Dialog

Di pesawat yang delay kami bicara beberapa hal.

Aku lari-larian ke Terminal A mengejar waktu check-in yang tinggal beberapa menit lagi. Niwang mukanya asem. Tapi aku lebih kesel karena ternyata bawaanku jauh lebih banyak daripada dia.

Sesampainya di counter check-in, mas-masnya memberi tahu pesawatnya delay 28 menit.

“Tapi nyampenya tetep ya?” tanya Niwang.

“Ya mana bisa. Berangkatnya telat ya pastinya sampenya telat lah,” kataku.

“Kali aja ngebut di atas.”

“Bego ah.”

Penerbangan pertamaku dengan dia. Meski menyebalkan, pada akhirnya aku menyadari satu-satunya coworkerku di kantor cuma dia — kami bekerja di bawah orang yang sama. Jadi, sama-sama paham ‘asiknya’ kayak apa.

Usai acara lari-larian dan check-in yang diberitahu pesawatnya telat, kami masih menemui satu buah drama. Ada barang yang ditahan petugas bandara.

“Buset. Ngapain bawa gunting?” kataku.

“Kebawa itu sis.”

“Jadi, gimana? Kalau mau dibawa, masuk ke bagasi,” kata petugas bandara.

“Yakali nunggu bagasi cuma buat gunting.”

“Ya udah deh, tinggal aja, Pak.”

Kami ngopi dulu meski akhirnya aku ditinggal sendirian karena dia mau ngerokok di smoking area.

“Ke smoking area aja sis.”

“Gah. Mati aku, nggak jadi ke Jakarta kita,” kataku asal.

Boarding.

it kills me

Bau rokoknya nempel semua di baju, jaket, dan waktu dia ngomong. Tapi aku nggak punya pilihan lain karena dia duduk di sebelahku.

Kami mulai bicara hal-hal lain. Mulanya aku membuka pembicaraan tentang suatu hal dan lalu dia menanggapi dengan serius. Niwang sedikit beda kalau di luar kantor.

“Kamu umur berapa sih, Om? 30 ya?”

“Enak aja. 28 aku.”

“Dia seumuran?”

“Dia 25,” katanya lagi.

“Hmm menarik.”

Kami boarding tepat waktu sebenarnya, tapi seperti biasanya, Citilink akan delay ketika penumpang udah di pesawat. Selama menunggu keberangkatan, aku akhirnya banyak bicara dengan Niwang perihal apapun yang tidak pernah kami bicarakan di kantor.

“Meskipun 25 dia masih kayak anak kecil banget.”

“Lah kamu aja 28 masih kayak anak TK.”

“Ya aku kalo sama dia nggak kayak aku sama kalian lah. Gila po?”

“Emang harus beda, ya?”

“Ya iya. Kan dia spesial. Beda dong.”

“Hmm..” Aku manggut-manggut. Seatbelt sudah terpasang. Pun buku yang akan kubaca sudah kukeluarkan dari tas. Niwangnya sudah menarik jaket siap-siap tidur.

“Berarti, Om, jangan-jangan.. dia juga gitu ke kamu doang?”

“Gitu gimana?”

“Ya kayak anak kecil.. Mbaknya nggak keliatan kayak bayi kok.”

“Ya iya sih. Mungkin aja.”

Aku diam lagi.

“Kalo aku taruhan cuma sampai Jumat sih. Nggak bakal lebih,” katanya. Menyambung ke pembicaraan kami di awal.

“Et et et. Beda, Om, beda. Sorry kita beda.”

“Halah. Taruhan wes. Tak beliin kamu Starbucks kalau sampai lebih dari Jumat.”

“Eh beneran ya! Frappe. Awas kalo nggak.”

“Iya! Sampe Jumat pokoknya.”

“Nggak bakal!”

“Bakal! Aku yang cowok. Kamu tuh cewek. Wes lah, taruhan kita. Sampai Jumat.”

“Oke. Deal.”

Pesawatnya akan berangkat. Niwang menarik jaketnya. Tidur. Aku mulai membaca buku. Terbang ke Jakarta tuh kayak naik angkot. Dan cuma orang-orang kayak Niwang yang bisa tidur di angkot.