TARIAN PERLAWANAN TERHADAP MATRIARCH

Eric Sasono

1
Realisme magis dalam film pernah saya bicarakan ketika membahas film Banyu Biru (2005) yang sempat dipromosikan dengan menggunakan istilah itu. Ketika itu, kesimpulan saya, film itu tidak sungguh-sungguh berniat menghadirkan gambaran tentang keajaiban yang berada inheren di dalam kenyataaan sehari-hari.
Berbeda dengan film terbaru Alejandro Jodorowsky, sutradara asal Chile, The Dance of Reality, yang membuat keajaiban dan kenyataan berjalan berdampingan dan kerap berkelindan bagai anyaman dalam menjabarkan kisah masa kecil Jodorowsky yang tumbuh seiring perkembangan politik Chile. Chile sendiri adalah negeri yang dipenuhi kisah politik yang tragis ketika Allende, seorang presiden Sosialis yang terpilih lewat pemilu yang jujur, dikudeta oleh militer yang memerintah penuh kekerasan dan kekejaman. Hingga kini sejarah Chile adalah sejarah tentang penghilangan paksa secara massal dan teror berkepanjangan oleh negara yang masih terbawa dalam berbagai kisah, baik fiksi maupun nyata.
The Dance of Reality segaris dengan karya-karya penulis realisme magis Gabriel Garcia Marquez atau Isabelle Allende yang menggunakan keajaiban untuk membuat pembaca mereka bertanya melampaui kenyataaan yang mereka temui. Keajaiban dipakai sebagai jalan untuk menjelaskan sifat-sifat non manusiawi dan nonsensical yang tak bisa ditangkap persepsi manusia yang terbatas. Hanya dengan keajaiban yang inhenren dalam kenyataaan, hidup bisa diterima dan dijalani. Realisme magis berbeda dengan kisah fantastik yang menjadikan keajaiban paralel dengan kenyataaan dan pertemuan keduanya menjadi sebuah pengungkapan peristiwa yang tak bisa dipahami akal. Realisme magis juga berbeda dengan surealisme Eropa yang meledek rasionalitas manusia yang amat terbatas tentang kenyataaan. Realisme magis berangkat dari kepercayaan kuat terhadap mitos yang hidup di dunia agraris. Ia mendapat artikulasi baru ketika modernisme hadir beriring kekerasan dan pemaksaan untuk terjadinya perubahan-perubahan struktural. Maka realisme magis kerap selalu berhubungan dengan politik, modernisasi dan pelampauan kemanusiaan dalam konteks perubahan yang cepat.
The Dance of Reality membuat keajaiban dan kenyataan berpegangan tangan dan menari dengan indah untuk penonton. Jodorowksy berkisah tentang keluarganya, ayahnya yang komunis sekaligus Yahudi yang punya persoalan besar untuk membuktikan diri terhadap lingkungannya sehingga ingin bertindak heroik. Ibunya seorang Rusia berpayudara raksasa yang seakan ingin selalu mempertahankan identitasnya yang istimewa di Chile. Jodorowsky kecil hidup dengan kebingungan akan identitas, baik asal-usul maupun pilihan politik dan agama. Film ini membuat saya merasa didongengi kisah politik yang tragis sekaligus kisah pribadi yang ajaib. Jodorowsky tidak pernah memisahkan keduanya, membuat kita tertawa akan humornya yang gelap sekaligus terpana oleh keajaiban dan metafor yang pedih. Saya amat merekomendasikan film ini, terutama bagi penggemar film-film politik.
2
Terus terang saja, menonton The Dance of Reality membuat saya teringat film Indonesia. Bukan Banyu Biru, melainkan Menuju Rembulan atau judul Inggrisnya Another Trip to the Moon, film karya Ismail Basbeth yang sempat diputar di International Film Festival of Rotterdam, Belanda. Tanggapan trerhadap film ini umumnya dua: dianggap menghadirkan surealisme atau membuat pembahasnya kebingungan karena dianggap tidak cukup koheren untuk membawa gagasan yang utuh.
Untuk soal surealisme, saya pikir, itu adalah istilah yang jadi kotak besar untuk menampung segala hal yang tidak dimengerti oleh orang yang mencoba menulis komentar tentangnya. Dengan mudah seorang komentator memberi label sureal ketika ada hal ajaib dalam film yang tak dimengerti. Atau bahkan mungkin oleh kreatornya sendiri ketika ia hanya bisa menjelaskan idenya secara intuitif.
Dalam soal koherensi, saya merasa pikiran seperti ini lahir dari tradisi kritik sastra kita yang “tergantung pada kata” yang dipelopori oleh kritik dan komentator asal Belanda, A. Teeuw terhadap puisi Indonesia. Teeuw memulai sebuah tradisi penafsiran teks yang ia batasi pada teks saja, dan sedikit mengabaikan konteks kelahiran teks tersebut. Yang turut terkorbankan adalah konteks konsumsi yang sebenarnya bisa amat beragam dan produksi makna yang bisa amat berbeda antara satu orang dengan lainnya, dalam satu waktu dengan lainnya, dalam satu ruang dengan lainnya. Akibat adaptasi model “tergantung pada kata” ini dalam mengkritik film, kita jadi sedikit sekali bicara soal pengalaman estetik. Pengalaman menonton direduksi jadi pencarian terhadap koherensi dan keutuhan makna yang sempit.
Resensi Adrian Jonathan di Cinema Poetica memperlihatkan kewaguan pencarian koherensi semacam itu. Ia memang membuka cabang penafsiran untuk tidak sepenuhnya menghakimi pemahaman penonton lain terhadap film ini, tapi ia sendiri tak bisa memaknai film itu lebih dari sekadar akrobat visual, yang baginya, dibuat tanpa konteks sehingga membuat gagasan dalam film ini menjadi terserak.
Bagi saya, cukup nyaman saja untuk melabeli Another Trip to the Moon sebagai bagian dari troupe realisme magis lantaran inherennya keajaiban dalam kenyataaan yang dihadirkan oleh Mail, panggilan saya dan banyak orang lain untuk Ismail Basbeth. Keajaiban itu berfungsi sebagai metafor sekaligus juga perangkat narasi dan sinematik. Tidak seperti Banyu Biru yang membunuh sendiri peluang untuk menjadi magis, Another Trip to the Moon tak ragu menjadikan kenyataaan dipenuhi mitos yang saling menjalin dalam cerita tentang penolakan terhadap otoritas matriarchal yang bersandar pada pengalaman non-Eropa, dimana otoritas matriarchal biasanya cuma menjadi pelengkap terhadap dunia patriarki. Dalam hal ini, Another Trip to the Moon mengingatkan saya pada Independencia, film karya sutradara Filipina, Raya Martin.
Independencia bukan sebuah realisme magis, sekalipun ada sekelumit keajaiban di dalamnya. Independencia juga memperlihatkan kuasa matriarch terhadap anaknya, tetapi Raya menempatkannya dalam kutub berbeda dengan Mail. Independencia bicara soal politik yang paling dasar: kebebasan. Raya Martin mengusulkan kebebasan politik hanya bisa tercapai dalam kehidupan primal, dalam sebuah keluarga yang terdiri dari ibu dan anak laki-laki yang hidup dalam model kehidupan mengumpulkan tanaman, lalu berburu. Hanya lewat kuasa matriarch saja penyintasan hidup bisa terlaksana, itu ide yang diusulkan Raya Martin. Ketika peradaban datang, hanya satu makna yang ia bawa: kekerasan dan mesiu, maka jalan alternatif darinya adalah kematian. Independencia menjadi film yang amat politis bagi saya karena mempersoalkan politik secara ontologis maupun epistemologis. Independencia menjadi salah satu film paling kuat yang pernah saya tonton karena begitu mendasarnya premis yang diusung.
Another Trip to the Moon saya rasa membawa banyak beban seperti itu. Mulai dari judulnya, film ini seperti sebuah homage terhadap karya Georges Méliès, Trip to the Moon yang dianggap salah satu pelopor paling penting dalam sejarah film dunia. Film Mail ini menggamit adanya fantasi dan perjalanan jauh tokoh-tokohnya menuju dunia lain. Lebih dari itu, ia seperti menghadapkan wajah pada kepeloporan Mellies yang mau tak mau akan membawa pengharapan bagi orang yang bisa membacanya seperti itu. Bagi saya, inilah titik berangkat Mail dengan ‘road movie’ (haha!) ini.
Namun Mail bagi saya tidak sungguh-sungguh berani mewujudkan premisnya. Saya sempat dimintai komentar sebelum film ini rampung dan seingat saya, komentar saya persis seperti itu. Saya tambahi, jikalau kedua tokoh perempuan itu telanjang bulat di layar, mungkin film ini jauh lebih menarik.
Kalau usul saya diikuti, bisa jadi yang akan muncul adalah sensasi seperti ribut-ribut soal karya seni instalasi pink swing park karya Agus Suwage sepuluh tahun lalu. Namun sebenarnya saya merasa perjalanan spiritual dan kelahiran kembali si perempuan tertindas itu akan jauh lebih menarik ketika ia secara harfiah berada dalam posisi fetus, bertelanjang bulat, terlengkapi oleh perempuan lain, justru ketika ia melawan ibunya. Bandingkan posisi fetus Rahwana dalam Opera Jawa yang disebabkan karena penolakan Sita. Ide Mail ini menurut saya lebih berani dan liar, karena perlawanan terhadap ibu sama sekali tak akrab dengan pikiran orang Indonesia!
Maka dari itu, saya membayangkan metafor yang juga sama liar dan berani, seperti ketelanjangan para perempuan berpasangan dalam fetal position. Juga perburuan kelinci yang sebenarnya amat menarik jika diiringi dengan kekerasan yang lebih grafis, menggambarkan darah misalnya, sebagai konsekuensi keterputusan asupan penghidupan dan pencarian nafkah dalam bentuk primal manusia: perburuan dan pembunuhan. Bayangkan bahwa penolakan terhadap kenyamanan perlindungan budaya dan ekonomis seorang Matriarch berakhir pada pencarian nafkah dengan cara primal dan pembunuhan.
Apakah Mail tak mahir bermetafora saja, atau ada urusan logistik dalam eksekusi ide (keterbatasan anggaran untuk bikin gambar darah yang realistis misalnya)? Atau ada soal mendasar misalnya keterputusan Mail terhadap basis dongeng yang jadi sumber alih-narasinya? Indonesia jelas tidak kekurangan dongeng yang berkelindan dengan kenyataaan atau pun tragedi politik yang pedih dan melibatkan orang dalam jumlah banyak yang bisa jadi sumber realisme magis. Lihat karya Eka Kurniawan yang mirip-mirip dengan aliran sastra ini, dan kini ia sedang ditanggap bicara di banyak tempat lantaran novel-novelnya sedang jadi perhatian dunia. Bisa jadi realisme magis bukan tradisi Indonesia tetapi kenyataaan yang maravilloso, marvellous, ajaib, adalah bagian dari cara kita dibesarkan, dan apapun labelnya, tak ada larangan untuk menjadi liar dan berani, bukan?
Jadi kesimpulannya, Mail tak pandai –atau tak berani- bermetafora? Tunggu dulu. Jawabannya rasanya ada di salah satu cuitan Mail ketika ia menjelaskan posisi filmnya yang lain, Mencari Hilal.
Ketika ia membuka kesempatan tanya jawab lewat Twitter soal Mencari Hilal – film komersialnya yang dipuji para kritikus tapi ditonton oleh sekitar 10.000 orang di bioskop – ia menyatakan sesuatu tentang Indonesia. Mengomentari komentar bahwa Mencari Hilal itu “Indonesia sekali”, Mail menyatakan hal itu membuatnya tersentak. “Iya juga ya,” katanya, “selama ini saya ngga terlalu mikirin Indonesia karena film2 saya eksperimental.”
Apa yang dipikirkan oleh Mail untuk film-film pendeknya (yang membuat saya sangat kepincut berat) dan Menuju Rembulan yang “eksperimental” ini? Apakah tidak ada “Indonesia” di dalamnya? Tentu istilah “eksperimental” dan “Indonesia” ini sangat bisa diperbincangkan panjang lebar. Namun jika kita tunda perdebatan itu untuk kebutuhan praktis tulisan ini, apa yang “tidak Indonesia” dalam kepala Mail ketika ia membuat film-film pendek Mail dan Menuju Rembulan? Apakah ia sedang bicara soal budaya nonton orang Indonesia yang jauh dari film semacam Menuju Rembulan? Ataukah ia sedang bicara soal sumber kisah yang tak akrab dengan orang Indonesia?
Mungkin paling mudah mengatakan bahwa penonton “tidak siap” dengan film semacam Menuju Rembulan. Budaya menonton yang tumbuh dari tontonan bioskop dan televisi (dan daring?) jauh dari apa yang disajikan oleh Mail dalam Menuju Rembulan. Tapi jika logika ini dibalik, apakah berarti orang Indonesia hanya mau menonton yang sudah diakrabi saja? Bukankah ini selalu alasan para petinggi TV ketika merek mempertuhankan rating? Mana dulu antara budaya menonton dan proses perawatan yang membuat budaya itu tumbuh? Pertanyaan telor atau ayam ini bukan porsi tulisan ini. Yang terpenting di sini buat seniman atau kreator seperti Ismail Basbeth adalah, ada dua ciri utama mereka. Pertama, tidak membebek saja pada alasan ‘orang banyak’, kedua, berani mengambil risiko untuk meninggalkan hal-hal yang sudah akrab – abandoning the familiar.
Melihat penggunaan metafor yang tampak ragu ini, saya menduga soalnya ada pada perlawanan terhadap sang Matriarch. Tokoh ibu dalam dunia narasi di Indonesia (atau Jawa?) umumnya lekat dengan sosok pemberi kehidupan dan kemakmuran seperti Ibu Pertiwi atau Dewi Sri. Mail tampaknya tak bisa lepas dari gagasan tentang kehidupan dan kemakmuran yang datang dari seorang perempuan, maka perlawanan tokohnya terasa seperti punya ketakutan terhadap Indonesia sebagai seorang Matriarch.
Terlepas dari itu semua, saya tetap saja salut terhadap Ismail Basbeth dan merasa ia adalah salah seorang pembuat film Indonesia paling berbakat saat ini. Saya masih berharap ia tetap mencoba menjelajahi hal yang tak terlalu akrab dan mengambil risiko. Semoga ia bisa melakukannya dengan lebih berani.