Bagaimana Anak Psikologi Menilai Cinta?

Bagian termenarik dari EDS pada akhirnya berhenti di orang-orangnya..

love is like a light of a candle, it will burn itself

Bulan Maret ini mungkin akan menutup cerita #EDSlife yang selama ini kerap muncul di social media milik saya.

Pertama, secara resmi seharusnya program Innovative Academy yang saya ikuti sudah selesai sejak Demo Day sebelum saya KKN bulan Juni tahun lalu. Kemudian, karena alasan kebutuhan tempat untuk ngumpul — paling tidak di antara jeda kuliah, saya masih ada di sana. Lagipula, saya punya teman-teman yang suka sekali di sana — untuk hal apapun. Jadilah hampir tiap hari saya ke sana.

Kedua, saya memiliki hal lain yang harus dikerjakan di luar EDS.


Sehari sebelum akhirnya saya ke Jakarta, saya pamitan dengan teman-teman yang ada di sana. Kami sempat makan siang di daerah Sendowo, membicarakan teknisnya kalau harus kerja remote, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan urusan-urusan kami di sana. Awalnya, saya pikir urusan saya pada akhirnya mentok sampai di sana. Toh, sekembalinya saya ke Jogja, saya tidak tinggal lagi di Kalasan. Jadi, ya saya sebenarnya tidak terlalu butuh tempat singgah selama jeda-jeda kuliah seperti sebelumnya.

Tapi, relasi yang terjalin antara saya dan kebanyakan anak-anak di sana akhirnya memaksa saya untuk ke sana lagi — dan lagi.


Sekembalinya ke Jogja, saya membawa cukup banyak project sisa-sisa dari Jakarta. Dari yang memang harus saya kerjakan sendiri sampai yang harus saya berikan pada orang lain — karena saya ingin fokus lulus dan meraih S.Psi (amin). Jadilah mau tidak mau saya harus mencari orang. Dan, demi apapun itu bukan pekerjaan mudah.

Sebagai orang yang belajar HR di kampus, saya akhirnya menemukan masalah paling besar di dunia rekrutmen dan seleksi, yakni, tidak semua orang mampu memenuhi ekspektasi kita, sebagai employer, untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan. Meskipun mereka orang-orang pintar dengan IPK tinggi dan segudang prestasi, belum tentu dia benar-benar cocok dengan yang kita maksud.

Lalu, karena satu-satunya komunitas yang saya kenal sekarang tinggal EDS, ya sudah, akhirnya saya mencoba personally bicara ke mereka. Dan, beberapa tidak mengecewakan. Wkwk. Semoga mereka juga tidak kecewa menerima tawaran saya.


Bagian termenarik dari EDS memang cuma berhenti orang-orangnya. Saya ingat pertama kali belajar ngoding dulu adalah ketika di sana komunitasnya masih banyak dan ramai. Kami punya beberapa jadwal rutin seperti #SelasaKoding atau #KamisReview. Modelnya sebenarnya sharing session. Kamu habis baca apa, diceritakan kembali. Lalu, kita berdiskusi.

Kurang lebih saya menyukai model pertemanan seperti itu, karena membantu saya merawat kesehatan akal dan pikiran. Sejak di UKM Balairung dulu, saya suka berteman dengan orang-orang yang suka sekali mendebat — yang berujung pada diskusi panjang dan kadang-kadang tidak ada hasilnya. Hahaha. Tapi itu membantu logika saya jalan, dan bisa mikir yang paling penting.

Hampir sama dengan di Balairung, EDS sebenarnya juga berisi anak-anak yang suka sekali cangkeman. Bedanya hanya pada topiknya saja yang dibicarakan. Jika di Balairung kami lebih suka topik yang ndakik-ndakik, di EDS sepertinya lebih relevan untuk hal-hal yang lebih praktis, bicara ngoding misalnya, atau design sprint, atau apalah.

Namun, meski demikian, tetap saja ada satu atau dua sesi di mana kami memang benar-benar harus bicara hal yang receh. Topik cinta, misalnya.

Yang menyenangkan kemudian adalah kami bicara cinta pun pakai teori dan itu mau tidak mau membuat kami berpikir dan saling berbagi pengetahuan.

Ketika membuka diskusi ihwal ‘cinta’, saya hampir dibuatkan satu sesi tiap Kamis sore oleh trio sosial cangkeman (baca: saya, Rani, dan Clara) dengan dukungan penuh dari Dimas. Mungkin sesekali di tengah obrolan politik EDS, kita juga harus berbagi pengetahuan soal mengapa orang bisa jatuh cinta, mengapa orang bisa di-friend-zone, mengapa orang selingkuh, dan apakah menikah itu pilihan rasional untuk setiap orang yang ingin bahagia — ditinjau dari segi teoritis. Ingat, kami hanya anak sosial cangkeman yang berbusa-busa di teori, namun, nihil secara praktis.

Pelajaran soal cinta bagi anak psikologi membutuhkan satu semester sendiri dengan beban 2 SKS. Itupun di antara mata kuliah lain, kami tetep membicarakan cinta. Ya, cinta dalam konteks apapun. Dalam Psikologi Agama & Spiritualitas, kami bicara cinta dalam konteks ketuhanan. Lalu, di Psikologi Perkembangan, kami bicara cinta dalam konteks ibu dan anak. Kali lain dalam Psikologi Perkawinan, kami bicara cinta dalam konteks ‘aku’ dan ‘kamu’. Eh. Maksudnya cinta antarindividu. Lengkap dengan tumpukan jurnal-jurnal yang siap dibedah dan teori-teori yang ndakik-ndakik.


Ada satu buah teori yang sangat terkenal di kalangan anak psikologi, namanya Sternberg’s Triangular of Love Theory. Dalam teori ini, Sternberg menjelaskan bahwa yang namanya cinta itu ada tiga unsur; passion, intimacy, dan komitmen. Nah, bagi Sternberg, orang bisa saja memiliki cinta yang memenuhi unsur ketiganya. Namun, ada juga yang salah satu ataupun salah dua. Dan, pada masing-masing komponen yang dimiliki itu pada akhirnya menghasilkan sikap dan perilaku yang berbeda-beda.

“Kamu mau pacaran lama atau sebentar, yang namanya suami-istri pasti akan bosan pada masanya. Karena pernikahan itu bukan lagi soal orang jatuh cinta, namun komitmen.” — kata seseorang yang saya lupa dengar di mana.

Ketika membuka sesi diskusi dengan anak-anak EDS, seingat saya, kami bicara soal kisah cinta orang yang ditinggal nikah — yang pada saat itu sedang viral. Kok tega sih? Gimana bisa sih? Itu ceweknya nggak punya hati apa ya? Dan berbagai hal-hal lain yang pada akhirnya memicu kontroversi.

Terlepas dari apakah hal ini berhubungan dengan kisah cinta itu apa tidak, bagi saya itu hak masing-masing. Terserah. Saya sendiri pernah merasa kecewa dengan orang. Tapi, ya, udah.

Saya sampai di satu titik yang menyadari bahwa saya harus membedakan bahwa yang namanya relasi ‘pacaran’ itu bukanlah pernikahan — yang diikat dengan komitmen yang sah dan legal di mata hukum, sosial, maupun agama.

Pacaran tidak sama dengan menikah. Namun, banyak orang yang menganggap relasi pacaran itu sama halnya dengan menikah. Bedanya hanya seksnya tidak halal. Eh, bahkan yang sudah melakukan hubungan seks juga ada. Entahlah ini model relasi seperti apa. Memang absurd. Apalagi jika kita melihat pacarannya ABG. Yang harus ke mana-mana berdua, sedang apa saling mengabari, beliin makanan, dan lain sebagainya. Itu customer service, driver Go-Jek, atau sopir Uber?

Ya, entah.

Namun, bagi saya sendiri, kalaupun memang ada orang yang saya posisikan sebagai pacar, saya menganggap dia hanya kompetitor — untuk membuat saya lebih keren dan berprogress terus-menerus. Pun, dia juga sepertinya demikian. Jadi, jika kita sampai di suatu titik, di mana kita harus bubaran, ya udah. Nyesek ya ada. Tapi, sama sekali tidak ada yang dirugikan. Saya nggak kehilangan apa-apa. Pun dengan dia. Yang ada saya merasa harus berterima kasih, sebab, bersamanya, saya jadi lebih keren. Kalaupun pada akhirnya tidak dengannya, saya akan menemukan orang lain yang lebih baik, atau ditemukan oleh mereka yang lebih baik. Pun dengan dia. See? Tidak ada yang rugi, kan?

Ih, itu mah enak, belum ngapa-ngapain. Gimana kalau yang udah ciuman, atau bahkan having sex? Rugi dong.

Loh, ya salah siapa? Udah jelas-jelas pacaran tuh nggak ada legal-legalnya di mata sosial, hukum, dan agama. Kok ya mau, melakukan sesuatu yang nggak ada garansi/jaminannya? Kalau kamu menikah trus diselingkuhi, kamu bisa menuntut ke pengadilan, karena menikah ada undang-undangnya. Lah, pacaran? Nggak ada legal yang memayungi sama sekali. Kontrol sosial ya ada sih, tapi saya sanksi terhadap penerimaan sosial bagi orang yang memutuskan ciuman/having sex ketika masih pacaran. Sama sekali nggak ada yang menjamin. Orang beli handphone aja nyari garansi, masa hidupnya sendiri nggak digaransi?

Tapi, ya udah. Lagi-lagi itu balik ke pilihan masing-masing orang — yang didasari atas nilai-nilai yang dia anut. Jika, berbeda, ya udah. Nggak apa-apa.


Di satu sisi, dalam banyak hal saya beruntung selalu ada di antara orang-orang yang sangat ‘lurus’ dalam menilai relasi, termasuk soal cinta-cintaan ini. Mau ngomong sayang aja harus dipikir ini unsur yang mana yah, yang dominan? Sayang karena nafsu kah, karena kebiasa bareng kah, atau karena udah fix mau komitmen, makanya mau nggak mau harus sayang?

Namun, di sisi lain, saya mengakui ini membuat saya nyaris buta soal sesuatu yang bernama ketulusan.

“Bagaimanapun kamu harus membuka hati, Erv. Akan tiba saatnya orang menyayangi ini, beda dari hanya sekadar kita sayang biasa, karena kita teman baik yang saling support. Namun, sayang ini datang karena sesuatu yang lain, yang tidak bisa kita kendalikan, karena datangnya dari Tuhan dan tidak bisa dijelaskan alasannya. Ini namanya tulus.” — kata seorang teman yang bercita-cita jadi sufi, suatu hari di sela-sela obrolan makan siang.

“Oh ya? Menarik.”

Saya mengamini kata-kata teman saya dan berusaha mengapresiasinya dengan ungkapan menarik. Teman saya mungkin benar. Namun, bisa saja salah.

Sternberg menjelaskan ini namanya infatuation love. Bagaimana orang merasakan sesuatu yang berbeda, hanya karena desire dalam dirinya yang tidak bisa dikendalikan. Dan model cinta seperti ini biasanya tidak lama, karena hanya memenuhi unsur passion — tidak sampai di intimacy atau komitmen.

Dalam perspektif teman saya, dia pasti akan meleleh melihat bentuk ‘ketulusan’ seperti ini. Tapi, saya malah berpikir ini hanya soal Id yang gagal dikendalikan oleh Superego. Sampai sini saya menyesal tahu teori psikologi. Sekian.

but I still believe, someday I will find you