan lagu John dan Paul semakin terlihat ketika The Beatles bubar dan mereka bersolo karir. Perbedaan sifat kedua rival tersebut secara tidak langsung memudahkan saya untuk melihat dan memahami sifat manusia secara umum, dengan menyimpulkan “oh, sik anu itu sangat Paul, sementara sik itu John banget.” Dengan demikian, maka saya akan mudah untuk menyesuaikan diri dengan mereka.

Sebenarnya perihal sifat dua hal yang bertolak belakang ini juga terdapat dalam Yin dan Yang, perbedaan siang dan malam, hujan dan kemarau, danlain sebagainya. Saya hanya sok-sok’an saja mengaplikasikannya dalam wujud rivalitas :D

Binatang

Adalah komik Last Inning yang memakai sifat binatang dalam memahami dan berkomunikasi antamanusia. Last Inning adalah komik baseball, di mana tokoh utamanya adalah seorang pelatih baseball yang cukup berpengalaman dalam hal tipu-tipu marketing. Hari pertama yang ia lakukan sebagai pelatih adalah memetakan sifat-sifat pemainnya. Pemain yang berkharisma, cerdik, tapi manja ia katetorikan sebagai kucing. Pemain yang berkemauan keras tapi kadang meledak-ledak tanpa perhitungan, ia kategorikan sebagai anjing. Dari semua pengelompokkan itu, sang pelatih justru mewaspadai kategori monyet, karena monyet mendeskripsikan pemain yang cerdas, gerak cepat, inisiatif. Pelatih itu takut, jika dalam dalam sebuah tim terlalu banyak pemain bertipe monyet, maka keseimbangan akan terganggu, karena sebuh tim tetap membutuhkan pemain tipe anjing dan kucing.

Apa yang dilakukan pelatih itu cukup menarik, bagi dia metode kepelatihan, skill pemain, dan strategi tidak penting. Hal utama adalah memahami sifat manusia. Metode kepelatihan dan strategi dengan sendirinya akan mengikuti sifat-sifat pemain dalam timnya.

Memahami sifat binatang lantas diaplikasikan dalam memahami manusia mungkin terdengar wagu semi mekso, namun tidak ada salahnya untuk dicoba jika kelak Anda memimpin sebuah komunitas (uupps :D)

*Meskipun demikian, sebaik apapun memahami manusia lain, akan percuma jika kita tidak bisa memahami diri sendiri. Percayalah. (Mario Tegang).

Show your support

Clapping shows how much you appreciated theodorus erang’s story.