[Part 4] How I couldn’t be more grateful to have you all

Exchange is not only about story, not just about experience, or only about vlog as well. I am gonna say this time is the most challenging thing I have ever had in my entire life so far. Selama jadi anak rantau di surabaya buat kuliah, aku masih bisa keep in touch sama keluarga karena mereka cuma berjarak 4 jam driving. Sebagai anak pastinya kita punya naluri anak pula kan, yang kalo ada apa apa yaa larinya klo ngga ke orang tua yaa sodara. Itu yang aku lakuin selama ini. Kalo lagi frustasi sampe nangis nangis gara gara dosen galak, aku lari ke ortu dulu baru temen. Kalo sakit pun juga telfonnya ke ortu dulu baru ke temen, pokonya apapun itu, family comes first.
Aku tahu nggak semua anak berpola pikir sama seperti itu. Pasti ada dari mereka yang berfikir untuk tidak melibatkan ortu karena kasihan kalo jadi beban. Lalu mereka larinya ke temen, ada, dan aku gabisa salahin itu karena prinsip orang bisa aja beda beda kan. Tapi jujur, at first aku gabisa kyk gitu, apapun itu pasti keluarga itu duluan. Bahkan aku cenderung jadi anak yang kalo gatega cerita ke ortu, yaudah aku pendem sendiri and I’ll try to find a way out by myself afterwards. Ini semua berawal dari prinsip ibuku yang bilang bahwa sebaik baiknya orang lain, tidak akan bisa lebih baik dari keluarga mu sendiri. Aku telan mentah mentah petuah ini and for the sake of our happiness dude, aku menyesal karena gamikir dulu maksud dari kalimat itu.
Long story short, exchange ini menyadarkanku akan kebodohan ku itu :). Dimulai dari feeling frustrated ku setelah pengumuman penerimaan program. Gimana ngga frustasi, diterima program bukan berarti hidupku, alur studiku, masa depanku terjamin. It was like putting my life on risk. Everything is just blurry like no one knows whats gonna happen next but ur God. Semuanya mandiri, mulai dari bikin visa, cari tempat tinggal di jerman, tiket pesawat, urus perkuliahan, dan masih banyaaak lagi, yang ga mungkin semuanya aku eluhkan ke orang tua kan.
Frustasi itu kian menghantui saat mendekati hari hari keberangkatan ke Jerman. Ketakutan untuk hidup sendiri, takut meninggalkan orang tua, rasa rindu yang lumayan menyakitkan ketika dibayangkan, dan perasaan ingin menyerah di tengah jalan itu selalu terlintas di pikiranku tiap hari mengingat terlalu banyak hal simple yang menjadi beban berat buat diriku sendiri.
Kemudian semua beban itu menjadi lumayan berkurang ketika aku lebih terbuka dengan teman teman ku, ketika mereka memberikan support dengan kalimat kalimat yang terdengar klise tapi surprisingly sangat powerful buatku. Kehadiran, nasihat dan ungkapan motivasi mereka semakin meyakinkanku bahwa disini aku tidak sendiri. Walaupun jauh dari keluarga atau dari teman, tapi mereka tetep ada disana dan selalu akan siap membantu kalau ada masalah. Karena inilah, aku sangat bersyukur memiliki teman teman yang supportive terhadapku, aku sangat bersyukur ditempatkan pada circle yang penuh dengan orang orang yang tidak memandangku sebelah mata. Bukan mereka yang memandang erica sebagai sosok ambisius yang sering jalan ena ena tanpa mempedulikan teman, tapi sosok erica yang punya intention besar untuk cari pengalaman dan ingin membagikannya ke semua orang.
Support itu sangat sangat sangat berarti, dan aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih atas bantuan dari temanku in term of moral support or material as well. Aku sangat sangat ingin men trigger teman teman ku buat go beyond their limit, agar mereka dapat merasakan se powerful itu ternyata support dari orang lain tuhh. Indeed the biggest supporting system is always your family, and then friends right after.




