Midnight Dinner

Chitose Hibiki/Asakura Mao. Rated T.

Asakura Mao, si guru berusia dua puluh empat tahun itu memasukkan barang-barangnya dengan tergesa-gesa, ingin cepat-cepat pulang dari sekolah yang siswanya minta digoreng semua. Untung dia sabar. Kalau tidak, semua siswa lelaki sudah jadi korban tendangan mautnya.

Tapi yang lebih penting, dia ingin bertemu seseorang.

Dia sudah ingin bertemu dengan Chitose.

Tapi dia ogah mengakuinya bahkan meskipun harus sampai turun ke liang kubur.

Mao itu level tsunderenya over 9000. Ratu Tsundere, begitu julukan Chitose bagi cewek yang tingginya hanya sampai setengah lengannya. Tapi toh, Mao tidak keberatan. Bagi Chitose yang hidupnya seenaknya sendiri dan sangat airheaded meskipun seorang programmer jenius, Mao menjadi rem dan menetapkan standar kehidupan yang “layak” bagi seorang programmer. Apalagi dengan kegemaran Chitose makan manis, huh, Mao heran berat badannya tetap dan tidak pernah sugarhigh. Apakah tubuhnya memproduksi insulin terlalu banyak?

“Kamu kemakan aja sama urban legend. Sugar-high itu nggak terbukti, tahu.”

Mao mendengus ketika ia mengingat lagi perkataan Chitose yang diucapkan dengan cengiran kelewat lebar. Mao tidak percaya kalau Chitose dulu adalah cool prince sewaktu SMA yang bisa membuat para perempuan bertekuk lutut. Hal itu serasa mustahil, terutama setelah mereka menjadi kekasih selama lebih dari dua tahun. Mao hampir selalu geleng-geleng kepala melihat kelakuan Chitose.

Sama sekali nggak keren.

Telepon genggam si gadis berbunyi, menandakan ada email yang masuk. Pasti dari Chitose yang baru selesai urusan sama klien.

“Sudah selesai mengajar? Main ke Roppongi, yuk. Aku lapar.”

“Makan di apartemen saja. Aku sudah masak tadi pagi sebelum berangkat kerja.”

“Yah, sayang sekali. Yasudah, aku sudah ada di depan gerbang sekolah.”

Mao memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana lalu dengan cepat keluar dari Ruang Guru, langkahnya yang ringan membawa dirinya ke gerbang sekolah dengan waktu kurang dari lima menit. Dilihatnya Chitose sudah menunggu — sekali lagi, dengan senyuman khas seorang Chitose Hibiki.

Perjalanan pulang dari sekolah ke apartemen mereka di Ikebukuro tidak makan waktu lama — hanya seperempat jam. Dengan segera mereka sudah sampai di gedung berlantai, lalu masuk ke dalam dan naik ke kamar mereka.

“Aku lapar,” ucap Chitose segera setelah mereka memasuki ruangan mereka dan menyalakan lampu. “Aku mau makan.”

“Jangan kayak anak kecil,” Mao mendengus. “Sana makan.”

Chitose kemudian melepaskan sepatunya dan menggantung jaketnya, lalu dengan segera menuju ke ruang makan, mengambil semangkok nasi dan melihat ke arah meja makan. Alisnya kemudian turun.

“Apaan, nih?! Memangnya bisa dimakan?!”

Mao merasa terhina.

“Kalau nggak mau makan, nggak usah dimakan!” teriak Mao dengan rasa terhina dan malu. “Biar kau kelaparan sekalian!”

“Yah, aku ‘kan nggak bilang begitu. Cuma tanya, ini apaan.” Chitose kemudian duduk dan mengambil sumpit, lalu menyodok tempura setengah gosong dan ebi furai yang warnanya agak tidak menyakinkan. “Setengah gosong, tapi kayaknya masih bisa dimakan.”

Chitose pun menarik mangkok nasinya, menyumpit tempura dan ebi furai. “Aku makan.”

Mao diam di sofa, Chitose membelakanginya sementara ia makan. Uh, kalau dilihat Chitose dengan keadaan muka merah padam seperti kepiting rebus, lebih baik Mao gali kubur saja. Memang Mao tidak jago masak, masak air saja bisa gosong. Tapi ia sudah belajar!

“Enak juga.”

Mao segera menatap Chitose. Sebuah senyuman muncul di bibir si pemuda.

“Enak kok. Tapi makanan gosong itu nggak bagus buat tubuh. Jadi karsinogen.”

“I-iya,” jawab Mao sambil mengangguk, masih menyembunyikan wajahnya yang merah seperti kepiting rebus. “Maaf.”

Chitose terkekeh renyah.

Malam itu, Chitose naik ke ranjang, di samping Mao yang sudah tertidur duluan. Rambut hitamnya yang panjang berjatuhan dengan tidak beraturan di sekitar wajahnya dan si gadis sudah tertidur nyenyak, kelelahan. Senyuman menghampiri wajah si pemuda yang lalu mengelus pipi Mao. Wanita yang sanggup menundukkan dan menaklukkan hatinya — sebuah hati yang sulit ditundukkan oleh siapapun.

Chitose kemudian memberikan sebuah kecupan lembut di dahi Mao lalu menariknya dekat — dan dengan cepat terlelap dalam tidur tanpa mimpi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Erphy Memora’s story.