Hamil di Zaman Canggih

Kecanggihan teknologi kesehatan membuat kehamilan menjadi hal yang seolah bisa diatur dan ditentukan. Pada saat seorang wanita hamil, sejak dini langsung menjalani tes secara terperinci. Pemeriksaan secara menyeluruh ini tidak hanya melibatkan wanita, pasangannya pun ikut diperiksa. Hasilnya kita dapat mengetahui potensi kesehatan sang janin, terutama yang bersifat negatif. Presentase resiko akan sebuah penyakit atau apapun yang bersifat negatif muncul, menjadi bahan pertimbangan bagi pasangan tersebut akan masa depan sang janin.

Di usia kandungan kurang lebih 10 minggu, semuanya bisa terlihat dari hasil tesnya, walaupun dengan kesadaran margin error 10%, keputusan tentang sang janin akan ditentukan. Pasangan yang percaya akan hasil laboratorium dan analisa dokter mungkin akan mempermudah dalam mengambil keputusan untuk menggugurkan kandungannya, walaupun ada juga yang ingin tetap meneruskan kehamilannya. Masalahnya adalah ketika mengetahui sedini mungkin sebuah masalah dalam kandungan atau pada janin ini memiliki efek koin, dimana keputusannya mempengaruhi terus atau tidaknya sebuah kehamilan. Sepertinya hebat, padahal mengerikan kalau menurut saya, ketika ikut campur dalam keputusan hidup matinya cikal bakal seorang manusia. Penyakit atau kekurangan pada manusia adalah bagian dari kehidupan yang bisa menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Betul, tidak ada orang yang ingin menderita, tetapi penderitaan adalah bagian dari hidup yang sebetulnya memang tidak mudah.

Kemudahan melihat jenis kelamin sang janin pun membuat seolah semua bisa direncanakan dalam membeli peralatan bayi, terutama dalam menentukan warna pakaian. Melihat sekelebat wajahnya dalam bentuk trimatra (3d) sehingga bisa mengira-ngira mirip siapa. Bertemu dengan sang janin memang sangat diimpikan ketika mengandung. Pengetahuan yang sepertinya harus diketahui oleh ibu hamil dan pasangannya. Hal ini membuat potensi sebuah kekecewaan atau penyesalan dimasa depan menjadi lebih besar, jika ternyata anaknya tidak sesuai dengan perkiraan jenis kelamin, terlahir dengan segala keterbatasannya, dan kemungkinan lainnya yang lebih pahit.

Saya sendiri terpesona pada awalnya, namun ketakutan disaat kemudian menyadari dampaknya di masa depan yang mungkin terjadi. Menyerahkan logika pada alat yang canggih itu, mengabaikan perasaan, dan tentu saja mempercayai hasilnya ketika yang menyampaikan adalah seorang dokter yang notabene adalah ahli soal kesehatan, tidak lupa dibalut opininya yang berharga per jamnya.

Masa depan cikal bakal seorang manusia yang bisa menciptakan semua alat canggih ini seperti ditentukan oleh alat ciptaannya sendiri, seperti cerita di film-film bertema sains dan fiksi, sayangnya ini adalah kisah nyata.