Aku Mau Tahu Apa Ini Namanya

Ervina Lutfi
Jul 24, 2017 · 2 min read

Sejak dulu cita-citaku menulis. Tidak peduli aku jadi apa nantinya, aku akan menulis. Aku akan menulis, membaca, dan membacakan cerita. Aku akan mencari orang yang mau menuliskanku sesuatu untuk kubaca maupun membaca tulisanku — dan sesekali kami akan bertukar cerita; saling mendengarkan.

“Itu menurutku cita-cita yang absurd,” komentarnya.

“I know. Thanks!” Aku tertawa.

“Aneh kamu! Aneh!”

Dia mengutukiku setiap kali aku bicara tentang cita-citaku yang tidak pernah berubah dari dulu. Dan meski sambil mengutukiku, dia pun tetap ada di situ, di tempatnya seperti sediakala.


Suatu hari hujannya turun deras sekali. Aku membuat sketsa sambil khusyuk memandangi titik-titik air yang turun di kaca jendela. Dia menyeduh kopi.

“Kopi?”

“No. Kopi tidak sehat,” kataku.

“Dan fine soda lebih sehat. Okay then.”

Aku meringis. Biasanya jika begitu dia cuma akan mengacak-acak rambutku. Setelahnya dia duduk di sebelahku, membuka gawainya, scrolling timeline, mengomentari banyak hal di luar sana, padahal ada aku di sisinya.

Dia tidak mengajakku bicara, tidak menggubris semua yang kulakukan. Bahkan mungkin aku cuma bayangan di saat-saat demikian. Tapi dia ada di sana, di tempatnya seperti biasa.


“Has been many years.”

“We’re almost graduated. Eh. I mean you’re almost graduated. Congrats!”

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Apa?”

“Namanya?”

“Apa sih?”

“Aku tidak bisa menulis atau bercerita seperti kamu. Tapi aku mau tahu namanya.”

“Hah?”

“Apa ini namanya?”

Dan sama sepertinya, ternyata aku juga tidak tahu apa ini namanya. Kami sama-sama tidak tahu ini namanya apa.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade