Aku mendengar sepotong lagu Adhitia Sofyan dan ada sesuatu yang tertinggal di Jogja entah apa dan kenapa.

there’s something in Jogja. I don’t know what it is.

Seperti Adhitia, kurasa, aku juga memiliki pertautan sendiri dengan Jogja. Bedanya ia merasa Jakartanya kelam dan nyala lampunya berbeda usai seseorang meninggalkan kota yang konon lebih kejam dari ibu tiri itu. Jogja bagi Adhitia istimewa, tempat ia “pulang” meski itu “kotamu”.

Sementara aku?

Aku masih bertanya-tanya ada apa di Jogja. Apakah itu rindu yang membentuk atmosfernya? Atau ini hanya pikiran random di kepalaku saja?


Bagaimana seseorang menyusun rindu tanpa puing-puingnya ada terlebih dulu?

Sejak dulu aku ingin juga rindu, dengan jalanan di Jogja, dengan obrolan tentang ceritamu-ceritamu — yang tidak sepenuhnya kudengarkan, tapi aku mau saja.


Bagaimana sebuah kalimat bisa terbaca tanpa adanya spasi? Apakahharussepertiiniyangbisakitanikmati? Tidak, kan?

Ada sesuatu yang tertinggal di Jogja sejak dulu. Dan bagi orang-orang seperti kita mampu selalu menarik untuk “pulang” dan “jatuh cinta”.

Tapi aku jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Cinta tidak di sana letaknya.


Aku sudah menulis tentang “Patah di Bandung” dari sebuah fragmen tentang bando yang memilih tempatnya sendiri untuk patah dan diganti dengan yang baru — di Braga waktu itu.

Kata Tania, lebih baik aku beli bando penggantinya di Jogja, atau sekalian di Jakarta saja. Agar paling tidak, apapun yang tersisa dari Bandung tidak lagi merisak di kepala. Dan agar hanya ada Jogja dan Jakarta saja. Jakarta untuk melupakan, dan Jogja untuk selalu ingat dan “pulang”.

Lalu kembali jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Tidak ada cinta di sana.

Aku mendengarkan lagu Adhitia Sofyan dan aku lupa judulnya apa. Tapi katanya ia ingin “pulang” ke Jogja mencari jawaban atas pertanyaan yang suatu malam diutarakannya di Jakarta.

Bagiku aku cuma butuh rindu. Pergi lalu rindu. Dan jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Tidak ada cinta di sana.