2017 — Bagian Kedua

Aku mengumpulkan ceceran fragmen di empat kota yang terdiri atas setengah fakta dan setengah kisah fiksi belaka.

the best from Bin Idris

“Nggak gitu, Erv, nggak gitu caranya.”

Angganoy menegurku. Katanya aku salah menyikapi sesuatu. Hari itu sembari kupikirkan kata-kata Angga, kuputar An Invisible Bridge Above The Ocean berulang-ulang.


Separo 2017-ku habis untuk skripsian dan bekerja. Aku tidak punya cerita apapun selain hal-hal baru yang kudapatkan di kampus dan di kantor. Untuk pertama kalinya aku traveling ke Jakarta, Bandung, atau bahkan Surabaya ditanggung oleh orang lain. Aku banyak bertemu orang-orang baru sepanjang aku bekerja. Aku kenal dengan lingkungan baru, habit baru, atasan baru, tanggung jawab baru, semuanya challenging.

Untuk pertama kalinya juga aku ‘nongkrong’ dengan anak kampus. Tidak lain karena sekarang aku punya tim riset yang melakukan penelitian bersama dengan seorang professor yang luar biasa berperan penting dalam kelulusan kami — aku dan teman-teman.

“Katanya nggak punya geng,” komentar temanku dari kampus sebelah melihat fotoku ketika sidang.

“Itu tim riset tau. Kamu sih buru-buru ke Jakarta, jadi nggak liat aku pendadaran kan. Awas ya sampe nanti wisudaan nggak dateng.”

“Ow, udu geng to? Berarti bar wisuda wes lali?”

“Hmm kayaknya sih. Tapi nggak tau deh.”

Seingatku ada beberapa orang yang berperan cukup besar dalam skripsiku selain Prof. Tina dan Mbak Nana. Salah satu yang paling besar adalah mereka — tim riset payung yang ketemu tidak sengaja atas dasar sama-sama nggak ngerti mau lulus pakai cara apa. Meski relasi kami hambar banget di awal, tapi semenjak kami dipertemukan dengan Mbak Nana — asisten Ibu yang membantu proses riset kami bahkan sampai aku revisian pun masih dibantuin — kami akhirnya menemukan ‘soul’ dari sebuah tim.

Oh ya, aku sudah lulus 2017 ini. Hehe. Sesuai rencana.


Di Atrium Gedung A itu tidak seperti biasanya kami bicara hal-hal yang lebih personal. Aku mendengar cerita-cerita dari teman-temanku yang selama ini tidak pernah kuketahui selain apa yang mereka lakukan di kampus.

“Kamu tahu waktu aku ditanya kayak gitu tuh yang terlintas di pikiranku apa?”

“Apa?” tanyaku.

“Lagunya Armada, mau dibawa ke mana hubungan kita? Wkwk. Kok aku tuh nggak ada serius-seriusnya ya, ditanyain kek gitu aku bisa ketawa aja gara-gara inget lagu Armada masa. Hahahaha!”

kami punya logika kami sendiri

Kami juga tertawa mendengar ceritanya. Tapi mungkin jika Angganoy di sini bersama kami, ia tidak terima dan menyalahkan temanku itu seperti dulu ia menyalahkan caraku mengambil sikap. Mungkin karena dia laki-laki dan kami perempuan. Mungkin juga karena pikiran kami beda. Mungkin juga karena kami berada dalam fase yang tidak sama. Ada terlalu banyak kemungkinan dan aku tidak mau terjebak dalam kemungkinan-kemungkinan ini. Terlebih pada satu topik yang tidak menjadi prioritas.


Bersambung pada bagian ketiga.

Like what you read? Give Ervina Lutfi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.