2017 — Bagian Pertama

Aku mengumpulkan ceceran fragmen di empat kota yang terdiri atas setengah fakta dan setengah kisah fiksi belaka.

“Okay, ini udah nggak bisa dibiarin.”

Starbucks Paris Van Java merekam semua tingkah tolol kami hari itu. Entah kenapa selama 2017 Tania menjadi bijak sekali. Bisa jadi karena tinggal Bandung mungkin memiliki atmosfer yang lebih tenang dibanding jika tinggal di Semarang. Atau bisa jadi karena memang kita seharusnya sudah bukan bocah lagi, jadi mengurangi ketololan dalam setiap perilaku dan sikap kami adalah pilihan paling bijak.

“Kamu yakin?” tanyanya.

“Aku nggak bisa dibohongin.”

Malam itu satu buah cerita dinyatakan rampung setelah kemarin ada semacam teaser berupa kejadian bando patah di Wiki.

“Tuh kan, bando aja tau di mana dia harus patah,” kata Cicik melalui komentarnya di social media.

“Ah, cangkemmu, Cik.” Lalu aku membayangkan Cicik tertawa menyebalkan seperti biasanya jika dia berhasil membullyku.

Di Wiki itu juga kami sempat menelpon Hardi dan berbicara panjang lebar mengenai bentukane yang semakin mirip Kokoh-Kokoh. “Aku manggil Koh Hardi aja ya sekarang? Hahahaha!”

Bandung menjadi pembuka dari cerita 2017 yang menyenangkan.


Di tahun 2017, temanku-yang-lain semakin sering datang dan di waktu-waktu tertentu ia mengacaukan banyak hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Temanku-yang-lain menemukan seseorang yang padanya ia merasa nyaman sekali.

“Kamu suka ya?”

“Enggak,” kataku dengan sadar.

“Ih! Ya masa itu diculke trus malah kayak gini sih.”

“Ngomong apa sih ah!”

Berbulan-bulan aku mengelak dengan penuh kesadaran. Energiku sudah habis terbuang untuk pekerjaan fulltime pertamaku dan skripsi yang ternyata sangat berat untuk dijalani dengan sepenuh hati. Tidak ada lagi energi yang tersisa untuk melawan sesuatu yang asing dalam diriku sendiri. Dan meski kata orang itu adalah aku-yang-lain, tapi percayalah aku tidak pernah menginginkannya.

Ingin sekali aku menguasai diriku sepenuhnya, menjadi seutuhnya aku yang dominan. Tapi ada waktu-waktu di mana ia hadir seperti anak nakal yang bandel, yang sulit dikendalikan. Dan aku, aku hanya berdiri di sudut ruangan. Kadang-kadang ingin teriak dan menangis tertahan, tapi seperti layaknya aku — aku tidak bisa menangis. Sulit sekali. Emosiku terlalu datar akhir-akhir ini, bahkan untuk merespons kemarahan, atau merasakan jatuh cinta sekalipun. Itu hanya dia-yang-lain yang kadang-kadang melampaui batasanku untuk mengendalikan dan mengatur sesuatu.

Iya, kamu tidak selamanya bisa mengatur semua hal. Ada saatnya kamu tunduk.

Dia-yang-lain menemukan seseorang, yang padanya dia-yang-lain bisa seutuhnya menguasaiku. Dia-yang-lain menemukan seseorang, yang padanya dia-yang-lain bisa mengubahku. Aku seperti mengenal orang itu — sorot matanya, ceritanya, caranya bicara padaku, seperti aku pernah tahu — entah di mana dan kapan. Kadang ia mengingatkanku pada sesuatu yang aku lupa apa dan siapa, di mana, kapan aku tahu — aku tidak ingat. Yang jelas ada bagian dari diriku yang tidak bisa kukendalikan menerimanya. Aku sudah melawannya berbulan-bulan, menggunakan logika yang paling masuk akal, mempertimbangkan banyak hal, tapi tetap saja aku kalah. Dia-yang-lain benar-benar tidak bisa dikendalikan. Maka bersamanya, aku melakukan banyak dosa besar — hal-hal yang kukutuk dan tidak akan kuterima sampai kapanpun. Aku merasa berdosa pada diriku sendiri.


Bersambung di bagian kedua.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.