Reparasi ataukah Akselerasi Komunikasi

Percepatan penyebaran informasi di era internet dan aplikasi pada ponsel pintar terhadap individu yang sudah terkoneksi secara “langsung” melalui jaringan internet menciptakan arus informasi yang deras dan sulit untuk di saring. Kita dapat menghabiskan waktu banyak dalam satu atau dua aplikasi sebagai penonton atau partisipan dalam menghasilkan informasi “baru” yang di unggah, baik di wilayah umum (timeline social media) atau pribadi (email atau chatting). Setiap hal yang di unggah memancing bentuk komunikasi baru dan menambah akselarasi komunikasi para penggunanya. Akselerasi komunikasi yang tinggi ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas komunikasi itu sendiri. Kebanyakan yang terjadi adalah misskomunikasi, salah tangkap dan salah cerna, atau paling seringnya yaitu cepat lupa. Percepatan dan akselarasi komunikasi melalui internet ini telah berhasil membiaskan bentuk komunikasi langsung tatap muka yang konvensional. Alhasil penyikapan akan hal tersebut tadi menjadi terpengaruhi juga. Ketika satu individu tidak mengikuti percepatan akselarasi komunikasi via internet dan terkoneksi, maka akan terasa banjir informasi dalam bentuk notifikasi yang bisa membuat seolah-olah individu tersebut telah ketinggalan informasi dan kehilangan momen berkomunikasi. Sebuah panggilan melalui telepon menjadi hal yang terlupakan. Hirarki akselarasi komunikasi menjadi seolah terbalik, teks menjadi lebih penting daripada komunikasi tatap muka. Semakin hari kesadaran akan kebutuhan komunikasi tatap muka menjadi langka, karena merasa telah “tersampaikan” di media non tatap muka yang canggih. Delay atau keterlambatan membalas informasi kadang diperlukan untuk mengatur ritme komunikasi dan menjaga kualitas komunikasi, sehingga akselerasi betul-betul dilakukan pada momentum yang tepat. Inilah reparasi yang diperlukan pada teknologi yang telah menjadi media komunikasi supercepat nan canggih. Secanggih-canggihnya senjata nuklir, tidak diperuntukan untuk menembak seekor semut.