Cita-cita dan Realita

Waktu kecil sering kali saya ditanya cita-citanya apa kalo besar nanti, dan saya selalu menjawab ingin menjadi pilot. Cita-cita menjadi pilot itu hanya sebentar saya pegang, karena waktu saya besar sedikit saya didera sakit kuning, sekujur badan saya menguning, badan lemas tak berdaya, bermainpun sambil tidur-tiduran. Dari asalnya setiap hari, setiap minggu, diambil darah dan air seni, menjadi bulanan sampai akhirnya saya sembuh. Masih ingat saya punya cita-cita itu, tetapi kesembuhan saya rupanya meninggalkan trauma pada orang tua saya, yang membuat saya dilarang melakukan aktivitas macam-macam, apalagi aktivitas yang berat, bermainpun tidak boleh yang terlalu cape. Kenyataan bahwa cita-cita menjadi pilot yang harus tangguh dan pendidikan yang berat, membuat saya menggugurkan cita-cita saya menjadi pilot. Pertanyaan akan menjadi apa saya nanti tetap membayangi hidup saya, apa cita-cita saya yang baru untuk menggantikan cita-cita saya yang telah gugur.

Suatu hari saya dapet cerita tentang anak kecil dan cita-cita. Anak itu ditanya cita-citanya apa oleh orang dewasa, dia malah balik bertanya, kamu sendiri cita-citanya apa? Apakah pekerjaan yang kamu lakukan ini adalah cita-citamu? Orang dewasa itu hanya tersenyum malu.

Kekecewaan saya yang tidak bisa menggapai cita-cita menjadi pilot rasanya terwakili oleh cerita anak diatas tadi. Banyak orang dewasa yang menggugurkan cita-citanya bahkan berhenti memiliki cita-cita dan memilih hanya bekerja saja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sedangkan saya, yang dari kecil sudah harus menggugurkan cita-cita, membuat cita-cita lain yang banyak namun kecil-kecil agar tidak cepat gugur.

Dari sekian banyak cita-cita yang tercetus, sebagian besar sudah saya capai dengan standar yang paling minimal, setidaknya tercapai walaupun tidak tercatat di sejarah besar dunia. Cita-cita yang sederhana, tidak setinggi langit, seperti menjadi pilot.

Hari ini pun saya bertanya lagi, apakah yang saya kerjakan sampai hari ini adalah bagian dari cita-cita saya?

Cita-cita yang paling utama saya yang tidak akan tercapai di dunia ini yaitu masuk surga. Pernah saya ditertawakan karena memiliki cita-cita masuk surga, seperti candaan yang lucu, out of context, dan terlalu kekanak-kanakan. Kadang ada muncul keinginan menggugurkan cita-cita utama ini, tergoda candaan setan tentang masa depan yang tidak pasti serta eloknya dunia materialistis yang aduhai enjoy itu. Manusiawi.

Bagi saya, justru dengan memiliki cita-cita utama ini saya dapat merealisasikan berbagai cita-cita kecil dalam hidup saya sampai hari ini.