Sentimentil Apalah-Apalah

Saya bukan musisi yang baik. Eh ketinggian, saya bukan pemain musik yang baik. Buruk malah. Waktu yang saya butuhkan untuk menyetem mungkin selama seekor siput berjalan (itulah mengapa tunner selalu saya anggap sebagai salah satu pencapaian tertinggi intelegensi manusia).

Dan belum lama ini saya semakin menyadari bahwa saya adalah pendengar musik yang buruk! Sangat subjektif dan selalu mengulang lagu yang sama seharian. Serius! Saya pernah hanya memutar satu lagu seharian. Dan lagu tersebut adalah lagu JKT 48. Bajigur tenan.

Gejala tersebut tampaknya akan berulang lagi. Jumlah lagu dalam playlist saya semakin hari-semakin sedikit. The Beatles, Nirvana, Weezer, mulai menghilang dari playlist belakangan ini. Berganti dengan Queen, Jahaman, Thom Pace, dan Warkop. Hari malah hanya empat lagu Queen dan Thom Pace. Parah gilak!

Dalam perenungan sentimentil semiserius di dekat jendela ruang tamu, saya jadi maluk dan tidak percaya diri lagi untuk memegang bass betot atau alat musik lain. Saya ini gak pantas lagi untuk bermain musik. Bagaimana mau bermain musik, jadi pendengar musik yang baik saja saya gagal.

Di situ kadang saya merasa sedih.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.