Resiko Berbuat Baik
Saat membaca tulisan ini, saya merasa sungguh berat beban pak Orta setelah mempublikasikan video Eric Gardner yang meninggal pada saat ditangkap oleh polisi di Amerika. Semenjak kejadian itu, dia dan keluarganya menjadi incaran polisi, seolah-olah polisi dendam akan video tersebut. Terlepas pak Orta seorang residivis atau tidak. Imbas dari video tersebut menggerakkan kekuatan media sosial di internet menciptakan gelombang protes di amerika dan seluruh dunia, serta memotivasi Orta lainnya yang menjadi saksi kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam. Sepertinya semua orang tau kebenaran hidup di negara Amerika atau Eropa tentang masalah rasial, namun tak ada yang menggubris, seolah tidak ada masalah. Semenjak kejadian ini isu pelecehan dan diskriminasi rasial terangkat. Terakhir yang saya tahu adalah kasus penangkapan nyonya Bland yang berujung kematian di dalam sel.
Menyuarakan kebenaran dan bertindak baik sepertinya hal yang mudah pada saat diajarkan di sekolah-sekolah. Pada kenyataanya tidak, banyak hal-hal lain yang membuat kebenaran harus ditutupi, atau tidak disuarakan keras-keras. Hal lain seperti karena masalah sistemik, politisasi, atau masalah sosial yang bisa menimbulkan kesulitan tersendiri bagi orang yang jujur, seperti misalnya pak Orta diatas tadi. Kebaikan belum tentu baik bagi semua orang, walaupun semua orang ingin kebaikan selalu datang kepadanya. Baik buat saya, belum tentu baik buat Anda.
Apakah kita akan berhenti berbuat baik karena takut akan resikonya? Terutama resiko yang bisa menimbulkan masalah yang rumit bahkan mungkin kematian. Ironis memang, namun begitulah kenyataanya, setiap tindakan kita di dunia ini ada resikonya, walaupun pada saat berbuat baik pada sesama.